Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 37. Rumah Enzo


__ADS_3

****


Pada akhirnya Galang harus menuruti keinginan putranya atas perintah mamanya. Sesuai janji Galang saat mamanya sakit. Dia akan menuruti semua ucapan mamanya asal mamanya sembuh dan di sinilah kini ia berada. Galang berada dalam mobil di depan sebuah ruko tempat makan dimana Vina mengais rejeki.


"Benar ini tempatnya, Pah?" tanya Enzo antusias. Enzo melongok ke luar untuk mencari keberadaan Vina.


"Papa, buruan telepon kak Vina, coba," ujar Enzo tak sabaran. Saat Galang mengambil ponselnya, tak sengaja matanya melihat Vina keluar dari kedai. Enzo pun juga sepertinya melihat wanita itu.


Vina yang saat itu sedang melayani pelanggan dikejutkan dengan kehadiran mantan mertua dan juga mantan iparnya. Mantan mertuanya berteriak-teriak di depan ruko Vina. Hingga akhirnya mau tak mau Vina keluar dari kedai untuk menyambut tamu tak punya tata krama itu.


"Ada apa lagi, sih, Bu Siti."


"Heh, Vina. Jangan sok, ya, kamu. Apa kamu pikir karena kamu pemilik warung makan ini kamu bisa berlaku seenaknya sama keluarga saya."


"Berlaku seenaknya apa lagi, sih, Bu? atau jangan-jangan ibu kesini karena menyesal telah membuat saya dan mas Pras bercerai?" ujar Vina. Bu Siti yang sejak tadi sudah berkobar emosinya seketika melayangkan tangannya hendak menampar pipi Vina. Namun dengan cepat Vina menangkap tangan bu Siti.


"Bu, sebaiknya jaga attitude, ibu. Jika tidak mau nasib ibu sama seperti menantu ibu," kata Vina sambil melirik dua kamera CCTV yang ada di depan kedainya. Bagas yang tanggap dengan maksud Vina segera menarik ibunya.


"Sudah, Bu. Kita pergi saja dari sini." Bagas menarik lengan ibunya, tapi wanita paruh baya itu meronta hingga terlepas dari cengkeraman tangan Bagas. Bu Siti sudah hampir menyerang Vina. Namun tubuh Vina seketika di tarik oleh seseorang dan disembunyikan di balik tubuh kekarnya.

__ADS_1


"Anda siapa? kenapa membuat keributan di depan kedai orang?" tanya pria yang tadi menarik dan menyembunyikan Vina di balik punggungnya.


"Siapa saya, itu tidak penting. Anda yang siapa? kenapa anda ikut campur urusan saya?" ujar Bu Siti, urat lehernya sampai menonjol seluruhnya karena sangat emosi.


"Oh, jelas saya harus ikut campur. Orang yang anda usik ini adalah calon ibu dari anak saya," ujar pria itu, tangannya sejak tadi menggenggam tangan Vina. Baik bu Siti dan Bagas sama-sama terbelalak kaget begitu pun Vina. Bukan tanpa alasan. Pria yang saat ini membela Vina tampilannya sangat mencolok. Ia seperti eksekutif muda, seperti yang ada dalam majalah-majalah bisnis. Rambutnya tersisir rapi ke samping dan jas yang di pakai terlihat sangat mahal.


"Mama Vina tidak apa-apa?" kini Enzo mendekati Vina dan menggenggam tangan kiri Vina. Vina dan juga dua orang yang ada di sana tampak terkejut saat bocah itu memanggil Vina dengan panggilan mama.


"Oh pantes kamu niat banget mau diceraikan oleh Pras, ternyata kamu memang ada main serong dengan pria ini?" tunjuk bu Siti dengan tatapan marah ke arah Galang. Ya, pria yang tadi menarik Vina adalah Galang.


"Jaga bicara anda...!" Desis Galang, ia menatap kedua orang itu dengan tatapan marah. Galang tidak mau membuat keributan, apalagi kedai Vina cukup ramai siang ini. Beberapa pengunjung menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah mereka. Malu, itu yang Galang rasakan sekarang. Tapi membiarkan Vina dikeroyok oleh 2 orang rasanya kurang adil. Galang merasa kedua orang di depannya itu sepertinya memang berniat membuat image Vina menjadi buruk.


Vina berjalan maju, dia yang semula ada di belakang Galang, kini ia telah berdiri di samping Galang dengan wajah yang memerah. Vina menatap bu Siti dan Bagas dengan tatapan sama tajamnya dengan sorot mata Galang.


Kini air mata Vina sudah tak tertahan lagi, dia pasrah kalau sampai nanti kedua kakaknya tahu masalah ini dan bertindak. Rasanya Vina sudah lelah dengan drama keluarga Pras.


Banyak pelanggan yang tiba-tiba mendekat, mereka merasa kasihan dengan pemilik kedai itu. Banyak yang menyoraki bu Siti dan tak sedikit yang mendekat pada Vina untuk menenangkan wanita muda itu.


"Jadi orang tua jangan terlalu ikut campur sama urusan anak, Bu."

__ADS_1


"Iya, ih. Kasihan mbaknya, mau hidup tenang aja kok masih terus digangguin," ujar beberapa orang wanita yang sejak tadi sepertinya menyimak pertengkaran mereka.


"Sekarang saya minta dengan sangat bu Siti pergi dari sini. Sudah puas kan mempermalukan saya? ini kan yang ibu harap?" Vina masih berusaha mengusap air matanya. Ia sampai tidak sadar sudah di tuntun Galang masuk ke dalam mobil pria itu. Enzo mengikuti Vina dengan iba, ternyata kakak cantik yang begitu baik hidupnya sangat kasihan.


Galang membawa Vina menuju ke kediamannya tanpa berunding terlebih dahulu. Di pikirannya sekarang, ia hanya ingin menjauhkan Vina dari orang-orang tadi.


Saat mobil Galang berhenti di depan rumah mewah. Vina baru tersadar. Tangannya sejak tadi digenggam oleh Enzo. Vina menoleh ke kanan dan ke kiri seperti orang linglung.


"Ini, di mana?"


"Di rumah Enzo, Kakak cantik, mau kan menemani Enzo di rumah hari ini?" Vina mengangguk meskipun dia sendiri masih sedikit bingung. Bagaimana ceritanya ia bisa berada di mobil? dan sekarang ia sudah berdiri di depan rumah Enzo.


"Ayo masuk, nanti hitam kena matahari," ujar Galang, ia berjalan mendahului Enzo dan Vina. Entah siapa yang diajak bicara, tapi nadanya sudah tidak kaku seperti kemarin-kemarin.


"Ayo, Kak. Itu papa bilang nanti kakak hitam."


Enzo menarik tangan Vina dengan antusias. Dia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan membuat calon mamanya lupa dengan kesedihannya tadi. Enzo membenci wanita tua yang tadi sempat membuat wanita sebaik calon mamanya itu menangis.


"Tunggu saja nenek tua. Aku akan balas kamu. Kamu sudah menyakiti calon mamaku. Aku tidak akan melepaskanmu," gumam Enzo Lirih.

__ADS_1


Vina sudah memasuki rumah Galang, ia disambut hangat oleh bu Laras, mamanya Galang. Wanita paruh baya itu tersenyum lembut dan memberikan pelukan hangat untuk Vina. Sudut mata Vina hampir saja menitikkan air mata karena terharu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2