
*****
Hari ini Vina berniat mengunjungi kedai sebelum berangkat ke kampus untuk meminta tanda tangan salah satu dosennya. Tak terasa sudah seminggu sejak dia kembali ke rumah orangtuanya ia tak pernah mengunjungi tempatnya mencari kesibukan.
Kini Vina sudah bersiap hari ini ia memakai dress berwarna silver dengan panjang dibawah lutut, panjang lengan dress yang ia kenakan hanya sebatas siku, bagian pinggangnya mengerut dengan pita di bagian belakang. Vina mengikat rambutnya tinggi dan memoles wajahnya dengan make up flawless.
"Pagi, semuanya."
Vina mencium pipi kak Fahri dan kak Fauzi lalu kedua iparnya, dan dia mengacak satu per satu rambut keponakannya. Ia terlihat lebih segar dan jauh dari kata patah hati meskipun tidak ada satupun yang tahu bagaimana perasaannya.
"Tante, jangan diacak-acak," protes Ken yang terlihat sangat rapi dengan seragam sekolahnya.
"Ken, kamu harusnya menikmati saat-saat tante ada di sini. Nanti kalau kamu pulang ke rumah kamu dan jarang ketemu tante, kamu pasti bakalan kangen tante."
"Aku sudah bilang mama, Ken akan tinggal di sini jagain tante."
"Wah, kalau kamu jaga tante, mama sama papa kamu bisa keenakan," celetuk Fauzi. Vina dan Hani yang tahu arah pembicaraan Fauzi hanya tertawa sedang Fahri dan Rita mengerucutkan bibirnya.
"Nanti kamu akan diantar oleh Fadil, ia pasti sekarang sedang bersiap juga," kata Fahri sambil memakan potongan omelet di hadapannya.
"Iya," jawab Vina singkat, ia mengambil sepotong roti dan mengolesinya dengan selai nutella kesukaannya.
"Jangan terlalu lama di kedai. Kakak tidak mau kamu ketemu lagi dengan laki-laki tak bertanggungjawab itu," sambung Fauzi. Vina hanya mengangguk sambil mengunyah rotinya.
Kedua kakaknya semakin posesif sejak seminggu yang lalu. Vina hanya bisa pasrah saja asalkan bisa membuat kedua kakaknya merasa tenang. Dia akan merasa sangat bersalah jika membuat kedua kakaknya terus menerus memikirkan masalahnya. Ia sendiri sudah mulai ikhlas menjalani takdir yang menuntunnya. Jika bukan gara-gara nafkah ia tak akan ada di sini sekarang. Di tengah-tengah keluarga yang sangat menyayanginya dan Vina sangat menikmati suasana yang dulu memang sempat dia lalui sebelum menikah.
Vina keluar dengan tak selempang bukan branded. Dia lebih menyukai produk UKM dari beberapa daerah di Indonesia yang dulu sering dia datangi saat liburan. Namun sejak menikah dia tak pernah memiliki waktu untuk melakukan semua hobinya.
"Mas Fadil, ayo." Vina menepuk pundak Fadil yang sedang sibuk berkirim pesan dengan kekasihnya yang seorang perawat itu. Pria itu tersenyum dan lalu mengangguk pada Vina.
Fadil membukakan pintu mobil untuk Vina, perempuan itu duduk di kursi belakang dengan tenang. Sudah 1 tahun dia tidak menikmati fasilitas mewah yang sebenarnya selalu tersedia untuknya.
__ADS_1
"Kita ke kedai dulu, baru nanti agak siang ke kampus ya, Mas," kata Vina.
"Baik, Non."
"Mas Fadil katanya mau lanjut ambil S2 ya?"
"Iya, Non. Bulan depan sudah mulai."
Vina mengangguk-angguk. Dia lantas diam karena sepertinya lawan bicaranya kali ini tidak membuka percakapan untuk menyambung pertanyaannya. Sepanjang perjalanan tatapan mata Vina terus terarah ke jalanan. Ingatannya lebih banyak tertuju ke masa dimana sebelum dirinya menikah dengan mantan suaminya. Karena sebelum menikah, Pras sering memperlakukan dirinya dengan baik dan mesra.
"Kita sudah sampai, Non." Tiba-tiba suara Fadil mengejutkan Vina. Ia langsung tersadar dari lamunan.
