Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 64. Kelahiran Twins baby


__ADS_3

Selama dalam perjalanan, Galang yang biasanya mengajak bicara Vina, kini diam seribu bahasa. Vina sesekali melirik suaminya lewat ekor matanya. Namun, sepertinya Galang marah kepadanya.


Entah mengapa Vina merasa sedih Galang mengabaikan dirinya. Air mata Vina menetes begitu saja. Faktor kehamilan membuatnya sering overthinking dan mudah terbawa perasaan. Galang langsung menoleh kaget saat mendengar suara isakkan tangis istrinya.


"Kamu kok nangis, Sayang?"


"Engga apa-apa, Mas," kata Vina sembari mengusap air matanya. Galang pikir Vina masih kepikiran soal mantan suaminya. Dia hanya mendengus mendengar jawaban Vina.


Vina semakin terisak. Namun, beberapa saat kemudian, isak tangisnya berubah menjadi desisan. Vina membungkuk memegangi perutnya.


"Kamu kenapa?" Galang menepikan mobilnya dan langsung melepas sabuk pengamannya. Pria itu terlihat panik saat Vina tidak menyahuti dirinya.


"Vin kamu kenapa?" Vina masih terus menunduk. punggung dan perut bawahnya terasa sakit sekali. Dia bahkan menggigit bibir bawahnya sampai berdarah.


"Vin," Galang setengah putus asa karena Vina tidak juga menjawabnya. Akhirnya pria itu mengambil inisiatif untuk membawa Vina ke rumah sakit. Dia kembali memakai sabuk pengaman dan mengemudikan mobilnya dengan cepat. Tak peduli jalanan rame sore itu, yang ada dipikiran Galang, istrinya sedang tidak baik-baik saja.


Vina sesaat menegakkan duduknya sembari mengatur napas, tapi tak lama rasa sakit kembali menderanya. Dia hanya bisa mendesis dan mencengkeram tepian jok yang dia duduki. Keduanya sama-sama berkutat dengan pikiran masing-masing. Vina masih berpikir Galang marah padanya, sedang Galang pikir Vina seperti ini karena bertemu dengan Pras tadi.


Setibanya di rumah sakit. Galang meminta bantuan Satpam untuk memanggil tenaga medis. Dua orang perawat pria datang dengan mendorong sebuah bed.

__ADS_1


Galang membuka pintu mobil Vina dan membantunya melepas sabuk pengaman Vina. Vina tak langsung bereaksi karena ia merasa sangat mual. Vina akhirnya muntah dan mengenai baju Galang yang hendak mengangkat tubuhnya.


Galang mundur saat dia justru malah menerima muntahan Vina. Dia melepaskan kemejanya dan meletakkannya asal di atas kapal mobil. Galang mengangkat tubuh Vina dan menidurkannya di brankar.


Dua perawat pria itu langsung mendorong brankar Vina masuk ke ruang IGD. Galang hanya memakai kaos putih, di bagian perutnya basah karena muntahan Vina tembus. Galang merogoh ponselnya dan menghubungi kakak-kakak Vina.


"Halo, Mas. Ini aku di rumah sakit Fatma, Vina sepertinya mau melahirkan."


"Pak, anda diminta dokter untuk masuk."


Salah seorang perawat laki-laki tadi memanggil Galang. Galang segera masuk mengikuti perawat tadi.


"Iya, dokter. Ada apa dengan istri saya?"


"Ikut saya, Dia sudah ada di ruangan VK Pembukaannya sudah hampir sempurna."


Galang mengikuti kemana pun dokter itu melangkah. Dia dipakaikan jubah steril sebelum memasuki ruang VK (verlos kamer) atau orang lebih sering menyebutnya ruang bersalin.


Di sana Vina tergolek lemah dengan tubuh posisi miring ke kiri menghadap ke arah pintu. Galang segera mendekati Vina dan mengusap kening Vina yang berkeringat.

__ADS_1


"Mas, maaf."


"Maaf untuk apa?"


"Untuk semuanya. Aku minta maaf, kalau sampai aku kenapa-kenapa. Aku titip mereka ya."


"Hei, kamu tidak boleh ngomong, begitu. Kita akan besarkan mereka sama-sama."


Dokter perempuan yang tadi memanggil Galang meminta Vina kembali posisi terlentang. Vina menekuk lututnya. Dokter kembali mengecek pembukaannya.


"Sudah pembukaan sempurna. Ikuti aba-aba saya, ya Bu Vina. Saya yakin bu Vina kuat." Galang langsung menggenggam jemari Vina. Dengan posisi setengah duduk Vina mulai mengejan mengikuti instruksi dokter dan tak lama terdengar suara tangisan bayi.


Vina merasa sudah sangat lelah. Namun, masih ada satu bayi lagi yang harus dia keluarkan. Setelah dokter mengeluarkan plasenta bayi pertama, Vina diminta bersiap untuk kembali mengejan. Proses bayi kedua cukup lama Vina benar-benar kehabisan tenaga. Dokter sampai harus memotong perineum Vina untuk memudahkan bayi Vina keluar. Karena ternyata bayi kedua letaknya sungsang. Namun, dengan ketangkasan dan penangganan yang tepat akhirnya bayi kedua Vina berhasil keluar. Suara tangisannya lebih nyaring dari bayi pertama.


Vina memejamkan matanya. Akan tetapi dokter tiba-tiba terkejut saat darah mengalir deras dari jalan lahir bayi Vina. Wajah Galang langsung memucat. Apalagi dia baru sadar Vina telah memejamkan matanya.


"Vina, bangun. Vin aku mohon bangunlah. Anak-anak kita membutuhkan kamu, aku dan Enzo juga masih perlu kamu. Vin ... "


...****************...

__ADS_1


__ADS_2