Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 49. Pengakuan Cinta


__ADS_3

****


Vina dan Galang berjalan bersama menuju kelas Enzo. Tangan Galang sejak tadi berada di pinggang Vina. Vina hanya diam meskipun rasanya malu.


"Nanti kalau ditanya guru atau pun orang-orang bilang aja kamu mamanya Enzo, ya."


Vina mengangguk dan tersenyum tipis. Galang mengusap puncak kepala Vina dengan lembut.


"Bagus, mas suka kamu yang nurut kaya gini," ujar Galang sembari mengusap rambut Vina dengan lembut.


"Kalau menurut aku, sih. Kalau di sekolah orang kaya itu biasanya kepo-nya pada diem-diem aja, Mas. Lagian juga pasti jarang ada peduli satu sama lain."


"Eits jangan salah kamu, Sekolahnya Enzo itu meskipun mahal, tingkat keingintahuan beberapa wali muridnya juga tinggi. Makanya mama yang selalu jemput. Kalau aku udah males berurusan sama ibu-ibu wartawan dadakan itu."


Vina terkekeh mendengar penuturan Galang, setibanya mereka di depan kelas Enzo. Bocah itu tampak terkejut di awal, tapi kemudian Enzo langsung berlari memeluk Vina.


"Mama.... " Vina dengan senang hati menyambut calon putranya. Dengan senyum lebar Vina mengangkat tubuh Enzo dan memeluknya.


"Uh, kangen banget," ujar Vina sambil menciumi pipi Enzo hingga bocah itu terkekeh kegelian.


"Mama, besok mama Vina aja, ya, yang ambil rapot aku?" Vina menoleh ke arah Galang, pria itu pun mengangguk. Vina kembali menatap Enzo dan mengangguk juga.


"Iya," jawab Vina. Enzo merasa sangat bahagia dia terus tertawa berada di gendongan Vina.


"Udah, turunin dia. Biar Enzo jalan sendiri."


"Ih, papa iri, ya?" Enzo menyipitkan matanya menatap sang papa penuh curiga.


Vina terkekeh melihat Galang salah tingkah. Ketiga orang itu lalu masuk ke dalam mobil dan perlahan meninggalkan tempat Enzo menuntut ilmu.


"Mama, apa mama mau setelah liburan nanti mama setiap hari menjemputku?"


"Tentu saja, Sayang. Jika mama tidak sibuk, mama akan jemput kamu."

__ADS_1


"Memang mama sibuk apa? mama mau ke kedai lagi, ya?" tanya Enzo kali ini tatapan bocah itu seperti sedang kesal. Vina tidak tahu kenapa, tapi ia akan coba tanyakan pada calon putranya itu.


"Kenapa? apa mama tidak boleh ke kedai?" tanya Vina sambil mengusap kepala Enzo. Bocah itu mengangguk dengan bibir mengerucut.


"Ada apa, Sayang? boleh mama tahu alasannya?"


"Aku engga mau mama ketemu nenek sihir itu lagi dan lalu dia memarahi mama lagi. Enzo benci nenek itu sudah membuat mama menangis," jawab Enzo dengan menggebu-gebu hingga nafasnya terdengar ngos-ngosan.


"Enzo, Sayang. Ada beberapa hal yang mama engga bisa mengatakan alasannya, tapi mama minta sama Enzo, jangan menyimpan dendam. Marah itu wajar, tapi setelah itu Enzo harus kembali menjadi orang baik. Jangan menyimpan dendam, itu akan menjadi penyakit hati yang mengganggu kesehatan."


"Tapi Enzo benci nenek itu," protes Enzo. Vina hanya tersenyum dan lalu mengusap puncak kepala Enzo. Galang hanya diam menjadi pendengar. Nanti ada saatnya dia berbicara dengan calon istrinya mengenai hal itu, tapi itu nanti saat mereka hanya berdua saja.


Galang menghentikan mobil yang dikendarai olehnya di depan kediamannya. Vina hanya diam saja saat dibawa ke sana. Sejak Galang melamar dirinya, Vina sudah beberapa kali diajak ke rumah itu.


