Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Hamil?


__ADS_3

Dokter yang memeriksa Vina tersenyum lembut. Dia memasukkan stetoskopnya kedalam tas yang tadi dibawanya.


"Kondisi mbak Vina baik-baik saja. Hanya memang tekanan darahnya rendah. Saya sarankan untuk mengunjungi dokter kandungan. Menurut pemeriksaan saya sepertinya mbak Vina ini sedang hamil.


"Hamil?" beo Galang.


"Iya, tapi untuk pastinya bisa dilakukan dengan mengecek menggunakan testpeck. Atau kalau mau lebih yakin bisa datang ke dokter kandungan.


" Oh, baiklah, Dok. Terima kasih."


Galang mengantar dokter perempuan itu sampai di depan pintu kamarnya. Dia segera kembali masuk dan menemui istrinya. Senyum Galang mengembang sempurna, tapi tidak dengan Vina. Wajah Vina yang pucat terlihat murung.


"Ada apa denganmu, Vin? apa kamu tidak senang dengan kabar ini?"


"Aku senang, Mas, tapi aku khawatir perkiraan dokter mengenai aku salah."


"Kalau perkiraan dokter salah, kita bisa mencobanya lagi. Vin, kita ini baru dua bulan menikah. Aku tidak buru-buru menuntutmu untuk segera hamil. Akan tetapi jika Tuhan sudah berkehendak, bukankah kita perlu berbahagia menerimanya."


"Tapi bagaimana kalau aku engga hamil, Mas."


"Aku tidak apa-apa. Kamu mau ngasih aku anak atau engga, aku tetap mencintai kamu, Vin."


Galang memeluk Vina. Ia tahu istrinya sedang merasa insecure dengan dirinya sendiri. Padahal jelas-jelas dari dokter mengatakan jika hasilnya bagus semua. Bahkan produksi sel telur Vina tergolong bagus.


"Sekarang kamu istirahat, ya."

__ADS_1


"Iya, Mas."


Vina kembali memejamkan matanya. Galang ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Galang memeluk Vina hingga tubuh Vina tenggelam dalam rengkuhannya.


"Kamu itu jangan selalu merasa insecure, Sayang. Aku menerima kamu apa adanya sejak awal aku ingin meminangmu, aku hanya menginginkan kamu, kalau pun kelak kamu melahirkan banyak anak untukku aku akan sangat senang. Itu bonus untukku."


Vina mengangguk perlahan. Dia membalas memeluk tubuh Galang. Keduanya jatuh terlelap ke alam mimpi hingga malam menjelang.


Vina terbangun dari tidurnya. Namun, ia tak mendapati suaminya ada di sampingnya. Vina bangkit dari tidurnya. Tubuhnya merasa lebih bugar dari tadi siang. Vina lalu bangkit dan mencari keberadaan suaminya.


"Mas," panggil Vina. Saat ia tak mendapati Galang ada di kamar mandi, Vina memutuskan untuk keluar dari kamar.


"Mas."


Vina turun, dia berpapasan dengan bik Sumi.


"Tadi pergi sebentar, Non. Katanya mau ke apotik."


"Oh, begitu ya."


"Bik, saya mau dibuatkan jus pisang dicampur buah naga, di kasih yoghurt, ya."


"Iya, Non." Bik Sumi langsung ke belakang untuk membuatkan minuman sesuai permintaan Vina.


"Mas Galang ngapain ke apotik?" gumam Vina. Namun, tak lama bunyi klakson mobil membuat Vina tersenyum senang.

__ADS_1


Dia segera menuju ke pintu depan untuk menyambut suaminya.


"Mas."


"Kamu udah bangun? gimana, masih pusing?"


"Udah engga."


"Tadi aku ke apotik nyari susu buat kamu."


"Susu?"


"Iya, susu buat ibu hamil."


"Tapi, Mas. Aku kan belum tahu hamil beneran apa engga."


"Engga apa-apa. Kamu tetap bisa minum susunya meskipun kamu engga hamil."


"Masalahnya tadi siang aku juga beli susu, Mas," batin Vina.


Vina tersenyum kaku, dia tak mungkin jujur, tapi ya sudahlah. Tak lama Bik Sumi datang membawa pesanan Vina.


"Ini, Non. Sama makan malamnya sudah siap."


"Oh, iya. Makasih, Bik."

__ADS_1


Vina membawa gelasnya dan berjalan menggandeng tangan Galang menuju ruang makan.


__ADS_2