
*****
"Bagaimana, Pras? apakah kamu berhasil membujuk Vina? pasti dia dengan mudah menerimamu 'kan?" tanya bu Siti tak sabaran saat melihat Pras memasuki pekarangan rumah. Pras hanya diam dan menunduk lemas. Ia masih setengah tak percaya dengan penolakan yang Vina katakan beberapa waktu lalu.
Pria itu mengangkat wajahnya lalu menggeleng lemah ke arah ibunya, Mata Bu Siti seketika membulat sempurna. Putranya yang lulusan sarjana dan berwajah tampan itu ditolak oleh mantan istrinya yang hanya lulusan SMA itu. Bu Siti mengerling kesal pada putra pertamanya.
"Kamu itu, Pras. Beneran enggak bisa diharapkan."
"Pras harus bagaimana lagi,Bu? Pras udah usaha, tapi Vina langsung menolak meskipun Pras bawa-bawa restu dari ibu. Ia sudah tidak minat lagi."
"Kalau begitu bawa ibu ke kedainya, sekarang."
"Percuma, Bu. Vina tadi pergi dengan seorang pria," ujar Pras dengan wajah lesu. Gairah hidupnya seakan hilang entah kemana.
"Apa?" pekik Bu Siti. "Perceraian kalian saja masih belum diproses. Bisa-bisanya dia pergi dengan pria lain?"
"Pras juga bingung, Bu."
"Ya sudah, kalau begitu. Kamu juga buktikan pada dia kalau kamu juga bisa cari pengganti dia dan lebih segalanya."
Pras tidak lagi menyahuti ucapan ibunya. Dia masuk ke kamar dan membanting pintu kamar dengan keras. Bu Siti hanya dapat geleng kepala melihat tingkah putranya. Tiga hari yang lalu Pras pulang dari rumah sakit dengan wajah yang berseri-seri, tapi kini ia kembali lagi ke keadaan semula. Kebencian di hati bu Siti yang sempat surut kini kembali berkobar, bahkan mungkin semakin bertambah besar.
"Lihat saja, kamu sudah membuat anakku kecewa. Kali ini aku tidak akan melepasmu," desis bu Siti.
Pras termenung di dalam kamar. Pikirannya melayang pada ingatannya 2 jam yang lalu saat Vina memasang wajah datar, baru beberapa hari yang lalu mereka bersama dan tatapan mata Vina masih menyimpan cinta, tapi kini tidak lagi. Siapa yang harus disalahkan sekarang? Dia tidak ingin menyalahkan orang lain terlebih ibunya. Apakah dia harus menyalahkan dirinya sendiri? Dirinya dengan suka rela berbakti pada ibunya tanpa memikirkan perasaan istrinya yang selalu diam meskipun diperlakukan tidak adil olehnya. Harusnya sejak awal dia juga memikirkan perasaan Vina. Bahkan Pras belum sempat mengenal baik kedua kakak Vina.
Pras tiba-tiba mendapat ide. Sepertinya dulu dia mencatat nomor kedua kakak Vina sewaktu Vina sakit, dulu ia berniat menghubungi salah satunya tapi Vina melarang keras. Siapa tahu mereka mau membantu dirinya untuk rujuk dengan Vina.
Pras mencari nomor kedua kakak Vina, dia mencoba menghubungi Fahri kakak pertama Vina. Namun berkali-kali dicoba, panggilannya tidak ada satu pun yang diangkat. Tak mau menyerah, Pras beralih mencari nomor Fauzi, tapi lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan. Mungkin kedua kakak Vina sama-sama sudah mengetahui masalah mereka. Pras melempar ponselnya dengan asal ke atas ranjang.
__ADS_1
"Huh, kalau udah enggak ada baru kerasa," gumam Pras.
Pras kembali mengingat wajah pria yang tadi bersama Vina. Pria itu tampaknya lebih muda darinya beberapa tahun, namun lebih tua dari Vina. Pria itu terlihat begitu tenang saat tadi melihatnya. Sebenarnya apa hubungan mereka? apa jangan-jangan selama ini memang Vina memiliki pria lain? itu mengapa Vina kemarin meminta cerai. Ya, pasti begitu.
Tanpa sadar Pras kini men-sugesti dirinya bahwa kesalahan ada pada Vina. Ya, Vina meninggalkannya pasti karena ada laki-laki itu. Bahkan di depan mata kepalanya sendiri ia bisa melihat Vina masuk ke dalam mobil pria itu. Ya, pasti itu alasannya. Laki-laki yang kini di dekati Vina lebih mapan darinya. Pikiran Pras tanpa sadar terus mengulang kata-kata hasil pemikirannya yang sesat. Pras tidak mau kesalahan hanya ada pada dirinya.
