
****
Pukul 5 sore, Galang tiba di kediaman Adiatirta. Namun, suasananya terasa sepi. Saat Galang mengetuk pintu, Bik Sumi lah yang membukakannya.
"Silahkan masuk, Den," kata bik Sumi. Galang pun tersenyum tipis dan lalu langsung berbelok ke ruang tamu. Galang duduk di sana meskipun tak ada satu pun orang yang menyambutnya, kecuali bik Sumi yang kini ikut menghilang.
Vina langsung turun setelah diberitahu jika Galang datang, Sebagai tuan rumah, tak pantas jika membiarkan tamunya menunggu begitu lama. Vina langsung menemui pria itu.
"Maaf, ya. Tadi aku lupa memberitahu. Enzo diajak pergi oleh kak Fauzi dan keluarganya, ada kak Rita juga sama Kendra dan Kemala. Kayaknya Enzo mulai cocok sama Kemala dan Davin," ujar Vina panjang lebar.
"Kamu ternyata bisa cerewet juga, ya?" kata Galang dengan senyum lebar. Senyum yang sama sekali belum pernah Vina lihat selama ia kenal dengan Galang. Wajah Vina langsung bersemu merah. Di saat yang bersamaan Fahri masuk dengan bersama seorang pria dengan dandanan necis dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Eh, ada tamu rupanya?" kata Fahri sedikit terkejut. Pasalnya dia ingin bicara dengan Vina mengenai perceraiannya, tapi rasanya kurang etis membicarakan hal ini di depan tamu dan untuk mengusir pun rasanya tidak sopan.
Galang yang paham akan situasi segera berdiri. "Kalau begitu aku pulang dulu, nanti kalau Enzo sudah pulang tolong kabari aku. Jangan sampai dia merepotkan di sini."
"Eh, jangan. Tunggu saja dulu. Palingan sebentar lagi sudah pulang," ujar Vina. Fahri setengah mengomel dalam hati, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kak Fahri ngomong aja, aku tahu, kok, kalau udah sama pak Lukman pasti mau ngomongin sidang kan?"
"Iya, nona. Saya ingin mengajukan pertanyaan tentang tuntutan anda pada saudara Pras?"
"Tidak ada, bilang padanya untuk segera tanda tangan saja dan jangan pernah satu pun anggota keluarganya datang lagi untuk menggangguku."
"Hanya itu?" tanya Fahri penasaran.
"Memang apa lagi, Kak?"
"Kakak akan tuntut ibunya tentang perbuatan tidak menyenangkan di depan publik dan juga pencemaran nama baik kamu."
__ADS_1
"Harus, ya?"
"Sudah tentu harus, biar mereka jera dan tidak mengulanginya lagi," sahut Galang. Fahri pun mengangguk setuju.
"Tapi, Kak ...." Vina masih ragu untuk mengiyakan ucapan kakaknya. Bagaimana jika setelah itu keluarga mereka akan semakin mengganggunya?"
"Biar kakak yang urus masalah ini, kamu cukup diam di rumah dan tanda tangani itu. Mungkin seminggu lagi sidang putusan."
"Kok, cepat?"
"Kenapa memangnya? kamu mau yang lama?" tanya Fahri dengan nada meninggi. Lama-lama gemas juga meladeni adiknya yang terlalu polos dalam beberapa hal. Sehingga Fahri harus selalu menyiapkan jawaban-jawaban untuk pertanyaan Vina.
"Ish, ngegas aja. Maksud aku biasanya kan butuh waktu ga sebentar. Kakak nyogok, ya?"
"Udah, kamu engga usah mikirin itu. Besok kamu ikut kak Rita ke dokter buat cek up kesehatan kamu."
"Aku sehat dan baik-baik saja, Kak."
"Kalau apa yang dikata mereka benar bagaimana?" tanya Vina wajahnya berubah murung. Hatinya begitu sakit dikata mandul. Padahal mungkin saja Vina sulit hamil karena tekanan dari ibu Pras.
"Apapun nanti hasilnya, kamu itu tetap adikku. Aku akan mencarikan kamu jodoh yang bisa menerimamu apa adanya. Baik, buruknya kamu, dia mau menerima," kata Fahri. Ia pun sebenarnya tak tega melihat kesedihan menggelayut di wajah adiknya. Dia ingin adiknya itu selalu bahagia. Vina hanya diam saja tak menjawab ucapan kakaknya.
