Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 13. Lara Hati Pras


__ADS_3

*****


Vina merasa kehidupannya sekarang tak ubahnya seperti menaiki sebuah wahana rollercoaster, kemarin dia merasa berada dibawah, tapi kini dia perlahan dan pasti mulai kembali naik ke permukaan.


Jika kemarin dia merasakan pahitnya berumah tangga, sekarang Vina tampak lebih tenang dan mulai memikirkan masa depannya yang masih panjang. Bercerai di usia 21 tahun, hal itu benar-benar bukanlah bagian dari impiannya, tapi bisa apa dirinya jika itu merupakan bagian dari takdir yang harus ia jalani.


Vina baru saja meletakkan mukenanya, matanya agak sedikit sembab setelah beberapa menit mengadu pada Sang Pemilik Kehidupan, namun hatinya merasa sangat lega. Seakan beban di hatinya terangkat begitu saja.


"Vin, ayo makan malam sudah siap," teriak Hani dari depan pintu kamar Vina


"Iya, Kak, sebentar," sahut Vina.


Vina lalu kembali bercermin dan merapikan sedikit anak rambut yang berantakan. Ia memoles sedikit bedak untuk menyamarkan wajah sembabnya.


Vina turun dan langsung menuju ruang makan, Dia tersenyum kaku saat melihat sajian di atas meja, sudah seperti penataan di sebuah resto mewah.


"Maaf ya, Kak Hani, aku enggak bantu."


"Ah, kaya sama siapa aja sih, Vin."


Vina duduk di sisi kiri Fauzi, sedangkan Hani duduk di sisi kanan suaminya. Dengan telaten Hani menyiapkan menu makanan untuk suaminya, Vina sejenak tertegun. Pikirannya melayang pada sosok mantan suaminya.


"Ambil nasi, Vin. Jangan malah melamun begitu," tegur Hani. Wanita itu tahu apa yang sedang di pikirkan oleh adik iparnya. Dari sorot matanya saja sudah terlihat jelas kesedihannya.


"I-iya, Kak." Vina mengambil centong nasi dan mengisi piringnya dengan setumpuk nasi yang tak seberapa banyak.


"Kamu sakit, Vin?" tanya Fauzi heran saat melihat porsi makan Vina.


"Vina lagi enggak selera makan, Kak." Mendengar jawaban adiknya Fauzi hanya menghela napas kasar.


Usai makan Vina kembali ke kamar. Dia duduk di sofa yang menghadap ke balkon. Tangannya terus menggulir galeri foto dimana di sana banyak foto kenangan antara dirinya dan Pras.


"Seandainya sedikit saja kamu mau memperjuangkanku," lirih Vina. Ada yang terasa menusuk tapi tak kasat mata, namun rasa sakitnya begitu nyata. Manisnya cinta nyatanya tak bertahan dalam mahligai rumah tangganya. Cinta yang di tawarkan hanya manis di awal saja.


Vina menghapus semua foto bersama Pras dari galeri ponselnya. Meski kini dia terbebas dari keluarga suaminya namun rasa itu menyisakan rongga luka yang menganga. Vina hanya berharap kelak bisa menutup rongga luka itu dengan seiring berjalannya waktu.


***

__ADS_1


Pras berjalan sempoyongan menuju dapur. Kepalanya berdenyut nyeri, ia merasakan tubuhnya lebih panas dari sebelumnya.


Pras membuka tudung saji, namun tak ada apapun yang bisa ia makan selain nasi yang mungkin saja sudah dingin.


Pras duduk di kursi dan memijat kepalanya. Di saat begini ia teringat akan istri yang kemarin ia ceraikan. Biasanya jam segini Vina akan mondar mandir menyiapkan makan untuknya, menanyakan pada dirinya apa yang mau dia makan sambil meletakkan secangkir teh hangat.


Napas Pras mulai memburu seiring rasa sesak yang semakin menghimpit dadanya. Kilatan masa lalunya terlalu manis untuk dilupakan.


"Vina... " lirih Pras, Pria itu tergeletak dengan kepala tergolek di atas meja. Kesadaran Pras menghilang diiringi jeritan ibunya.


"Pras...!" pekit bu Siti, wanita itu baru saja masuk ke dalam rumah membawa bungkusan lauk yang baru ia beli. Ia terkejut saat melihat tubuh putranya tiba-tiba tumbang.


