
Vina melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Asya di seret paksa oleh petugas keamanan. Mantan kakak ipar Vina itu terus berteriak dan memaki Vina. Vina dibuat malu dengan tingkah Asya yang kekanak-kanakan.
"Huh, puas sekali melihat wanita itu tadi di seret," ujar Rita selepas mereka menyelesaikan perawatan. Vina hanya tersenyum tipis, ia pun bingung harus menanggapi dengan sikap yang bagaimana atas kejadian tadi.
"Habis ini, kita kemana, Kak?" tanya Vina saat masuk ke dalam mobil.
"Aku mau ke panti asuhan sebentar, ngasih titipan mamaku. Hampir aja aku lupa. Makanya tadi aku ingat-ingat ini amplop apa yang ada di tas," kata Rita terkekeh.
"Kak Rita ini, ada-ada aja," Vina ikut tertawa. Namun sejenak tawanya terhenti saat ponselnya bergetar. Ada nama beruang kutub muncul di ponselnya, Vina hampir saja menyemburkan tawanya. Ia baru ingat menamai nomor Galang dengan nama Beruang kutub.
"Halo," sapa Vina, tapi bukan jawaban yang dia dengar melainkan suara Enzo yang menangis sesenggukan. Vina menatap ponselnya dengan alisnya mengernyit.
"Ada apa, Enzo, Sayang? kenapa menangis?"
["Apa kakak membenciku? kakak sudah janji mau telepon Enzo pas sampai Jakarta, tapi Enzo tunggu sejak tadi, kakak engga ada telepon nomor oma atau nomor papa. Kata papa, itu tandanya kakak engga peduli sama Enzo."]
"Enzo, kakak sampai Jakarta langsung tidur, kakak kecapekan. Maafin kakak, ya," ujar Vina lembut.
["Nanti malam, Enzo dan papa pulang. Besok kakak mau kan ketemu aku?"]
Rita yang tak sengaja menguping pembicaraan Vina dan Enzo, kini dibuat penasaran dengan adik iparnya itu. Saat Vina mematikan sambungan telepon Enzo, Dia melirik kakak iparnya sambil tersenyum canggung.
"Siapa Enzo?" tanya Rita.
"Dia anak kecil yang aku temui kemarin. Kami tak sengaja bertemu. Bocah itu benar-benar menggemaskan. Aku menyukainya. Tapi sayangnya papanya sangat menyebalkan sekali."
"Hati-hati, jangan terlalu benci. Nanti malah jatuh cinta."
__ADS_1
"Ih, amit-amit, deh." Vina mengetukkan jarinya di kening lalu pindah mengetuk atas dasboard mobil. Rita terkekeh geli melihat tingkah adik iparnya.
Vina dan Rita akhirnya menyambangi panti asuhan yang tadi Rita maksud. Vina merasa senang karena anak-anak panti menyambut dirinya dan kak Rita dengan antusias.
Vina bermain-main sebentar dengan beberapa anak panti itu. Saat melihat anak-anak itu tertawa karena hal-hal sederhana yang dia lakukan, Vina kini menyadari jika masalahnya tak ada seujung kuku pun dibanding dengan penderitaan anak-anak panti itu. Mereka besar dan tumbuh tanpa mengenal orangtuanya dan mereka bertahan hidup hanya dengan uluran tangan para donatur, tapi Vina kagum, anak-anak itu masih bisa tertawa seakan apa yang mereka alami sudah sangat biasa bagi mereka.
"Gimana? seneng kamu?" tanya Rita, Vina mengangguk dan tersenyum tipis. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan sering mengunjungi panti itu, nanti.
Kedua wanita itu akhirnya tiba di rumah pukul 6 sore. Vina langsung ke kamar karena ponselnya kembali berdering. Dia tidak mau anggota keluarga yang lain mendengar jika dirinya dekat dengan anak dari seorang duda. Bisa-bisa dia akan diomeli oleh kedua kakaknya yang posesif itu.
