Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 25. Enzo


__ADS_3

*****


"Enzo, jangan nakal," ujar pria bermata sipit itu dengan tegas.


"Maaf, Pak. Kalau saya lancang. Biar saya temani Enzo sampai ke nininya," kata Vina. Pria bermata sipit itu seperti tersentak kaget mendengar panggilan Vina padanya.


"Pak?" beo pria itu dengan wajah terperangah.


"Iya, Pak. Apa ada yang salah?"


"Apa wajah saya setua itu?" tanya pria itu sambil mengusap rahangnya. Fadil dari kejauhan masih terus mengawasi adik majikannya itu. Dia mengernyit heran melihat Vina bercakap-cakap dengan seorang pria.


"Hmm, gimana ya? saya mau panggil anda, Mas, tapi takutnya ga sopan. Kita kan tidak sedekat itu."


"Kakak cantik, jangan ngobrol sama papa. Katanya tadi mau temani Enzo ke tempat nini," ujar Enzo sambil menarik-narik ujung kaos Vina.


"Enzo...!" Suara pria itu meninggi, namun reflek yang Vina tunjukkan tak terduga. Gadis itu menarik tangan Enzo dan menyembunyikan Enzo di balik badannya.


"Maaf kalau saya ikut campur, tapi tidak sepantasnya anda membentak putra anda sendiri. Apalagi ini di ruang publik."


Setelah berucap demikian pada papanya Enzo, Vina kembali berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Enzo. Dia tersenyum sambil mengusap kepala bocah itu. "Nini Enzo dimana? biar kakak antar."


"Nini Enzo jualan es di sana." Vina menoleh ke arah nenek pedangan es dawet. Dia lalu memandang Enzo dan juga papanya. Vina tahu semua, baju dan sepatu bocah itu saja harganya jutaan rupiah, apalagi outfit yang dikenakan pria yang ada di sampingnya itu. Sudah pasti harganya mencapai puluhan bahkan ratusan juta.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo kakak antar kamu ke sana." Vina mengandeng tangan Enzo. Enzo sempat menoleh ke belakang dan menjulurkan lidahnya pada papanya. Pria bermata sipit itu tersenyum tipis melihat putranya tersenyum setelah mengandeng wanita itu.


"Lho, Enzo, kok nyusul nini kemari?" tanya nenek penjual es Dawet yang tadi sempat berbincang-bincang dengan Vina sebentar.


"Kata oma, nini suruh pulang. Biar mbak Asih aja yang jualan. Enzo kan ke Jogja karena kangen nini, tapi malah nini ninggalin Enzo jualan," kata Enzo dengan bibir mengerucut ke depan.


"Iya, iya, kalau gitu hari ini mbak Asih saja yang jualan, nini temani Enzo. Eh, tapi ngomong-ngomong ini siapa, Zo?"


"Ini, kakak ...." Enzo tampak berpikir lalu menengadah menatap Vina. "Kakak siapa namanya?"


"Nama kakak, kak Vina."


"Nah, ini kak Vina. Dia temen Enzo, nini."


"Ini teman kamu 'kan, Lang?"


"Galang, ga kenal, Nek," jawab pria itu singkat.


"Lho, jadi bener temannya Enzo?" nenek itu menatap bingung ke arah Vina.


"Iya, Nek. Saya temannya Enzo yang baru saja berkenalan di ujung belokan situ," tutur Vina dengan bahasa yang lemah lembut.


"Oalah, saya kira kamu itu pacar Galang yang mau dikenalin sama nenek." wanita tua itu tersenyum sambil mengerling jahil pada cucunya.

__ADS_1


"Bukan, Nek," sahut Vina cepat.


"Enzo, kakak mau lanjut ke sana, ya. Kakak sudah penuhi janji kakak untuk menemani Enzo ketemu nini. Sekarang kakak pamit, ya."


"Kakak ga mau ikut kita main ke rumah nini? rumah nini bagus lho," ujar Enzo sambil menahan ujung kaos Vina lagi.


"Enzo, biarkan kakaknya pergi," ujar pria bernama Galang itu dengan tegas. Enzo mengerucutkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca. Vina mendesah dan lalu menggelengkan kepalanya dengan wajah kesal. Namun Vina tersenyum sambil mengusap wajah bocah lucu itu.


"Enzo, kakak sedang buru-buru. Hari ini tidak bisa menemani Enzo." Vina merogoh sesuatu dalam tasnya dan lalu mengambil sesuatu dari sana.


"Boleh kakak minta tangan Enzo?" tanya Vina dengan lembut. Bocah itu pun mengulurkan tangan kanannya yang berkulit putih mulus. Sepertinya nyamuk pun pasti tergelincir kalau hinggap di kulit bocah itu. Vina membuka tutup spidol yang dia bawa lalu menuliskan sederet angka di tangan bocah itu.


"Ini nomor kakak, nanti kalau Enzo sudah sampai di rumah nini, Enzo boleh hubungi kakak, ya." Enzo tersenyum dan lalu mengangguk penuh semangat. Vina ikut tersenyum begitu juga nenek penjual es dawet itu. Vina pun akhirnya berpamitan pada Enzo dan nini-nya. Dia melewati Galang begitu saja setelah sebelumnya mengusap lembut rambut Enzo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuk ah, sambil nunggu aku up lagi, ada baiknya kalian mampir di karya kakak yang satu ini


Judul karya : CEO Dingin Kau Milikku


Penulis : Aveeiiii


__ADS_1


__ADS_2