
****
Entah karena bujukan siapa. Liburan itu ternyata tidak seperti yang Vina bayangkan. Malam hari saat Vina menginginkan pergi ke Namsan, hanya Galang yang bisa menemaninya. Semua anggota keluarga Vina sepakat beralasan sedang malas keluar dalam cuaca yang sangat dingin. Bahkan mama Laras juga beralasan terlalu lelah.
"Kenapa memasang wajah cemberut begitu?" tanya Galang.
"Mereka semuanya menyebalkan. Aku sudah sangat mengharapkan liburan ini bisa dinikmati bersama-sama, tapi mereka malah .... "
"Sudah, jangan marah-marah. Nanti cantiknya hilang," ujar Galang memotong ucapan Vina. Pria itu mencubit pipi Vina yang memerah karena udara di sana memang cukup dingin.
Vina hanya melirik Galang dengan wajah yang semakin memerah karena malu. Kini keduanya tiba di puncak Namsan. Di mana banyak sekali pasangan yang memasang gembok cinta di sana.
"Aku pernah ke sini dengan Ayah. Kalau belum dihilangkan, aku pernah memaksa ayah memasang gembok di sini. Vina berjongkok dan mulai mencari gembok yang pernah dia pasang bersama sang ayah.
"Ah, ketemu," pekik Vina senang. Ia mengusap gembok itu sambil tersenyum getir.
"Ayah, Vina kembali ke sini. Lihatlah, Yah. Vina memenuhi janji Vina. Vina datang ke sini bersama orang yang benar-benar mau menerima Vina apa adanya dan menyayangi Vina."
Tanpa terasa air mata Vina seketika mengajak sungai. Galang menarik Vina kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Dulu aku selalu merengek memaksa ayah memasang gembok di sini. Ayah bilang gemboknya harus dengan orang yang dicintai, tapi aku bilang pada ayah jika aku mencintainya. Ayah saat itu tertawa. Dia bilang harus yang seperti bunda dan ayah. Sekarang aku membawa Mas ke sini karena aku ingin mengatakan pada ayah. Kalau aku sudah menemukan sosok yang aku cintai. Terima kasih mas Galang sudah hadir di kehidupanku."
"Apa yang kamu katakan, Jangan berterima kasih padaku. Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Terima kasih karena kamu sudah tiba-tiba hadir di hidupku." Galang merogoh sakunya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
"Maukah kamu memasang gembok ini denganku?" Vina menarik tubuhnya menjauh dari Galang. Ia menatap dua gembok berbentuk hati dengan tatapan penuh haru.
"Mas, ini .... " Vina sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia langsung menubruk Galang dan memeluknya erat.
"Ini adalah gembok cinta kita. Dari sini kita akan memulai semuanya. Kita akan mengarungi lautan kehidupan dengan bahtera rumah tangga. Kita akan selalu bersama." Galang mengurai pelukan Vina.
Pria itu berlutut, bertumpu dengan satu kaki. "Vina Adiatirta, maukah kamu menikah denganku?"
Galang menyodorkan gembok yang dibawanya pada Vina. Vina tersenyum dan mengangguk dengan mantap. Di saat momen romantis itu. Suara riuh tepuk tangan muncul dari balik tangga. Keluarga Vina ternyata semua hadir. Mereka memang berniat memberikan kejutan untuk Vina. Beberapa pengunjung yang memang sejak tadi ada di sana ikut bertepuk tangan menyaksikan lamaran yang lain dari biasanya.
Vina tertawa sambil terus mengusap air matanya yang terus mengalir deras.
"Mama." Enzo tiba-tiba berlari dan memeluk Vina. Dari wajah bocah itu tampak sekali jika ia sedang ikut merasakan kebahagiaan calon mamanya itu.
Laras tersenyum bahagia, akhirnya dia bisa menyaksikan putranya melamar wanita yang dicintainya. Ia berharap putra dan cucunya bisa bahagia selamanya bersama Vina.
__ADS_1
Keluarga besar itu pun akhirnya pergi makan malam setelah menyaksikan Galang dan Vina mengunci gembok Cinta mereka di puncak Namsan Tower.
Meski wajahnya tampak sembab, Vina terlihat sangat bahagia. Terbukti sejak tadi dia selalu tersenyum melihat keluarga besarnya berkumpul bersama keluarga calon suaminya.
Kini Vina sudah bisa berdamai dengan masa lalunya. Ia berharap masa depannya dengan Galang bisa lebih baik dari apa yang telah ia lalui kemarin.
Usai makan malam, keluarga mereka kembali ke hotel. Kamar Galang dan Vina bersebelahan. Galang mengiringi Vina sampai di depan pintu. Vina berbalik badan menatap Galang sebelum masuk ke dalam kamarnya.
"Mas, terima kasih untuk hari ini. Selamat beristirahat."
Galang tersenyum dan mengusap lembut pipi Vina. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong kemejanya.
"Aku bukan pria romantis, tapi aku harap cincin ini bisa membuktikan keseriusanku untuk menjadikanmu istriku." Galang memasangkan cincin di jari manis Vina.
Vina sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya menatap bengong ke arah cincin cantik yang kini melingkar di jarinya.
"Tidurlah, ini sudah larut," kata Galang, pria itu mengangkat dagu Vina dan kemudian mengecup lembut kening Vina. Vina memejamkan matanya merasakan kehangatan sentuhan Galang yang menjalari hingga seluruh aliran darahnya.
Vina menutup pintu dengan jantung yang berdegup kencang. Ia akan menandai hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya.
__ADS_1
Galang masuk ke kamarnya. Ia merebahkan dirinya di atas kasur dengan wajah yang sama bahagianya dengan Vina. Selangkah lagi, pulang dari Korea, ia akan mengurus semua surat-surat untuk keperluan menikahi Vina.
Galang sudah tak sabar menantikan hal itu. Memperistri wanita seperti Vina merupakan hal yang tidak pernah ada dalam pikiran Galang sebelumnya, tapi seiring berjalannya waktu semua berubah. Galang memang butuh sosok wanita berhati lembut seperti Vina.