Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bertemu Pras


__ADS_3

Vina duduk sembari mengamati suaminya yang sedang antri di kasir dari kejauhan. Dia sibuk menyendok es krim yang dibelinya dari stand di samping tempat dirinya duduk. Sedang asyik-asyiknya menyendok es krimnya, tiba-tiba seseorang menyenggol punggung Vina hingga akhirnya es krim yang ada di tangannya terjatuh.


"Maaf. Maaf mbak, saya ga sengaja."


Deg!!


Vina mengerjap dia masih ingat suara itu. Dia tetap diam dan menunduk. Beruntung Galang sudah selesai dan segera mendekat.


"Ada apa ini?"


"Maaf mas, saya .... " Pria yang tadi tak sengaja menyenggol Vina sesaat terkejut melihat Galang berdiri di hadapannya. Secara otomatis, matanya melirik wanita yang tadi dia senggol.


"Sayang, kamu engga apa-apa?" tanya Galang pada Vina. Vina menengadahkan wajahnya dan tersenyum tipis. Dia bangkit dari duduknya sembari menggeleng.


"Engga apa-apa, tapi es krimku jatuh, Mas."


"Nanti mas belikan yang besar. Sekarang ayo pulang, kamu udah capek kesana kemari dari tadi." Keduanya seperti tak menganggap pria yang tadi menyenggol punggung Vina.


"Vin." Pria itu masih menatap tak percaya. Vina menoleh, tapi tatapan matanya terkesan datar.


"Ya?"


"Pras, ini ibu belikan yang gramnya kecil. Lagian kan ini pernikahanmu yang kedua. Jadi engga perlu wah," Kata Bu Siti. Dia belum menatap putranya dan mantan menantunya yang kini sedang berhadapan.


Mendengar suara bu Siti, Vina tersenyum. Ternyata masih sama saja toh. Dia pikir ada perubahan.

__ADS_1


"Sayang, ayo. Enzo juga udah pasti nunggu."


"Iya, Mas. Sebentar."


Mendengar suara Vina, Bu Siti langsung mengangkat wajahnya. Matanya terbelalak melihat Vina yang sekarang. Penampilannya modis, meskipun tubuhnya mengembang.


"Ka_kamu."


"Iya, ini saya, Bu. Apa kabar? kaget ya, kalau si mandul ini ternyata bisa hamil juga?" sindir Vina. Bu Siti hanya diam sembari menelisik Vina dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Saya permisi duluan, ya." Vina menggenggam jemari suaminya dan lalu pergi dari sana. Pras tertegun menatap kepergian Vina dengan tatapan sendu.


"Muka kamu kenapa, Pras? nyesel cerai sama dia?"


"Apa sih, Bu."


Galang mendorong troli dan merangkul bahu Vina. Ibu hamil itu cemberut sejak tadi. "Kok masih manyun gitu?"


"Es krimku, Mas. Aku baru makan sedikit tadi."


"Ya udah, mas belikan lagi mau?"


"Mau, Mas."


"Ya udah kalau begitu, kamu tunggu di sini, Mas yang kesana. Nanti kamu malah ketemu mereka lagi."

__ADS_1


"Hmm, ya deh."


Vina duduk di sebuah bangku panjang. Galang sengaja meninggalkan trolinya di sana. Dia kembali turun untuk membeli es krim yang diinginkan oleh istrinya.


Vina menunggu sembari memainkan gadgetnya. Dia terlihat sangat serius bermain sampai tak menyadari jika ada orang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.


"Selamat ya, Vin." Vina seketika mengangkat wajahnya, ia menatap malas ke arah orang itu.


"Iya, terima kasih."


"Aku minta maaf ya, Vin. Andai saja waktu itu aku dengerin saran kamu buat periksa juga. Mungkin sekarang .... "


Vina langsung berdiri. Dia tak mau mendengar kisah masa lalunya.


"Sudah, Mas. Aku udah maafin kamu, jangan berandai-andai. Karena semua yang terjadi sudah takdir yang harus kita jalani. Permisi." Vina menarik trolinya, tapi kemudian tangannya di tahan oleh Pras.


"Tunggu, Vin."


"Apa lagi?"


"Aku .... "


"Sayang, ini es krimnya." Galang lagi-lagi muncul di saat yang tepat. Pras melepas tangan Vina. Dia menatap canggung ke arah Galang.


"Tolong hargai privasi istri saya. saya tahu di masa lalu kalian ada hubungan, tapi semua sudah selesai. Sekarang Vina istri saya. Jangan menganggunya lagi."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2