Vina membuka pesan dari Enzo, bocah itu mengatakan jika dirinya sebentar lagi akan take off. Enzo bahkan mengirimi Vina foto dirinya yang berpose keren karena memakai kacamata hitam.
"Tunggu aku, calon mama."
Vina hampir saja menjatuhkan rahangnya membaca 4 suku kata yang berhasil membuatnya syok. Siapa yang menulis pesan itu? apakah Galang? ah rasanya tak mungkin pria itu. Kenapa Enzo malah mengetik hal itu di ponsel papanya.
Vina tak lagi mendapat kiriman pesan apapun dari nomor si beruang kutub, tapi dia malah kepikiran apakah Enzo sampai dengan selamat di Jakarta? Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi Vina sama sekali belum bisa terpejam.
Vina yakin, jika mantan suaminya pasti mengirim pesan karena masalah Asya di salon tadi. Bukan salahnya jika dia tidak mau menolong orang yang terang-terangan memusuhinya. Vina hanyalah manusia biasa yang juga bisa sakit dan terluka. Tak lama Vina akhirnya tertidur setelah sejak tadi kepikiran tentang Enzo.
...***...
Pagi buta Enzo sudah minta pada pengasuhnya untuk menyiapkan baju ganti. Hari ini dia ingin menemui kakak cantik, calon mamanya. Entah kenapa Enzo sangat yakin, kakak Vina pasti akan menjadi mamanya. Wanita itu lembut penuh kasih sayang dan mudah tersentuh.
Setelah mandi, Enzo mengatakan pada pengasuhnya jika dia akan mendatangi rumah kakak cantik itu, akan tetapi pengasuhnya segera mencegah. Ia tak ingin dipecat gara-gara mengijinkan Enzo pergi begitu. Pengasuh itu pun mengetuk pintu kamar tuannya. Padahal jam masih menunjukkan pukul 6.
Galang yang baru saja selesai melakukan olahraga pagi langsung keluar. Dia menatap pengasuh putranya menunduk di depan pintu.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Tuan muda memaksa ingin bertemu dengan kakak cantiknya, Tuan."
Mendengar hal itu Galang berdecak, dia segera menutup pintu kamar dan mendatangi Enzo di kamarnya. Dia melihat putranya sudah rapi namun dengan stelan kemeja dan celana panjang.
"Mau kemana?"
"Aku mau ketemu kakak cantik."
"Apa Enzo pikir kakak cantik itu mau ketemu Enzo kalau Enzo bolos sekolah? Wanita mana pun pasti tidak akan suka punya anak yang hobi bolos sekolah," kata Galang, ucapan pria itu lebih kepada sindiran halus dan bukan teguran. Menegur Enzo hanya akan membuatnya lelah karena setelah itu pasti Enzo mendebatnya.
Enzo tampak berpikir, lalu sedetik kemudian dia melepas kancing kemejanya. Dia menatap papa dan pengasuhnya bergantian, lalu dia meminta pada pengasuhnya untuk menyiapkan seragam sekolahnya.
"Pulang sekolah, aku tidak mau tahu, aku harus ketemu kakak cantik."
"Ya, terserah, tapi papa tidak bisa menemani."
"Ya tidak bisa gitu, kalau kakak Vina mau jadi mamaku, yang menang banyak itu papa." Alis Galang seketika bertaut, apa maksud putranya?
"Maksud kamu?"
"Kata Mario dan Sion, mama mereka selalu menempel pada papanya. dan kalau malam, mama mereka tidur dengan papanya. Mario dan Sion sering dibiarkan dengan pengasuhnya. Kalau kakak cantik jadi mamaku, itu artinya kakak cantik akan selalu sama papa, tidur juga dengan papa. Bukankah begitu?"
Mama Laras yang mendengar ucapan Enzo hanya bisa tertawa di balik pintu. Awalnya dia ingin melihat cucunya, apakah sudah bersiap atau belum, tapi dia justru malah mendengar pemikiran cerdas cucunya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...