Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 9. Hutang yang Diikhlaskan


__ADS_3

*****


Bu Siti Pov2


"Ada apa lagi sih, Bu? kenapa selalu mencari kesalahan Vina terus? Tidak ada yang mempengaruhiku, tapi aku merasa ibu sudah keterlaluan pada Vina." Pras tiba-tiba muncul dari pintu dan memarahiku.


"Ibu tidak sedang mencari kesalahan Vina, tapi dia memang salah. Dia tidak mau menasehatimu saat kamu mulai berani melawanku." Aku menatap tajam pada Vina, perempuan itu menunduk sambil menangis, Aku yakin itu hanya akal-akalan dia agar putraku semakin berani padaku.


"Sudahlah, Bu. Aku pulang karena butuh mengistirahatkan tubuh dan pikiranku. Jangan malah menambah beban pikiranku. Ayo, Dek kamu masuk." Pras menarik tangan Vina. Dia membawa pergi menantu tak berguna itu. Aku hanya bisa mendengus kesal. Lihat saja nanti, dia berani membuat Pras-ku menjadi anak yang tidak patuh.


...***...


Beberapa waktu telah berlalu, rasa benci ku pada istrinya Pras semakin menggunung. Dia selalu memasang wajah pura-pura tak bersalah jika di depan Pras, sehingga anakku itu merasa iba padanya.


Asya mendatangiku dan mengatakan butuh uang untuk Aqilla, tapi sayangnya uangku juga sudah habis untuk ku pakai arisan sana sini. Aku kan juga butuh berinvesasi. Saat melihat istrinya Pras aku jadi punya ide untuk meminjam uangnya.


"Sebentar, kamu tunggu dulu di sini. Hari ini aku pastikan kamu bisa kirim uang untuk Aqilla," ujarku. Aku berdiri dan gegas mengikuti menantu mandul itu.


"Heh, sini kamu."


"Ibu memanggilku?"


"Memangnya ada orang lain di sini selain kamu?"


"Ada apa, Bu."


"Aku sedang butuh uang 2 juta. Kamu bisa kan pinjami aku?"


"Ada, Bu, tapi nanti ya. Vina ambil dulu uangnya di ATM."


"Ambil sekarang aja, kenapa? aku buru-buru perlu uang itu."


"Tapi, Bu. Vina sedang .... "


"Halah, kamu itu, baru juga sekali aku minta tolong. Udah cepetan sana, ambil uangnya."

__ADS_1


"I-iya, Bu."


Menantu bodoh itu akhirnya pergi juga mengambil uang di ATM. Aku benar-benar senang melihatnya tak berdaya melawan ku. Memang seperti ini seharusnya. Menantu harus patuh pada mertua. Bukankah mertua sama juga orang tua pengganti para menantunya.


Selang 30 menit, perempuan itu datang membawa uangnya. Aku segera merebut uang itu. Aku menghitungnya dengan teliti. Setelah jumlahnya pas, aku pun gegas masuk ke kamar. Aku akan membagi uang itu dengan menantu kebanggaan-ku, Asya.


Belum ada sebulan Asya kembali meminjam uang padaku karena aku pun hanya memiliki sedikit pegangan aku kembali mencoba mencari istri Pras.


"Kamu masih ada simpanan?"


"Ada, Bu."


"Aku mau pinjam lagi."


"Tapi, Bu.... "


"Tapi apa? kamu mau ngungkit uang yang tempo lalu aku pinjam? mau jadi menantu kikir kamu? lagian sama mertua sendiri perhitungan banget sih kamu, kalau ngasih pinjam itu yang iklas," ketusku.


"Ya, sudah, tapi aku tidak punya simpanan banyak."


"Ya diusahakan dong, aku perlu satu juta setengah."


Huh, dasar, menantu rendahan mau saja dibodohi. Ah, lumayan. Ada untungnya juga punya menantu bodoh seperti dia.


Sore hari istri Pras datang membawa uang, tapi saat perempuan itu mau menyerahkan uangnya padaku, Pras menahan tangan Vina.


"Apa ini, Dek."


"I-ini, ibu mau.... "


"Dia bayar hutang, Pras," Sahutku, dasar perempuan bodoh, beraninya dia mau mengadu pada Pras. Mataku melotot menatap perempuan itu. Dia seketika langsung menunduk takut.


