
Hari berikutnya, Hari pertama Galang dan Vina menjadi pasangan suami istri. Galang ingin mengajak Vina jalan-jalan ke mall hari ini. Ia ingin merasakan nikmatnya pacaran setelah menikah.
Vina dan Galang memakai baju dengan warna yang hampir senada. Vina memakai blouse berwarna biru tua sedangkan Galang memakai baju berwarna biru keunguan.
Keduanya kini sedang berjalan disalah satu pusat perbelanjaan. Galang sejak tadi menggandeng tangan Vina dengan erat, mereka masuk ke satu toko lalu membeli beberapa pasang sepatu. Awalnya Vina menolak, tapi Galang memaksa.
Akhirnya Vina memilih 3 pasang sepatu dengan harga yang menurutnya paling murah diantara banyaknya sepatu dengan harga selangit.
"Mas, gimana kalau kita nonton?" tanya Vina.
"Boleh, kamu suka film apa?"
"Apa aja, horor aku juga suka."
Galang tersenyum dan lalu mengangguk. Keduanya naik dengan eskalator menuju lantai paling atas. Galang memesan tiket sedangkan Vina dibiarkan duduk di kursi tunggu. Galang mendapatkan tiket dan juga 1 cup besar popcorn beserta 2 botol air mineral.
"Mas beli tiket film apa?"
"Engga tahu juga, ini tadi aku minta rekomendasi mbaknya, terus dikasih judul filmnya Miracle in Cell no. 7. Kebetulan juga aku pernah denger kata karyawan aku, ini filmnya bagus."
"Oh, itu berati cerita kehidupan tentang penjara, ya?"
"Iya, kayaknya."
Keduanya pun masuk seperti pasangan pada umumnya. Namun, di tengah pemutaran film, Vina menangis sampai sesenggukan melihat bagaimana Dodo dan putrinya berinteraksi. Vina tidak hanya terharu, tapi dia juga baper.
Galang berusaha menenangkan istrinya, Seusai film diputar, Galang buru-buru mengajak Vina keluar.
"Udah dong, Sayang. Kamu kok jadi nangis terus gini sih?"
Galang membawa Vina duduk di sebuah kursi tunggu bioskop. Pria itu membuka botol minumnya dan memberikannya pada Vina. Berulang kali Galang mengusap air mata Vina. Beberapa pengunjung yang lewat terlihat menatap Galang dengan tatapan penuh penghakiman.
Setelah Vina meneguk air minum dan mengatur napas, perlahan tangisnya mereda. Galang ikut menghela napas lega. Lain kali dia akan berpikir berkali-kali sebelum mengajak Vina menonton. Ia khawatir istrinya akan kembali terbawa perasaan.
__ADS_1
"Maaf ya, Mas. Engga tahu kenapa aku sedih lihat film tadi," ujar Vina sambil menyeka sisa air matanya.
"Mas juga tadi sedih liat film tadi."
"Aku ke toilet bentar ya, Mas. mau cuci muka."
"Mau ditemani?"
"Engga usah. Mas tunggu di depan aja. Aku engga akan lama."
Vina akhirnya pergi ke Toilet, sementara Galang, dia mengikuti istrinya karena khawatir Vina akan kembali menangis di toilet.
"Eh, kamu Galang kan?"
Galang mengernyit karena tak mengenal wanita itu.
"Maaf, saya engga kenal."
Galang hanya menatap penuh antisipasi. seharusnya dia turuti saja ucapan Vina tadi, ia jadi agak menyesal.
Melihat Galang tidak memberikan respon, Melani menyentuh lengan Galang. Namun, reflek Galang langsung mundur dan menarik tangannya.
"Mas, kok malah nunggu aku di sini?"
Vina muncul dari balik punggung suaminya. Galang menoleh dengan wajah canggung. Dia khawatir Vina akan salah paham padanya.
"Udah, Sayang."
"Mereka siapa, Mas? Mas kenal?"
Vina melingkarkan tangannya di lengan Galang yang kokoh.
"Tadi ngakunya teman SMA, tapi aku engga ingat."
__ADS_1
"Dia siapa, Lang?" tanya Melani. Raut bahagianya saat bertemu Galang pertama kali tadi mendadak Sirna.
"Dia itu .... " Belum sempat Galang menjelaskan apa-apa, Vina langsung menyela.
"Dia ini suamiku, Mbak. Aku istrinya. Permisi, ya. Aku dan suamiku masih ada urusan."
Vina setengah menyeret Galang keluar dari area Bioskop sambil terus ngedumel."
"Mas, aneh banget. Masa teman sendiri sampai engga ingat."
"Ya dulu di sekolah itu, aku kutu buku dan cenderung cuek."
"Masak kutu buku sampai dikenal wanita cantik begitu."
"Ya itu tandanya, Mas mu ini ganteng, Vina."
"Heleh, ngapusi," gerutu Vina.
"Eh, tahu bahasa itu dari siapa kamu?" tanya Galang heran.
"Dari Alex sama Riska lah."
"Sekarang kita makan, ya?"
"Boleh, tapi burger ya, Mas?"
"Ok."
Vina dan Galang akhirnya turun menuju ke resto fastfood yang ada di mall itu.
Meskipun hanya jalan-jalan biasa saja, tapi Vina tampak bahagia. Tergambar jelas sejak tadi, bibirnya terus menyunggingkan senyum. Galang mampu mengimbangi sisi kekanakan istrinya, karena memang usia Vina tergolong masih sangat muda.
"Kamu duduk sini, biar aku yang pesan." Vina mengangguk dan menuruti kata Galang. Galang memesan Burger yang Vina mau, juga kentang goreng. Bahkan pria itu juga memesankan Es krim strawberry sundae kesukaan Vina. Entah mengapa Galang tiba-tiba teringat putranya karena pesanan Vina sama persis dengan kesukaan Enzo.
__ADS_1