
****
Siang ini Vina menghabiskan waktunya untuk membahagiakan Enzo. Dia merasa senang karena dibutuhkan. Vina tidak menyadari keributan di rumah besarnya. Bu Risma telah menceritakan semua kejadian yang terjadi di depan kedai milik Vina. Ia juga menambahkan jika Vina dibawa pergi oleh seorang laki-laki yang membawa anak.
Kakak Tertua Vina merasa sangat marah, begitu juga Fauzi, kakak keduanya. Keduanya sepakat akan mendatangi keluarga Pras untuk memberikan peringatan pada Pras dan keluarganya untuk berhenti mengusik adik mereka. Namun, bukan hanya itu. Saat ini fokus Keduanya adalah menerka siapa pria yang membawa adik mereka pergi. Jangan sampai kejadian buruk terulang lagi.
"Panggil Fadil, buruan, Kak," kata Fauzi tak sabar.
"Dia masih dalam perjalanan. Sebentar lagi sampai."
"Aku beneran engga nyangka selama ini kita menitipkan Vina pada keluarga toxic seperti mereka."
"Tapi aku penasaran sekali, siapa kah laki-laki yang telah bawa Vina?" tanya Fauzi lagi. Fahri hanya mengangkat bahu sebagai jawabannya.
Tak lama Fadil tiba di perusahaan milik Fahri, dia membungkuk sekilas untuk memberi hormat pada kedua pria di depannya itu. Fahri dan Fauzy sungguh tak sabar menunggu berita dari Fadil.
"Bagaimana, Dil?"
"Orang yang membawa non Vina pergi adalah orang yang sama yang bertemu dengan nona Vina di Jogja. Namanya tuan Galang Satya Pratama, usianya 30 tahun, ia memiliki anak berusia 5 tahun. Identitas anak itu sangat dirahasiakan. Namun, tuan Galang pernah mengadakan konferensi pers jika putranya itu 100% anak kandungnya."
"Galang Satya Pratama pemilik PT Sam Roe internasional grup?" tanya Fahri memastikan dan Fadil mengangguk yakin. Fahri dan Fauzy hanya saling melempar tatapan tak percaya. Adiknya berhubungan dengan pria dingin itu.
...***...
Vina pulang ke kediamannya diantar langsung oleh Galang dan Enzo saat hari sudah merayap sore. Bocah itu sejak tadi terlihat sangat bersemangat dan tentunya bahagia. Langkah awalnya untuk memiliki seorang mama berjalan dengan lancar. Seterusnya dia hanya perlu menjaga sikap dan berusaha mendekatkan calon mamanya dengan papanya.
"Wah, rumah mama besar sekali," ujar Enzo takjub. Rumah calon mamanya ternyata dua kali lipat lebih besar dari rumahnya.
"Masak, sih?" tanya Vina dengan wajah pura-pura kaget.
__ADS_1
"Iya, Mah."
Vina, Galang dan Enzo turun bersama dari dalam mobil. Enzo terlihat sangat bersemangat untuk mengenal keluarga calon mamanya. Vina menggandeng Enzo masuk. Galang pun hanya mengikuti kemana Vina dan putranya melangkah.
Saat Vina baru mencapai pintu, Ken langsung menyeruak memeluk Vina. Vina sedikit kaget. Namun, ia tetap membalas pelukan dari keponakannya.
"Tante baik-baik saja kan?"
"Iya, Ken. Tante tidak apa-apa."
"Jangan ke kedai lagi, Ken engga mau tante ketemu nenek sihir itu lagi."
"Iya, tante engga akan ke sana. Biar kedainya dikelola oleh bu Risma," jawab Vina, ia terus mengusap dan membelai kepala Ken. Tapi apa yang dilakukan oleh Vina memantik rasa cemburu Enzo.
"Mama ...." panggil Enzo dengan wajah memelas yang menggemaskan. Vina dan Ken seketika melepas pelukannya.
"Mama?" beo Kendra. Dia menatap tante nya dengan raut wajah bingung.
