Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 24. Dendam Yang Semakin Mengakar


__ADS_3

*****


Di sebuah ruangan Direktur Pelaksana, Asya masih tampak bersikap angkuh. Ia begitu arogan, merasa jabatannya bisa menjamin semua akan baik-baik saja. Dia bahkan masih sempat berkirim pesan lewat aplikasi hijau pada kakak iparnya. Dia bahkan juga mengirim foto yang tadi sempat diambilnya sebelum dia menyapa mantan iparnya itu.


"Nona Asya Eka Saputri, apa anda tahu kenapa anda dikirim kemari oleh pusat?" tanya seorang pria paruh baya yang baru saja tiba di ruangannya. Pria tambun berusia 50 tahun itu bermata lebar dan berhidung mancung khas campuran timur tengah.


"Ya, karena saya karyawan teladan."


"Lalu, saya jadi penasaran. Kenapa karyawan teladan seperti anda, tidak bisa menjaga attitude anda di depan sekian banyaknya tamu yang sedang menikmati paginya di hotel ini?"


"Maafkan saya Mr. Umar."


"Anda salah jika meminta maaf kepada saya. Seharusnya anda mengucapkan hal itu tadi pada tamu yang anda maki. Di sini saya yang seharusnya minta maaf pada anda, sekarang. Karena dengan insiden yang ada lakukan tanpa berpikir panjang itu, terpaksa saya harus menyampaikan kabar tidak mengenakkan ini," kata Mr Umar sembari menarik nafas panjang. Asya seketika pucat pasi melihat wajah tegang Mr. Umar.


"Ma-maksud Mr. Umar apa?"


"Dengan sangat tidak mengurangi rasa hormat, mulai per hari ini anda akan diberi dua pilihan, dipecat secara tidak hormat atau anda mengundurkan diri dengan suka rela."


"A-apa?" Mata Asya langsung melebar, tangannya mendadak gemetaran. "Apa kesalahan saya tidak bisa diperbaiki, Mr. Umar?"


"Bukan saya yang membuat peraturan di hotel ini, saya hanya seorang Direktur Pelaksana, saya hanya melaksanakan perintah dari pemilik hotel ini. Insiden pagi ini telah sampai ke telinga beliau. Saya harap Nona Asya bisa segera mengambil keputusan. Sudah baik tamu yang tadi anda maki tidak melaporkan ada ke polisi karena perbuatan tak menyenangkan di muka publik. Anda tahu kan masalah ini bisa saja dipidanakan? Dan kami selaku pihak hotel tidak mau ambil resiko."

__ADS_1


"Tolong beri saya kesempatan lagi, Mr. Umar. Saya akan meminta maaf pada tamu tadi."


"Sekali lagi, bukan saya yang mengambil keputusan tapi saya hanya menjalankan perintah dari pemilik hotel ini."


"Saya tunggu keputusan anda sampai siang ini pukul sebelas," ujar Mr. Umar. Ini keputusan final dari atasan pemilik hotel ini. Entah dari mana berita ini bisa langsung sampai ke telinganya. Mr. Umar pun merasa bingung.


"Sialaan ... semua ini gara-gara kamu, Vina," maki Asya dalam hati.


Asya keluar dari ruang Direktur itu dengan wajah masam. Tidak ada lagi yang bisa dia banggakan, tapi dia bisa balas dendam pada Vina. Ya, dia akan membalas semua penghinaan yang hari ini dia terima.


Beberapa rekan yang mengenal Asya, menatap wanita itu prihatin, tapi mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Mereka takut untuk mendekati wanita itu. Mereka tidak mau jabatan mereka terancam hanya gara-gara masalah yang mereka tidak tahu sebabnya.


Dengan menahan malu, Asya melewati beberapa rekannya. Matanya terpejam sesaat, tangannya terkepal kuat. Dendam tanpa alasannya semakin mengakar kuat di hati perempuan itu.


Sementara itu, Vina tampak menikmati jalan-jalannya tanpa Fadil di sampingnya. Dia asik menoleh ke kiri dan ke kanan persis seperti seorang bocah yang baru lepas dari pengawasan orangtuanya. Vina menghampiri sebuah stan yang menjual minuman Dawet. Penjualnya seorang nenek-nenek dengan busana yang masih tradisonal, Vina terlihat terkagum-kagum melihat hal itu. Beberapa kali dia mengambil foto nenek itu. Vina memesan semangkuk es dawet yang menggugah selera itu dan duduk menikmatinya. Senyumnya sejak tadi tak pernah surut begitu menyaksikan sendiri keramahan para penjual yang rata-rata banyak yang sepuh alias tua.


Vina kembali melanjutkan jalan-jalannya sebelum nanti bertemu dengan kedua sahabat baiknya. Saat akan berbelok masuk tiba-tiba seorang anak kecil menabrak kaki Vina hingga bocah itu terpental jatuh dengan posisi duduk.


"Aww, sakit," Pekik anak itu. Bocah laki-laki yang usianya mungkin sekitar 4 atau 5 tahun. Vina langsung berjongkok membantu bocah itu berdiri.


"Kamu, baik-baik saja, kan? mana yang sakit?" tanya Vina cemas.

__ADS_1


Bocah itu mengangkat wajahnya dan tersenyum manis pada Vina. "Hehehe ... aku baik-baik saja, kok, Kak. Kakak sendirian?" tanya bocah itu meringis pada Vina. Vina mengusap wajah anak itu dengan lembut.


"Iya, kakak sedang jalan-jalan sendirian. Kamu sama siapa? kenapa sendirian kemari?"


"Enzo, kamu tidak apa-apa?" Seorang pria mendekati bocah tadi dan Vina. Bocah yang baru diketahui bernama Enzo itu pun kini justru malah bersembunyi di balik kaki Vina.


"Enzo engga mau ikut papa. Enzo mau sama nini." Bocah itu mengutarakan protesnya pada pria yang Vina duga adalah papa dari bocah itu.


"Eh, Enzo. Anak baik itu harus patuh sama orang tua. Kalau mau nini sayang sama Enzo, Enzo harus nurut papa, ya," kata Vina ikut membujuk bocah tampan bermata sipit dan berkulit putih itu. Bocah itu wajahnya mirip sekali seperti pria di depan Vina ini. Hanya saja rambut bocah itu ikal sedangkan pria itu rambutnya lurus dan tersisir rapi ke belakang.


Bocah bernama Enzo itu pun mendongak menatap Vina. "Kakak, mau temani Enzo ke tempat nini?"


Vina menggaruk pelipisnya sambil meringis bingung, sedang pria yang ada di hadapan Vina kini tersenyum canggung melihat kenakalan putranya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Oke guys, jangan lupa like dan komennya ya. Eh, hari ini aku bawa karya rekomendasi dari teman literasiku lagi, lho.


Nama penulis : Zafa


judul karya : Putri Cantik Milik Tuan Reymond

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. Ingat! pembaca yang bijak harus meninggalkan jejak. (Like, komen dan Vote karya ini)



__ADS_2