Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Kembar?


__ADS_3

Tak mau menunggu lebih lama dalam rasa penasarannya Galang membawa Vina ke rumah sakit. beruntungnya masih ada dokter kandungan yang buka praktek malam.


Setelah membuat janji temu, Galang membawa Vina ke rumah sakit. Keduanya duduk di ruang tunggu. Vina tampak resah, sangat resah.


Dia berharap, semoga saja dirinya benar-benar hamil. Saat namanya dipanggil, debaran jantung Vina makin tak karuan. Galang tersenyum saat merasa tangan Vina semakin dingin.


"Rileks saja, Vin. Apapun hasilnya aku tetap mencintai kamu," ujar Galang menenangkan Vina.


Vina mengangguk sembari tersenyum. Dia menarik napas dalam dan lalu melangkah dengan penuh rasa percaya diri. Kedua pasangan itu masuk ke ruangan dokter obgyn.


"Selamat malam, Dokter."


"Selamat malam, silahkan duduk Pak Galang, Bu Vina," ucap dokter itu sembari melihat catatan rekap data pasien.


"Terima kasih, Dok."


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Ehm begini, Dokter. Saya penasaran istri saya hamil apa tidak? karena tadi saat dia di periksa kata dokter yang memeriksanya dia hamil."


"Baiklah, mari kita periksa. Semoga saja apa yang dokternya katakan benar adanya."

__ADS_1


Vina akhirnya berbaring di ranjang, seorang perawat membantu mengoleskan gel di perut Vina. dokter mulai menggerakkan probenya. Dia tersenyum saat menatap layar monitor.


"Selamat, Pak. Bu Vina benar-benar sedang hamil. Ini bisa dilihat ada dua bulatan kecil. Ini janin kalian mungkin besarnya masih sebesar biji kacang."


"Dua bulatan, Dok?" tanya Vina kaget.


"Iya, dua bulatan. Itu artinya anak anda kembar, Bu Vina."


"Mas." Mata Vina sudah memerah berkaca-kaca. Ia tak menyangka akan mendapatkan kejutan se istimewa ini.


Dokter segera mencetak hasil USG Vina. Dokter juga menjelaskan usia kandungan Vina baru menginjak 7minggu lebih 4 hari. Vina harus lebih berhati-hati dalam menjaga kandungannya terlebih usia kandungannya masih sangat rawan.


Galang dan Vina akhirnya pergi dari ruangan dokter itu. Mereka berdua berjalan bergandengan, sesekali bibir mereka menyunggingkan senyum.


"Papa aku mau peluk mama."


"Boleh peluk, tapi jangan berlari kencang begitu. perut mama ada adik bayinya. Nanti kalau Enzo menubruk mama terlalu keras kasihan adiknya kegencet nanti."


"Hah? perut mama ada adiknya?" tanya Enzo. Ada binar kegembiraan di hati bocah itu.


"Iya, di perut mama ada adik bayinya."

__ADS_1


"Kamu jadi hamil, Vin?" tanya Rita kakak ipar Vina.


"Iya, kak. Tadi kami habis dari rumah sakit. Mas Galang udah engga sabar nunggu besok."


"Syukurlah, aku seneng dengarnya. Selamat ya adikku. Semoga dimudahkan dan dilancarkan segala prosesnya sampai lahiran nanti."


"Aamiin." Jawab semuanya serempak.


***


Tanpa terasa kandungan Vina kini sudah menginjak usia 37 minggu. Vina dan Galang kini berada di sebuah pusat perbelanjaan. Vina sedang memborong banyak cemilan karena semenjak hamil, nafsu makannya bertambah. Tubuh Vina kini mengembang. berat badan yang awalnya tak sampai 50kg kini sudah mencapai bobot 62kg. Meski begitu, Galang semakin protektif pada istrinya.


"Mas, beli yang rasa kejunya di banyakin."


"Hayo loh, kemarin dokternya bilang apa soal makanan asin? harus dibatasi, 'kan?"


Vina hanya nyengir saat suaminya mencoba memperingati dirinya.


"Mas, bantu aku berdiri, dong." Vina menggapai tangan Galang, pria itu dengan sigap membantu istrinya berdiri.


"Makanya biar mas aja, kamu ngeyel sih."

__ADS_1


Galang tertawa sembari membawa Vina duduk di dekat kasir. "Udah kamu di sini dulu. Mas ambil barang-barang kita dulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2