Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bersama Enzo


__ADS_3

****


Akhirnya perjalanan liburan mereka telah usai. Vina terlihat tampak sangat bahagia pulang dari sana. Bahkan Galang mewujudkan apa yang pernah menjadi impiannya yaitu foto prewedding di Gyeongbokgung, peninggalan Kerajaan Joseon dengan memakai baju Hanbok.


Setibanya di Indonesia, calon pengantin itu pun harus berpisah karena Vina dibawa keluarganya langsung pulang. Sedang Galang harus mengurus ini dan itu sebelum akhirnya ia membawa keluarganya untuk melamar Vina.


Setibanya di rumah, Vina mendapat kabar dari Fadil jika kemarin kedainya sempat mengalami kebakaran. Vina kaget bukan main. Dia tak sempat naik ke kamar, tapi langsung mengajak Fadil ke kedai.


"Istirahat aja dulu, Vin."


"Engga bisa, Kak. Aku janji, cuma mau ngecek aja."


"Ya sudah, tolong dijaga beneran ya, Dil."


"Iya, bos."


"Udah kaya anak kecil aja aku dititipin."


"Sampai kapan pun kamu itu adik kecil kami."


Vina pun akhirnya pergi ke kedai bersama Fadil.


Sayang seribu sayang, nasib Vina memang sedang tidak mujur hari ini, saat dia mengunjungi kedainya, Asya mantan iparnya ternyata sedang makan di kedai itu bersama beberapa teman dari tempat kerja barunya.

__ADS_1


"Eh, lihat, aku dengar dia itu owner kedai ini, loh," ujar salah satu teman Asya.


"Ah biasa saja. Siapa saja bisa seperti dia," sahut Asya.


"Halah, jangan banyak ngomong. lo aja masih jadi SPG sampai sekarang, bilang pencapaian orang lain biasa." Teman Asya yang lain tampak menyahuti dengan perasaan kesal.


Vina hanya tersenyum miring mendengar ucapan orang-orang itu.


"Sayang kamu di sini?" Vina seketika menoleh saat mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya.


Saat ia melihat Galang berdiri di belakangnya, senyum Vina langsung mengembang. Dia pun berjalan mendekat ke arah Galang yang berdiri di dekat meja Asya.


"Iya, Mas. aku kemari sama Mas Fadil. Aku mau mengecek kondisi dapur yang kemarin kebakaran." Vina tiba-tiba bergelayut manja di lengan Galang. Galang sedikit terbelalak kaget dengan tingkah Vina, tapi ia memilih diam dan menikmati momen itu.


"Enzo minta dibelikan ayam dan harus yang dari kedai mamanya katanya."


"Berati Enzo mau melarisi dagangan mamanya," kata Vina. Dia perlahan menarik tangan Galang dan membawa Galang berkeliling.


Hati Galang diliputi perasaan bahagia. Vina memperkenalkan Galang pada semua pegawainya sebagai calon suami.


Vina mengambil beberapa potong ayam kesukaan Enzo dan membungkusnya.


"Ini ayamnya, Mas. Cepat pulang, nanti Enzo nungguin."

__ADS_1


"Kamu ikut, yuk. Nanti pulangnya aku antar."


"Boleh."


"Mas Fadil, bilang ke kakak, ya. Aku mau menemui Enzo. Nanti pulang diantar sama Mas Galang."


"Baik, Non."


Vina pun akhirnya pergi menggandeng tangan Galang. Asya mendengus kesal melihat kemesraan Vina dengan pria tampan tadi.


"Dasar menyebalkan, tukang pamer," desis Asya.


Di dalam mobil yang sedang melaju, Galang mengatakan pada Vina jika dua hari lagi keluarganya akan datang untuk melamar Vina. Tentu saja hal itu membuat Vina senang bukan main.


Saat mereka tiba di rumah Galang, Enzo tampak menyambut kepulangan papanya. Namun, saat melihat pintu penumpang terbuka, Enzo semakin menjerit kegirangan karena ia melihat Vina ada di sana.


"Ah, mama datang!" pekik Enzo. Bocah itu langsung menghambur memeluk kaki Vina.


"Iya, dong. Kata papa tadi Enzo mau makan ayam, makanya mama kemari."


"Ayo masuk, Mah. Masuk!" seru Enzo sambil melompat lompat.


Vina benar-benar senang merasa diperlukan. Dia pun akhirnya masuk dengan menggandeng tangan Enzo. Galang mengikuti dari belakang dengan hati yang bahagia.

__ADS_1


__ADS_2