"Kamu hutang sama ibu, Dek?" waduh bisa gawat kalau dia buka mulut.


"Sudah lah, Pras mungkin dia kemarin butuh tambahan buat modal dagangnya."

__ADS_1


Pras pun akhrinya mempercayai ucapanku, huh lega sekali rasanya. Semoga perempuan itu tidak mengadu pada Pras.


...***...


Pras menatapku dengan mata merah, dia seperti sedang menahan marah, tapi karena apa entahlah.


"Bu, ibu jangan keterlaluan sama Vina!" seru Pras. Aku tidak tahu apa yang membuatnya marah. Menantu mandul itu pasti mengadu yang bukan-bukan pada anakku.


"Ibu keterlaluan, kenapa, sih, Pras?"


"Ibu hutang sama Vina? kenapa bu? apa uang yang Pras berikan pada ibu masih kurang?"


"I-itu, itu bukan buat ibu, tapi buat Asya."


"Ya ampun, Bu. Asya lagi, Asya terus. Dulu uang ibu sering habis juga buat Asya. Sekarang ibu malah sampai berhutang pada Vina. Mau dibayar pake apa, Bu?"


"Halah, istri kamu aja yang terlalu perhitungan. Sama mertua sendiri kenapa tidak diikhlaskan saja? toh dia juga udah numpang di sini."


"Vina ini istriku, Bu. Bagaimana ibu bisa berkata begitu? sementara ibu berlaku berbeda pada istrinya Bagas.


"Udah deh, Pras. Kamu itu ga usah ikut campur urusan ibu sama istrimu itu." Aku segera masuk kamar. Tak ingin berlama-lama berdebat dengan putraku. Dasar menantu si*alan, dia sebenarnya mengadu apa sama Pras? sampai-sampai Pras sangat marah padaku.


Semakin hari aku semakin tidak senang menatap wajah istri Pras ini. Bagaimana caranya agar Pras pisah sama perempuan mandul ini. Bahkan setahun pernikahan sama sekali tidak ada tanda kalau hamil. Jika begini bisa-bisa keturunanku akan habis.


Lagi-lagi hari ini Asya mengatakan membutuhkan uang. Tapi kali ini uang itu akan dia gunakan untuk membeli tas untuk mendukung penampilannya sebagai seorang manager hotel. Aku sendiri sebenarnya penasaran kemana larinya gaji Asya dan Bagas. Masak iya keduanya kerja tapi tak ada simpanan sama sekali. Ah, lain kali akan aku tanyakan pada mereka. Sementara aku akan membantunya sekali lagi, seperti biasa aku akan pinjam pada istri Pras. Tapi mungkin kali ini aku akan lewat Pras saja biar dia tidak merasa dilangkahi.


"Pras, tolong bilang istrimu, Ibu pinjam uang lagi."


"Pras bahkan malu kalau harus membicarakan uang pada Vina, Bu. Selama ini Pras tidak memberinya nafkah, Motor yang Pras pakai juga Vina yang beli karena uang Pras semuanya untuk ibu. Jangan bikin Pras semakin malu, Bu."


Kesal sekali rasanya, untuk yang pertama kalinya aku melihat putraku begini. Ini semua gara-gara Vina. Aku terus memberi nasihat pada putraku untuk menceraikannya. Biar dia tahu rasa, ini balasannya karena sudah membuat Pras berani padaku.


Gayung bersambut, saat istri Pras membuat masalah dengan Asya. Aku membujuk Asya agar mau berakting agar Vina di ceraikan oleh Pras.


Hatiku begitu bahagia saat Pras akhirnya menjatuhkan talaknya pada si mandul itu. Tapi melihat gadis itu bersikap tenang aku kembali merasa kesal. Dia bahkan dengan berani mengambil kulkas dan kompor yang dia beli. Dia juga meminta motor yang sering di pakai oleh Pras.

__ADS_1


Gara-gara masalah ini kami sekeluarga kini malah menjadi bahan tontonan para tetangga, dasar sial. Aku bahkan masih bisa melihat bu Nia mengintrogasi Vina. Pasti sebentar lagi gosip keluarga ini akan tersebar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2