Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 15. Restu Bu Siti


__ADS_3

*****


Bu Siti dan Bagas tiba di rumah sakit. Bu Siti diam saja sesaat setelah turun dari motor Bagas. Wanita tua itu tampaknya sedang memikirkan sesuatu setelah melihat kedai Vina yang ramai dikunjungi oleh pelanggan.


Bu Siti tersenyum tipis setelah satu gagasan bersarang di otaknya. Ia berharap dengan ini semua, masalah yang sedang dihadapinya sekarang bisa teratasi tanpa dia harus keluar uang untuk biaya rumah sakit Pras.


"Bu, Bagas mau pulang dulu."


"Ya sudah, pulang sana," kata bu Siti setengah mengusir Bagas dengan kibasan tangannya.


"Ingat, mas Pras masuk ke rumah sakit juga gara-gara ibu. Jadi semuanya ibu yang harus tanggung biaya rumah sakit mas Pras," ujar Bagas tanpa menatap ibunya. Ia segera berlalu meninggalkan ibunya yang masih mematung seorang diri.


"Huh, dasar anak enggak berguna," desis bu Siti.


Bu Siti langsung masuk ke ruang perawatan anak pertamanya, namun sayangnya ia tak mendapati Pras ada di sana. Bu Siti duduk di sofa yang ada di ruangan itu dan kembali berpikir. Sepertinya gagasannya bukanlah ide yang buruk.


"Apa aku bilang saja pada Pras, jika aku merestui hubungannya dengan Vina. Toh perempuan itu hanya sekolahnya saja yang tidak tinggi tapi dia punya bisnis yang lumayan. Aku bisa manfaatkan tempatnya untuk menjamu teman-teman arisanku. Jadinya kan lumayan uang konsumsi bisa masuk kantong."


Pikiran bu Siti sudah penuh dengan rencana dan akal-akalan. Ia tidak tahu jika sebenarnya Pras tidak benar-benar depresi, ia hanya sedang tidak mau berkomunikasi dengan ibunya. Pras berpikir semua masalah yang kini sedang ia hadapi adalah akibat menuruti semua perintah ibunya.


"Bagaimana dokter?"


"Pak Pras, saya hanya bisa menyarankan, bicarakan semuanya dengan ibu anda secara baik-baik. Misalkan anda punya sebuah pendapat, ya, utarakan saja. Karena sesuatu yang sering dipendam sendiri, bisa jadi akan menjadi bumerang untuk kesehatan mental anda."


"Tapi ibu saya itu berwatak keras, Dok," ujar Pras dengan wajah yang hampir putus asa.


"Dicoba dulu, semua itu kalau belum dicoba kita mana tahu hasilnya akan seperti apa."


Pras mengangguk, setelah berpamitan dengan psikolog, Pras merasa hatinya menjadi sedikit lebih ringan. Dia bertekad akan rujuk dengan Vina meskipun nantinya ia harus berulang kali memohon pada mantan istrinya itu.


Pras didorong masuk ke ruang rawat inapnya dengan memakai kursi roda oleh seorang perawat laki-laki. Bu Siti langsung bangun menyambut putra pertamanya. Wanita paruh baya itu tiba-tiba memeluk Pras.

__ADS_1


"Maafin ibu, ya, Pras. Ibu tahu, ibu salah sama kamu. Ibu harap kamu mau mengampuni ibu. Mulai sekarang ibu akan merestui hubunganmu dengan Vina. Ibu tidak akan mencampuri urusan rumah tanggamu lagi, tapi ibu juga tidak mau kamu mengurangi jatah uang belanja ibu."


Pras terkejut mendengar ucapan ibunya. Apa dia tidak salah dengar tadi? ibunya merestui dirinya? Pras menarik wajahnya untuk dapat melihat raut wajah ibunya.


"Apa ibu bersungguh-sungguh?"


"Ya Pras. ibu bersungguh-sungguh, ibu sekarang merestuimu rujuk dengan Vina."


Pras tersenyum dalam keharuan. Dia kembali memeluk ibu yang telah melahirkan dirinya. Tanpa Pras sadari bu Siti tersenyum tipis mengingat rencananya yang sebentar lagi akan kesampaian.


...***...


Fauzi mengepalkan tangannya saat mendengar informasi dari bu Risma. Ia sebenarnya ingin menemui Pras dan menghajarnya tapi karena larangan dari kakaknya, ia jadi harus menahan diri.