"Ayo, Mas, masuk!" Galang tertegun dipanggil dengan begitu lembut oleh Vina. Sejak keluar dari kamar mamanya tadi, Galang memutuskan akan mendekati Vina, Ia berharap bisa memenuhi keinginan mama laras dan Enzo tentang memiliki keluarga utuh.
Galang mengikuti Vina, namun belum juga mencapai pintu, sebuah mobil datang dan keluarlah dua orang pria dengan pakaian rapi. Galang tak jadi masuk. Dia menundukkan kepalanya menyapa hormat ke arah 2 orang pria tersebut.
"Tuan Galang Satya Pratama," sapa salah seorang pria sembari mengulurkan tangannya. Galang tersenyum dan membalas uluran tangan tersebut.
"Tuan Fahrizal Adiatirta." Galang ternyata mengenal kakak tertua Vina itu. Keduanya bersalaman dengan hangat.
Fahri menoleh ke adiknya, pria itu seakan tersadar dan lalu mengulurkan tangannya juga. "Perkenalkan saya Fauzi Adiatirta adik dari kak Fahri."
"Saya Galang," ujar Galang memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Ayo, silahkan masuk." Ketiga pria itu berjalan beriringan. Sementara Enzo sudah asyik bermain dengan Kemala adik Kendra dan juga Davin putra pertama kak Fauzi.
Vina sedang duduk di atas sofa sementara ketiga bocah itu duduk lesehan di karpet permadani. Safira anak kedua Fauzi yang berusia 4 tahun sedang bersandar manja di dada Vina sambil mendekap boneka gajah kesayangannya. Sedangkan anak bungsu Fauzi tidur di dekapan ibunya. Pemandangan yang sungguh menyenangkan Ken sejak tadi duduk di samping Vina sambil mengawasi anak-anak itu.
"Kak Kemala, Kak Davin, apa Enzo boleh main lagi kemari nanti?"
"Boleh, sekalian tinggal di sini juga boleh, sahut Kemala tanpa berpikir panjang. Bocah perempuan itu sangat gemas dengan Enzo yang tampan. Apalagi saat Enzo mengedipkan mata, Kemala dibuat terpesona dengan bulu mata yang lentik itu.
Galang yang mendengar putranya bersikap manja pada keponakan Vina itu ikut merasakan kehangatan keluarga Vina menjalar sampai ke hatinya.
"Vin, tamunya kok ditinggal di pintu tadi?" tegur Fahri, Vina hanya meringis. Dirinya tahu ia salah akan hal ini.
"Tidak apa-apa tuan Fahri, tadi memang Vina sudah mengajak saya, tapi saya berhenti karena melihat mobil anda tadi."
"Panggil saya, Fahri. Tidak perlu pakai embel-embel tuan."
"Baiklah, jika begitu," ujar Galang kini tak sungkan lagi. Vina berbisik pada Safira hingga bocah itu seketika melepaskan belitan tangannya di tubuh Vina. Vina beranjak menuju dapur.
"Bik, tolong siapkan 6 cangkir teh, ya," ucap Vina pada bik Sumi pembantu barunya.
"Iya, Non." Bik Sumi langsung mengambil cangkir porslen sejumlah yang diinginkan Vina. Vina memasak air di ketel kecil, ia memasukkan beberapa racikan tehnya dan memasukkan irisan lemon di dalam teko yang bik Sumi siapkan. Vina juga menambahkan 3 kotak gula batu ke dalam teko itu lalu mengisinya dengan air panas yang direbusnya tadi.
Vina mengeluarkan puding dari dalam lemari es. Itu puding yang dibuatnya pagi tadi. Vina memotongnya menjadi bagian-bagian kecil lalu dia menyiapkan piring kecil juga garpu.
"Bik Sumi sama Mbak Inah tolong ini disajikan ke depan, ya."
"Njih, Non," jawab mbak Inah. Kedua pembantu Vina itu bergerak dengan hati-hati menyajikan teh dan juga puding,sementara itu Vina masih sibuk di dapur menata brownies panggang di atas piring.
"Ada lagi yang perlu saya bawa kedepan, Non?"
__ADS_1
"Engga, udah. Mbak Inah tolong beresin ini aja." Vina membawa piring berisi brownies itu dan membawanya ke ruang tamu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...