Galang bisa merasakan kehangatan keluarga itu, bagaimana cara Fahri memperlakukan Vina. Juga bagaimana Vina sangat menghormati setiap keputusan kakaknya. Hal itu semua tak luput dari pengamatan Galang. Tak lama riuh suara anak-anak terdengar. Davin dan Enzo berlari sambil tertawa. Kemala asyik menenteng kantong belanjaannya. Begitu juga dengan Safira, gadis itu terlihat senang memeluk boneka Barbie barunya.
"Mama ...." Enzo langsung menghambut ke pangkuan Vina. Bocah itu memeluk Perut Vina dengan perasaan bahagia. Ini kali pertama bagi Enzo diajak berbelanja dengan banyak kerabat yang seusia dirinya. Enzo sangat senang, ia merasa sangat berterimakasih dipertemukan dengan keluarga yang sebaik keluarga mama Vina.
"Enzo, senang," ujar bocah itu sambil menatap wajah Vina. "Terima kasih, Mama. Kalau bukan karena mama, Enzo engga akan punya pengalaman yang sangat indah ini."
"Lain kali, nanti kita pergi sama-sama sekeluarga besar," kata Vina. Enzo melirik papanya sekilas lalu ia kembali memandang Vina.
__ADS_1
"Papa juga diajak?" tanya Enzo. Vina sesaat melirik Galang yang kebetulan sedang menatapnya. Vina segera menunduk mengalihkan pandangannya.
"Ehm, tentu saja, diajak," jawab Kendra. "Nanti kan aku dan Kemala sama mama dan papa, terus Davin dan adiknya juga sama mama, papanya. Ya, kalau begitu Enzo juga dong, harus sama mama dan papanya," ujar Kendra. Semua terdiam, terlebih Vina, gadis itu masih terus menunduk dan memainkan rambut Enzo yang ikal.
"Iya kan, Ma, Pa?" tanya Kendra memastikan pada kedua orangtuanya.
"Iya, nanti semua diajak," jawab Rita sambil tersenyum pada putranya.
"Tapi, memangnya tante itu istrinya om Galang ya sekarang, Ma?" tanya Kendra lagi.
Semua orang dewasa di ruangan itu terdiam. Galang melirik ke arah Vina yang semakin menunduk tak berani menatap ke arah siapapun.
"Memangnya Ken mau punya om, kaya om ini?" tanya Galang. Krn pun mengangguk antusias. Sementara itu Rita dan suaminya saling berpandangan begitu juga dengan Fauzi dan Hani. Para ipar Vina tersenyum mendengar hal itu.
"Om, boleh kok jadi suaminya tante Vina. Asalkan om bisa janji engga akan buat tante Vina menangis."
"Ok, deal, ya!" seru Galang. Ken menoleh ke arah papanya dan kemudian mengangguk mantap. Vina hanya diam, ia merasa kehadirannya tak di anggap oleh Galang dan keponakannya.
"Dek Vina gimana? mau jadi istri saya?" tanya Galang tiba-tiba. Apa ini sebuah lamaran? bahkan akte cerainya saja belum keluar. Bagaimana bisa menerima lamaran dari pria itu.
"Apa ini sebuah lamaran?"
"Ya, aku hanya memastikan dulu. Jika kamu mau mengenalku lebih jauh, nanti aku akan melamar kamu selesai kamu menjalani masa iddah-mu dulu."
"Ayo, tante. Biar nanti kita terus bisa sama-sama dengan Enzo." Ken sepertinya begitu antusias menjodohkan dirinya dan Galang. Namun, untuk berkata iya rasanya sulit bagi Vina. karena dia masih memiliki ketakutan tentang kondisinya yang dikata mandul oleh mertuanya.
"Gimana, Vin?" tanya Fahri, ia merasa Galang memiliki perhatian lebih pada adiknya itu.
"Harus sekarang, ya, jawabnya?" tanya Vina dengan wajah yang memerah. Ia malu jika mengatakan langsung di hadapan semua anggota keluarganya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...