Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 35. Aku Tidak Kenal


__ADS_3

****


Setibanya di rumah Vina langsung merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya. Entah karena iba atau memang sudah tumbuh rasa sayang di hati Vina untuk Enzo, dia terus kepikiran dengan bocah itu. Tak lama Vina sudah terlelap tanpa berganti baju.


"Vin, oleh-olehnya ma... na... ?" suara Rita terjeda saat melihat Vina terlelap dengan posisi kaki menjuntai ke bawah. Rita geleng kepala dengan kelakuan adik iparnya yang terkadang masih kekanak-kanakan.


"Kok berhenti, Mbak?" tanya Hani, istri Fauzy.


"Tidur dia. Pasti capek," kata Rita sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir.


Hani mengangguk-angguk sambil menutup mulutnya. Keduanya akhirnya berlalu meninggalkan kamar Vina.


"Aku kok lihatnya kasihan, ya, Mbak."


"Sama. Aku juga. Usia pernikahannya dan usia Vina masih sangat muda, tapi ujiannya cukup berat. Kita beruntung tidak menghadapi mertua dan suami seperti mereka," kata Rita.


"Kalau pun mertua kita masih hidup, rasa-rasanya juga engga akan mungkin menindas kita sama seperti mertua Vina," timpal Hani.


Keduanya mengangguk-angguk bersamaan. Kendra yang baru pulang sekolah, memicing heran menatap mama dan tantenya. Dia pun mendekat dan menepuk bahu mamanya.


"Mama kenapa, sih?"


"Engga apa-apa sayang. Tante Vina udah pulang tapi lagi tidur, sepertinya capek banget."


"Ya, udah, nanti Ken bakalan ke kamar tante Vina, tapi sekarang aku mau ngerjain PR dulu."


"Ya, Sayang, belajar yang rajin, ya. Ingat! kalau mau jadi pilot harus pintar."


"Iya, beres, Mah." Kendra akhirnya meninggalkan mama dan juga tantenya menuju ruang tamu. Sementara ini mereka semua tinggal satu atap demi menjadi support sistem untuk Vina.


pukul 2 siang, Vina terbangun karena merasa lapar. Sejak pagi tadi perutnya hanya terisi sandwich saat sarapan bersama Enzo. Namun tenaganya sudah terkuras untuk menggendong bocah itu tadi.


Vina masuk ke kamar mandi, ia memutuskan untuk membersihkan dirinya sebelum turun ke bawah. Dia juga belum sempat membagi oleh-oleh yang dia bawa dari kota Jogja.


Seusai mandi, Vina segera turun ke bawah. Dia mencari-cari keberadaan kedua kakak iparnya. "Perlu sesuatu, Non?" tanya seorang wanita paruh baya seusia bu Risma.

__ADS_1


"Anda?"


"Oh perkenalkan, nama saya bik Sumi. Mulai hari ini saya yang akan menyiapkan makan untuk non sekeluarga."


"Bik Sumi ini juru masak di rumah kita, Tante." Kendra tiba-tiba muncul dan berdiri di sebelah Vina.


"Nah terus, nanti kalau Kendra pulang ke rumah Kendra, bik Sumi juga diajak balik lagi?"


"Kayaknya sih engga. Kata mama, besok semua pekerja untuk rumah tante mulai didatangkan sama papa."


"Memang berapa orang?" tanya Vina dengan alis mengernyit.


"Emb... sekitar 5 orang." Kini Rita ikut menimpali jawaban putranya. Dia baru saja keluar dari kamar dan melihat Kendra berdiri di depan ruang makan.


"Banyak banget, mbak."


"Engga apa-apa yang bayar juga kamu," ujar Rita terkekeh.


"Eh, maksudnya gimana?"


"Pekerja itu yang bayar kamu, pake uang saham yang engga pernah kamu pakai dan kamu minta."


"Bik aku mau makan dong. Tadi supir kakak ada nurunin kaya besek gitu engga?"


"Iya, Non. Isinya Gudeg itu kan, ya?"


"Hooh, Bik. Tolong siapin buat aku, ya." Vina sejenak menoleh ke arah Kendra. "Kamu udah makan, Ken?"