...***...
"Bagas, bilang sama istrimu. Ibu nagih uang yang dia pinjam beberapa bulan yang lalu."
"Ibu sama menantu sendiri perhitungan banget sih?" gerutu Bagas. Pras makan dengan tenang tanpa mempedulikan kedua anggota keluarganya yang sedang beradu mulut itu.
"Kalau istrimu itu sedikit saja peduli dengan kesusahan ibu sekarang, mungkin ibu bisa bersikap baik sama dia. Lah ini, sudah engga mau bantu keuangan ibu, engga mau bantu beres-beres rumah, eh ... mau enaknya aja."
"Asya kan kerja, Bu. Ya, tolong ngerti dong dengan kesibukan dia. Dia kan manager, kerja engga cuma di satu lokasi. Dia harus mengecek tiap cabang hotel itu. Pulang juga pasti udah capek banget, Bu."
"Kalau ibu capek, kita patungan aja sewa pembantu."
"Aku engga ada uang, Bu. Kalau ibu mau uang belanjanya aku kurangi, ya, engga apa-apa."
"Bisamu cuma ngancam ibu aja, Pras. Kamu juga mikir dong. Ibu ini udah tua, masak iya apa-apa ibu kerjakan sendirian," protes bu Siti.
"Ya resiko, Ibu. Lagian aku udah usaha nyari istri yang bisa bantu ibu, tapi pada akhirnya ibu juga yang mengusirnya keluar dari rumah ini," kata Pras dengan santai.
"Ampun deh, kamu ini Pras. Lagi-lagi itu terus yang dibahas. Ibu sampai malas dengarnya."
"Ya sudah, kalau ibu malas dengarnya, ibu juga jangan ngeluh sama aku. Aku juga malas mendengar keluhan ibu. Memang ibu pikir aku engga punya masalah sendiri?"
Pras membanting sendoknya dan langsung meraih kunci motor jadulnya yang ada di dekat lemari tempat penyimpanan piring keramik. Ia mengendarai motor jadulnya dan mulai mengarah ke warung kopi milik Kiki, si janda bo*hai.
__ADS_1
Setibanya di warung kopi, Pras disambut dengan baik oleh kiki si pemilik warung. Dengan senyum yang merekah di bibir merahnya Kiki mengajak Pras agar duduk di sana. Beruntung warung Kiki saat itu sepi pembeli.
"Kok tumben ke sini siang, Mas?" tanya Kiki dengan nada bicara yang dibuat-buat.
"Lagi suntuk di rumah," jawab Pras singkat. Tanpa menawarkan minuman apa yang ingin diminum oleh Pras, Kiki bergerak dengan sangat cekatan dan terampil membuatkan kopi kesukaan Pras. Kiki lalu meletakkan gelas itu di depan Pras dengan senyuman genitnya.
"Sepi ya, Ki."
"Iya, Mas. Namanya juga usaha. Kadang ramai kadang juga sepi."
"Ga mau tutup lebih awal?"
"Hah? gimana maksudnya?"
"Ya warung kamu tutup dulu. Kita kemana kek."
"Mas Pras ngajakin Kiki jalan-jalan? ga takut nanti dimarahi istri, Mas Pras?"
"Aku lagi dalam tahap cerai," sahut Pras tanpa memalingkan wajahnya. Kiki tampaknya tak terkejut lagi, ia sudah tahu berita ini dari Bagas, adiknya Pras. Hanya saja dia tidak mau ikut campur. Sudah cukup dia menyandang predikat janda. Jangan sampai gara-gara hal yang sepele ia harus menyandang gelar baru yaitu Pelakor.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sambil nunggu, bingung cari bacaan menarik? mampir yuk di Novel karya Momy Dandelion judul karyanya **Pemuas ranjang CEO
Blubr:
21+
Menjadi penghangat ranjang lelaki beristri tega Retha lakukan demi mendapatkan uang. Hubungan yang awalnya sebatas saling membutuhkan lambat laun menumbuhkan cinta.
__ADS_1
Ketika cinta mulai bersemi di antara mereka, istri Bara yang telah lama pergi tiba-tiba kembali. Apa yang akan Retha lakukan menyadari posisinya sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Bara dan Silvia**?