"Eh, iya. Makasih, Mas. Ikut masuk aja dulu, ya, Mas. Saya kayaknya agak lama deh," kata Vina. sambil tersenyum. Fadil mengangguk lalu keluar lebih dulu untuk membukakan pintu mobil untuk Vina.
Vina berjalan memasuki gerai yang terbilang cukup ramai di jam pagi ini. Dia melewati beberapa kursi pengunjung dan menuju meja kasir.
"Mas, Saya nanti minta laporan selama seminggu ini, Ya. Sama besok Jumat jangan lupa 100 box untuk dibagikan."
"Aku ke ruanganku dulu, ya. Selama ditinggal enggak ada masalah, kan?"
"Enggak ada, Mbak Vin, semuanya berjalan normal."
"Oh, ya udah. Bu Risma kemana, ya?"
"Bu Risma tadi lagi di dapur, lihat stok barang."
Vina langsung berjalan melewati meja kasir dan berbelok menuju tangga atas. Ruangannya berada di lantai dua ruko. Bagian depan direnovasi sedemiki rupa agar sisa ruangan itu bisa dijadikan tempat nongkrong anak-anak muda.
Vina masuk ke ruangannya dan duduk di kursi kerjanya. Ia meletakkan tasnya diatas meja. Keseharian Vina di kedai itu adalah mencatat dan merekap semua nota penjualan dan nota pembelian. Ia juga yang secara langsung berhubungan dengan semua distributor penyedia bahan-bahan makanan yang ia jual. Alasannya sangat sederhana, Vina ingin memastikan sendiri barang yang ia jual layak untuk dikonsumsi pelanggannya.
Ponsel Vina bergetar, ia membuka pesan dari aplikasi hijau dimana nama mantan suaminya tertera di sana. Vina tidak ada niatan untuk membuka pesan karena dari notifikasi ponselnya, ia masih bisa membaca sederet kalimat yang dirasa sangat mustahil untuk dia kabulkan.
__ADS_1
Dek, ibu sudah merestui kita. Aku mau rujuk.
Enak sekali bicara segampang itu setelah apa yang dia lakukan selama ini. Seolah-olah mantan suaminya tidak butuh pendapatnya. Vina hanya mendengus lalu mematikan ponselnya, saat ini ia tidak mau diganggu oleh siapapun.
Vina kembali larut dengan aktivitasnya. Ia lupa pada jadwalnya bertemu dengan dosennya. Fadil naik menyusul Vina, ia mengetuk pintu ruangan wanita itu.
"Non, apa anda tidak jadi pergi ke kampus."
"Hah, jam berapa ini?"
Vina sedikit kaget saat Fadil mengingatkan dirinya mengenai urusannya di kampus. Dia hampir saja melupakan hal penting lainnya karena terlalu sibuk. Dia lantas menutup buku besarnya dan memasukkannya ke dalam laci.
Vina meraih tasnya dan bergegas keluar dari ruangannya. Dia meminta maaf pada Fadil karena sempat lupa. Namun pria itu masih dengan sikap yang sama selalu lembut dan ramah.
Vina menuruni tangga beriringan dengan Fadil, tapi di anak tangga terakhir, kaki Vina yang berbalut sepatu high heel 7cm hampir tergelincir jatuh. Fadil dengan sigap menangkap pinggang Vina dan menariknya. Tatapan keduanya bertemu sesaat. Sampai suara seseorang mengagetkan mereka.
"Dek!" seru Pras setengah memekik.
Fadil dengan santai melepas belitan tangannya di pinggang Vina dan memastikan wanita itu berada di bawah dengan aman. Vina sedikit salah tingkah. Bukan tanpa sebab dia seperti itu, Vina hanya merasa tidak ingin melibatkan Fadil dalam masalahnya.
Vina menatap Pras tanpa berniat menegur mantan suaminya itu. Dia berjalan melewati Pras begitu saja. Namun Pras buru-buru menarik lengannya.
"Dek, Kita perlu bicara."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yuk sambil nunggu, mampir dimari yuk. Karya keren dari Yanktie Ino Judul karyanya "Tell Laura I love Her"
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dan di masukkan ke daftar Favorit kalian ya. 🥰🥰
__ADS_1