"Belum," jawab Kendra sambil menggeleng.


"Ya udah, Bik. Siapin di meja makan aja, ya, semuanya. Siapa tahu kak Rita juga pengen nyicip."


"Eh, Vin, nanti temani kakak ke salon, ya. Kakak mau perawatan."


"Aku juga mau, tapi bayarin, ya." Vina nyengir pada kakak iparnya. Rita mendengus tapi tak urung tertawa melihat adik iparnya sudah biasa saja.

__ADS_1


Selesai makan, Vina dan Rita ke Salon langganan mereka. Hani tidak ikut karena sedang ada rapat komite di sekolah Davin. Salon yang dimasuki kak Rita adalah salon elite. Biaya perawatan komplit di sana setara dengan harga sebuah motor keluaran terbaru.


Rita memesan perawatan komplit untuk dirinya dan juga adik iparnya. Saat Rita dan Vina sedang asyik membaca majalah, tiba-tiba keduanya dibuat melongo dengan ulah salah satu pelanggan yang sedang memohon-mohon di depan meja kasir.


"Tolong lah, Mbak. Saya bukannya engga mau bayar, tapi memang dompet saya ketinggalan."


"Maaf, Mbak, ini kebijaksanaan salon ini. Jika anda tidak bisa membayar, kami terpaksa menyerahkan anda pada pihak yang berwajib."


"Jangan gitu dong, Mbak."


Vina menyipitkan matanya, dia kenal dengan wanita yang sedang memohon itu. Wanita itu adalah wanita yang tak lain adalah wanita yang kemarin berniat mempermalukan dirinya di hotel milik kakaknya.


"Itu, kan?" Rita menunjuk ke depan meja kasir. Vina mengangguk dan matanya kembali menatap ke arah mantan iparnya. Rita terkekeh melihat mantan ipar Vina itu. Bagaimana tidak? wanita itu begitu congkak masuk ke salon elit itu, tapi kini dia terlihat merana setelah melakukan perawatan di sana yang memang tidak murah.


"Mau bantu, atau mau memberikan pertunjukan?"


"Maksudnya?" alis Vina bertaut tapi kemudian ia paham setelah kakak iparnya mengeluarkan kartu saktinya."


"Pergilah ke sana dan bayar perawatan kita. Dia pasti akan menjilat kakimu seperti seekor anji*ng."


Vina pun bangkit dari duduknya dan mendatangi meja kasir. Kasir itu tersenyum ramah pada Vina meskipun saat itu ia juga sedang memasang raut kesal pada Asya.


"Sudah, Mbak, sebaiknya mbak urus saja urusannya di kantor polisi. Saya mau mengurus pelanggan yang mau bayar. Engga punya uang kok bergaya datang ke salon."


Asya masih terus memohon, namun mungkin karena malu dia sedikit melirik ke arah Vina. Matanya langsung terbelalak kaget.


"Vina, kamu di sini? ujar Asya dengan wajah berbinar apalagi Vina memegang kartu member dan kartu black card.


"Mbak, dia ini adik ipar saya," lanjut Asya. Dia menyentuh lengan Vina dan tersenyum.


"Vin, tolongin aku. Bantu aku bayarin dulu tagihanku, ya." Vina melirik sekilas ke arah tangannya yang di sentuh oleh Asya.


"Mbaknya kenal?" tanya si Kasir tadi. Vina menoleh sesaat, ia langsung menghentak tangan Asya hingga terlepas dari lengannya.


"Aku tidak kenal, Mbak," jawab Vina. Ia lalu menyerahkan kartu member dan black card yang dia pegang pada kasir itu. Kasir itu menghubungi pihak keamanan. Asya menatap Vina dengan tatapan kebencian.

__ADS_1


"Keterlaluan kamu, Vin. Mentang-mentang sekarang jadi simpanan pria kaya, kamu tidak mau mengakui siapa aku." Vina tetap diam tak ingin menggubris ucapan Asya. Dia sebenarnya bisa saja membayari tagihan Asya, tapi mengingat bagaimana sikap wanita itu kemarin, Vina akhirnya memilih membiarkan wanita itu menanggung malu karena ulahnya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2