Kekesalan tak hanya dirasakan oleh Fauzi, Fahri yang juga mendengar keterangan dari bu Risma seketika merasa muak dengan kelakuan mantan keluarga Vina itu. Andai saja dirinya tak terlalu sibuk mengurus perusahaan mungkin dia tidak akan kecolongan seperti ini. Awalnya dulu dia melihat keseriusan dan tekat yang kuat dari Pras, tapi nyatanya semua itu tidak dibarengi dengan usaha untuk menjaga adik perempuan satu-satunya yang paling ia sayangi. Fahri pun merasa kecewa dengan keputusannya dulu yang buru-buru merestui Pras.


Fahri mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan menghubungi sang istri, Rita. Dia akan meminta Rita membawa Vina liburan sampai hasil sidang perceraian mereka keluar. Fahri tak akan membiarkan adiknya berhubungan lagi dengan keluarga Pras.


"Halo, Sayang."


"Bagaimana jika kamu dan anak-anak juga Vina liburan ke Bali?"


["Dalam rangka apa? Mas enggak ikut?"]


"Mas mau kamu mengalihkan pikiran Vina dari Pras. Pokoknya ajak dia kemana pun. Nanti mas transfer uangnya. Mas akan menyelesaikan masalah perceraian Vina terlebih dulu."


["Apa tidak sebaiknya Vina tetap dilibatkan? Bagaimana pun juga mereka yang menjalani. Kita tidak tahu bagaimana perasaan Vina pada Pras. Salah-salah nanti malah Vina berbalik membenci kita."]


Fahri menghela nafas panjang. Ucapan istrinya ada benarnya juga. Dia mengetuk-ngetuk ujung meja dengan pulpennya sembari berpikir.


['"Mas... "]

__ADS_1


"Ya, sudah. Nanti kamu ajak anak-anak ke rumah utama. Sementara kita tinggal di sana dulu sampai masalah Vina selesai."


["Ya, Mas."]


Fahri mengurut keningnya, meskipun baginya mudah saja menyingkirkan Pras, tapi dia juga harus memikirkan perasaan adiknya, itu yang utama. Dia kembali menarik beberapa berkas yang tadi sempat terabaikan setelah menerima telepon dari bu Risma. Bahkan Fahri melewatkan makan siang karena terus kepikiran masalah adiknya.


Di rumah utama milik keluarga Adiatirta, Hani dan Vina sedang membuat sebuah dessert kesukaan Vina. Keduanya terlihat sangat cekatan menata buah diatas adonan pai.


"Hmm... sepertinya sangat enak," gumam Vina tersenyum puas melihat hasilnya.


"Sabar, dulu. Itu jangan sampai liur kamu menetes ke sana ya," ujar Hani sambil tertawa.


"Ish, kakak ipar ini." Vina mengerling kesal mendengar ucapan kakak iparnya. Namun keduanya tak urung tertawa bersama.


Vina sangat bersyukur masih memiliki keluarga yang benar-benar peduli padanya. Mungkin dia memang harus mulai mengubur semua rasa yang masih tersisa dan mengganjal di hatinya. Hani yang mengetahui perubahan raut wajah adik iparnya segera mendekat dan menepuk lembut bahu Vina. Vina mengangkat kepalanya saat tepukan lembut kakak iparnya mendarat di bahunya. Vina mendongak dan tersenyum lembut.


"Terima kasih sudah menemaniku di saat aku benar-benar terpuruk, Kak."


"Itulah fungsi saudara. Jadikan kami tempat bersandarmu."


"Kalian tempat bersandar ternyaman dalam hidupku," lirih Vina. Hani mengusap sudut mata adik iparnya yang telah basah. Ia lantas memeluk Vina dan mengusap punggung wanita itu. Vina seharusnya saat ini menikmati masa mudanya. Usianya yang baru akan menginjak 22 tahun tapi sudah dihadapkan dengan masalah rumit. Padahal harusnya dia hanya fokus kuliah dan bersenang-senang, bukannya malah terjebak dalam permainan rumah tangga semacam ini.


"Duh, kok pada baper. Ada apa sih?" suara Rita yang tiba-tiba masuk mengagetkan Hani dan Vani.


"Apaan, sih, Kak?" ujar Vani dan Hani bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai guys author mohon maaf sebesar-besarnya karena sempat off cukup lama. Itu karena akunku sempat hilang dan baru kemarin malam bisa balik lagi.


Sambil nunggu aku up, ada baiknya kalian mampir ke karya teman literasiku kak Unopp Judul karyanya Triple K

__ADS_1


Jangan lupa untuk di Favorit dan tinggalkan jejak kalian



__ADS_2