Jujur saja berada di sana Vina juga merasa nyaman karena mama Laras sangat baik terhadapnya, tidak seperti mantan mertuanya dulu.


"Enzo, hari ini Enzo istirahat di rumah dulu, ya. Sebentar lagi 'kan kita akan ikut berlibur bersama semua keluarga mama. Jadi hari ini Enzo harus menjadi anak yang baik."


"Aku ikut turun nganter Enzo ke dalam, ya, Mas?"


"Hmm, ya. Engga apa-apa, kok. Lagian aku juga mau mengambil berkas untuk meeting nanti sore."


Vina menggandeng tangan Enzo masuk ke rumah Galang. Sedangkan Galang mengikuti mereka dari belakang.


Setelah mengucapkan salam dan bersalaman dengan Mama Laras, Vina kini duduk di ruang tamu bersama mama Laras. Keduanya asyik mengobrol sementara Enzo berganti baju di temani oleh suster yang biasa menemani Enzo kala bocah itu belum mengenal Vina.


"Besok rencana liburannya bagaimana?"


"Kata mas Galang, nanti kita nyusul, karena pas hari keberangkatan mas Galang masih ada kerjaan, tante."


"Kok masih tetep panggil tante, sih? panggilnya mama aja dong kaya Galang."


"I-iya, Mah." jawab Vina malu-malu.

__ADS_1


"Dek, ayo." Galang tiba-tiba muncul di gawang pintu. Vina pun segera berpamitan dengan mama Laras.


Di dalam mobil keduanya sama-sama diam, Vina memilih menatap jalanan karena tidak tahu harus berbicara apa.


"Vin." Galang sekilas menoleh ke arah Vina begitu juga sebaliknya.


"Ya, Mas."


"Kelak kalau kita menikah, kamu mau kita tinggal di mana?"


"Aku engga tau, Mas. Aku masih belum berpikir sampai ke sana."


"Kenapa? apa kamu berpikir aku hanya main-main?" tanya Galang, jujur saja mendengar jawaban Vina, ia agak sedikit kecewa. Ia berpikir jika Vina tidak serius dengan hubungan mereka sekarang.


"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku masih tidak menyangka akan berada dalam situasi dan kondisi seperti ini sekarang. Bohong jika aku bilang saat ini aku sudah mencintai kamu, Mas. Aku juga belum bisa menghapus dia seluruhnya dari hatiku. Aku takut kelak kita akan saling menyakiti."


Galang akhirnya memilih menepikan mobilnya di depan area pertokoan yang masih tutup karena belum ada yang menyewanya.


Galang melepas sabuk pengamannya dan memutar posisi duduknya menghadap ke arah Vina.


"Maaf jika aku terkesan buru-buru. Terus terang aku takut jika kamu akan di lamar oleh orang lain, Bukan aku tidak peduli akan perasaanmu, tapi ijinkan aku menghapus namanya dari hatimu dan menggantinya dengan namaku. Asalkan kamu mau menerimaku sebagai suamimu itu lebih dari cukup, Vin."


Vina menatap pegangan tangan Galang, Bukankah jika begini dia akan tampak egois, tidak memikirkan perasaan Galang.


"Tapi, Mas, aku ...." Vina melotot saat tiba-tiba Galang mencium bibirnya. Ciuman itu hanya sekedar menempelkan bibir, tapi hal itu berhasil membuat darah Vina berdesir dan jantungnya berdebar tidak karuan.


Saat ciuman Galang terurai, wajah Vina sudah sangat memerah. Galang tersenyum, ia lantas mengusap pipi Vina.


"Beri aku satu kesempatan dan satu kepercayaan. Aku benar-benar ingin kamu tahu, aku mencintai kamu tulus apa adanya."


Vina mengangguk, Galang lantas tersenyum lebar hingga mata sipitnya hanya menyisakan bulu mata yang hitam dan lentik.


"Terima kasih, Mas. Tanpa kehadiran mas dan Enzo, mungkin sekarang aku masih meratapi nasibku."

__ADS_1


__ADS_2