Bu Siti berteriak minta tolong dan tak lama para tetangga datang dan membantu bu Siti membawa Pras ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan bu Siti terus memandangi wajah pucat putra pertamanya, baru kali ini bu Siti melihat Pras tergolek tak berdaya.


"Ada apa denganmu, Pras?" lirih bu Siti.


Setibanya di rumah sakit Pras langsung di tangani oleh dokter. Dokter mengatakan jika pria itu kelelahan dan types. Dokter belum bisa mendeteksi indikasi lain karena Pras belum sadarkan diri.


Dokter mengatakan Pras harus di rawat beberapa hari di sana. Bu Siti pasrah, ia langsung menghubungi Bagas agar menyusulnya ke rumah sakit.


Dokter datang dan langsung memeriksa Pras. Dokter mengindikasi jika Pras mengalami depresi. Bu Siti tentu saja sangat terkejut.


"De-depresi... Dok?"


"Iya, Bu. Apa sebelumnya pasien ada masalah atau sesuatu yang membuat pikirannya terganggu?"


"Saya tidak tahu, Dokter, tapi memang 2 hari yang lalu dia baru saja bercerai dari istrinya."


"Nah, bisa jadi itu adalah pemicunya. Mungkin mas Pras ini ada rasa menyesal sudah menceraikan istrinya, atau perasaan kecewa yang mungkin tidak bisa diungkapkan secara langsung sehingga malah menganggu pikirannya."


"Apa masih bisa diobati dokter?"


"Tentu saja, Bu. Nanti saya akan beri surat rekomendasi ke psikolog. Semoga saja bisa segera ditangani."


"Kamu kenapa toh, Pras?" bu Siti mendekati Pras dan mengusap puncak kepala anak pertamanya.


"Vina... " lirih Pras.

__ADS_1


Pras tiba-tiba meneteskan air matanya. Bibirnya terus menyebut nama Vina tanpa henti. Bu Siti merasa geram dengan tingkah putranya itu.


"Lupakan dia Pras, ibu yakin kamu akan menemukan jodoh yang lebih baik dari wanita itu."


Namun suara bu Siti seakan tidak bisa menembus lubang telinga Pras. Pras terus memanggil nama mantan istrinya. Bagas membuka pintu perawatan kakaknya. Dengan wajah enggan dia mendekat ke arah ibunya.


"Ada apa sih, Bu?"


"Masmu depresi."


"Hah? mas Pras gila, Bu?" Bu Siti langsung menepuk lengan Bagas dengan keras.


"Punya mulut itu mbok ya, distel jangan asal mangap saja," sinis Bu Siti.


"Aduh ... sakit, Bu. Ibu nyuruh aku kesini sebenarnya untuk apa?"


"Ya ampun, Gas. Apa tidak bisa kamu simpati dengan kondisi masmu. Ini semua gara-gara perempuan mandul itu."


"Ini bukan salah Vina, Bu. Ibu yang paling salah karena ikut campur urusan mas Pras. Coba kalau ibu enggak nyuruh mas Pras cerai. Semua ini enggak akan kejadian," jawab Bagas. Bu Siti semakin geram dan memukuli lengan putra keduanya.


"Mulutmu itu, Gas. Ibu begitu karena mau yang terbaik buat masmu."


"Yang terbaik buat mas Pras atau buat ibu? ibu sadar enggak? selama nikah, pernah enggak ibu lihat mas Pras bertengkar sama Vina? Rumah tangga mereka harmonis, Bu. Kalau ibu tidak pernah mencampuri urusan mereka. Mereka jadi sering bertengkar karena ibu. Ibu sadar enggak? Selama ini aku memilih diam karena aku khawatir ibu juga akan memperlakukan aku sama seperti ibu memperlakukan mas Pras," ujar Bagas setengah emosi.


Bu Siti terdiam mendengar ucapan Bagas. Apa benar begitu? tapi kenapa hanya karena cerai Pras sampai depresi begitu?


"Kita datangi warung Vina bagaimana?"


"Memang ibu tahu dimana?"


"Tahu, cuma selama ini ibu memang belum pernah ke sana. Bu Nia dulu pernah ngasih tahu ibu usahanya si Vina. Ibu cuma pura-pura enggak denger aja. Kedainya dekat dengan tempat kerja masmu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sambil nunggu mampir yuk ke karya keren yang 1 ini, Judul : Belenggu benang kusut penulis : Tie tik


__ADS_1


__ADS_2