
****
Siang ini, Vina duduk termenung di taman kesayangan bundanya. Tatapan matanya menerawang dan tampak sendu. Entah apa yang ada di pikiran perempuan itu. Dia hanya merasa meskipun kini ia terbebas dari ikatan pernikahannya, tapi entah mengapa ada perasaan sedih. Vina teringat akan pesan terakhir bundanya sebelum tiada.
Saat itu Vina pergi liburan dengan ayah dan bundanya. Sejak kedua kakaknya berkeluarga, Vina selalu mendapat perhatian penuh dari kedua orangtuanya.
"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Sahila ibunda Vina.
"Lihat deh, Bun. Kakek sama nenek itu so sweet banget, ya," kata Vina sambil menunjuk pasangan kakek dan nenek yang sedang duduk berdua. Kedua lansia itu duduk di bawah pohon. Si nenek sedang mengupas buah sementara si kakek sedang menyiapkan piring, mungkin untuk menyimpan buah yang dikupas oleh si nenek.
"Iya, bunda juga pengen bisa menua sama ayah seperti mereka. Pasti anak-anak mereka sudah berkeluarga semua, makanya mereka hanya menghabiskan waktu berdua."
Mendengar itu, Vina jadi merasa iba pada kedua kakek nenek itu. Dia jadi tak ingin buru-buru menikah, agar dia punya banyak waktu untuk merawat dan membahagiakan kedua orangtuanya.
"Kalau begitu, Vina nikahnya ga mau cepet-cepet. Biar Vina bisa menemani kalian sampai tua nanti."
Sahila tertawa mendengar ucapan putrinya. Dia menepuk kedua tangan Vina yang memang sejak tadi menggenggam tangannya. "Bunda sama ayah justru pasti akan sedih kalau kamu sampai menunda menikah hanya karena kami."
"Tapi, Vina engga mau bunda sama ayah kesepian."
__ADS_1
"Kalau kelak Vina menikah dan punya anak, kami pasti tidak akan. merasa kesepian. Seperti dengan adanya Ken, Bunda dan ayah malah merasa senang. Karena kita ada penerus. Vina kelak jika menikah, menikahlah untuk sekali seumur hidup," tutur Sahila.
"Ya kan memang menikah itu sekali seumur hidup, Bun. Bunda, nih, ada-ada aja."
"Sebagian besar memang mereka menikah sekali seumur hidup, tapi ada yang menikah lebih dari sekali. Itu lah mengapa sebelum menikah, kita wajib mengenal siapa calon jodoh kita. Agar kedepannya tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, bahkan berujung pada perceraian."
"Ih, amit-amit, Bun. Vina juga engga mau sampai cerai. Gimana pun, Vina pasti akan berusaha untuk mencari solusi saat rumah tangga Vina ada masalah."
"Itu bagus, Sayang. Memang seharusnya begitu. Pernikahan itu bukan hanya menyatukan insan yang sedang saling jatuh cinta saja, tetapi juga menyamakan isi dari dua kepala yang berbeda. Jadi seandainya suami sedang jadi api, setidaknya sebagai seorang istri kita harus menjadi air. Air bisa memadamkan api yang berkobar. Ibaratnya kamu harus mau mengalah jika memang suamimu sedang keras kepala. Jangan malah ikut-ikutan mengeras. Karena sejatinya pria itu lebih suka tampak dominan. Jadi meskipun kita benar, tahan. Jangan langsung bicara dengan notasi tinggi pada suamimu. Vina juga jangan memandang seseorang dari harta bendanya. Kalau pria itu baik, tapi tidak kaya, tidak masalah. Asal dia bisa membawa kebahagiaan buat kamu."
"Iya, Bunda. Aku bakalan ingat pesan bunda."
"Maafin Vina, Bunda. Vina tidak bisa memenuhi janji Vina." Vina mengusap air matanya, ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya. Vina menengadah, bibirnya yang tipis tersungging senyum hangat. Vina buru-buru mengelap sisa air mata di pipinya.
"Mas, kok di sini," tanya Vina kaget saat melihat Galang ada di sana.
"Aku nyariin kamu dari tadi."
"Aku kangen sama Bunda makanya aku ke sini."
__ADS_1
Galang ikut duduk di samping Vina. Matanya menatap intens wajah calon istrinya itu. Entah mengapa Galang menangkap kesedihan lain di wajah Vina. Apakah Vina menyesal telah berpisah dengan suaminya atau sebenarnya Vina masih memiliki rasa pada pria itu?
"Vina, mulai sekarang dan seterusnya, kamu boleh kok kalau mau cerita tentang semua keluh kesahmu. Mulai sekarang kamu bisa menjadikan aku sandaran."
Vina lagi-lagi tersenyum, ia tak menyangka pria yang tadinya begitu dingin padanya kini berubah menjadi pria yang penuh kelembutan.
"Mas, kenapa Mas mau melamarku? apa ini karena Enzo?" tanya Vina. Galang tersenyum, dia menarik tangan Vina dengan lembut dan lalu mengusapnya dengan penuh perasaan.
"Bukan karena Enzo, Mungkin awalnya iya, Enzo terus-terusan membujukku untuk meminangmu menjadi ibu sambung untuknya, tapi aku tidak mau egois. Meskipun sejujurnya aku memang selalu kepikiran tentang anak itu.
Enzo selalu menolak dekat dengan perempuan-perempuan yang dijodohkan mama padaku. Itu lah mengapa aku tetap memilih sendiri, tapi saat Enzo tertarik padamu, aku berpikir, apa bagusnya kamu dibandingkan dengan perempuan-perempuan itu dan kemudian pertanyaan itu terjawab oleh hatiku sendiri," kata Galang.
"Maksud, Mas?"
"Ya, aku merasa kamu berbeda dari kebanyakan wanita dan jujur aku suka itu. Selain itu, aku benar-benar tidak punya alasan lain. Aku menyukaimu dan rasa suka itu lambat laun berubah menjadi sayang."
Vina hanya terdiam mendengar ucapan Galang. Wanita itu tak tahu harus bereaksi apa mendapatkan pengakuan seperti itu dari galang.
"Mau ikut jemput Enzo?"
__ADS_1
"Boleh?" tanya Vina. Galang mengangguk sambil tersenyum lembut.