
Kebahagiaan Vina dan Galang sudah lengkap. Vina dan kedua bayinya sudah diijinkan pulang oleh dokter, beberapa hari yang lalu. Saat ini Vina dan Galang sedang mempersiapkan syukuran untuk Kenzi dan Zea.
Enzo sangat senang melihat kedua adiknya. Bocah itu tak pernah absen untuk berada di kamar Vina demi agar bisa melihat kedua adiknya.
"Adik Zea lucu sekali," kata Enzo. Dia mengamati adik perempuannya yang sedang menggeliat mencari sumber makanannya.
"Enzo, jagain Kenzi dulu, ya? Mama mau kasih minum Zea dulu."
"Oke, Mah. Aku sekarang udah gede. Kata oma udah jadi abang. Jadi harus pinter bantu mama jagain adiknya.
"Wah, anak mama memang pintar." Vina mulai memasang celemek untuk menyusui. Dia menyusui Zea sembari mengawasi Enzo dan Kenzi.
Galang masuk ke kamar dan tersenyum pada istrinya. Dia sesaat mengecup puncak kepala Vina dengan lembut. "Sebentar lagi tamu undangannya pada datang. Kamu habis ini siap-siap dulu."
__ADS_1
"Iya, Mas."
Zea kembali terlelap setelah meny*su. "Huh, aku sebel. Kenapa adiknya kok tidur terus, Mah?" Enzo melipat kedua tangannya di dada dengan bibir mengerucut lucu.
Vina tertawa begitu juga dengan Galang. "Namanya juga masih bayi, Sayang. Nanti kalau sudah agak besar pasti bisa diajak main. Sekarang dia tahunya cuma ny*su dan tidur. Kakak yang sabar, ya?" ujar Vina. Enzo akhirnya mengangguk.
"Ayo, Enzo juga siap-siap. Tamunya udah pada ngumpul." Galang hampir mengangkat putranya, tapi bocah itu menolak tegas.
"No, papa. Aku sudah besar. Jangan digendong."
Vina segera berganti baju dan bersiap. Acara syukuran kali ini Galang mengundang banyak orang dari semua kalangan. Dia mengundang anak-anak jalanan yang sering bertemu dengan Vina, dia juga mengundang anak panti asuhan, serta tak lupa juga dengan ibu-ibu pengajian dari yayasan tempat Galang dan Vina biasa menyumbang.
Semua hadirin telah berkumpul di taman yang ada di samping rumah megah itu. Taman itu sudah di dekorasi dengan banyak kursi dan meja-meja yang di atasnya sudah tersaji menu prasmanan.
__ADS_1
Hari ini benar-benar hari besar bagi Vina dan Galang. Tak terhitung berapa juta rupiah telah Galang keluarkan demi terselenggaranya acara tersebut. souvenir untuk para hadirin pun juga terlihat sudah berjajar rapi siap untuk dibagikan kepada para tamu.
Vina turun sambil mendorong stroller kedua anaknya. Bibirnya mengulas senyum manis pada keluarga besarnya yang turut hadir untuk memeriahkan acara syukuran hari ini.
"Duh, lucunya ponakan-ponakan aku."
"Vina dan dua baby nya kini sedang menjadi pusat perhatian para hadirin. Diantara sekian banyak orang yang hadir. Ada satu orang yang kini menatap tak percaya ke arah Vina dan bayi-bayinya.
Awalnya dia hanya diajak tetangganya karena undangan Galang memang tak terbatas, tapi kini dia seakan menyesal telah ikut hadir di acara itu. Dia melihat sendiri bagaimana Vina diperlakukan di sana. Semua tampaknya sangat menyayangi perempuan itu.
"Terima kasih untuk semuanya yang telah bersedia hadir dan berkenan ikut mendoakan kedua anak saya. Tak lupa juga saya panjatkan puji Syukur pada Yang Maha Kuasa atas berkah yang telah menghadirkan dua bayi mungil di tengah-tengah keluarga kami di tengah keluarga Adiatirta dan keluarga Pratama.
Semoga kelak mereka akan menjadi anak-anak yang berbakti, berguna bagi sesama dan nusa bangsa serta diberkahi dengan kesehatan dan panjang umur."
__ADS_1
Setelah memberikan kata sambutan Galang kembali duduk di samping istrinya. Mereka berdua tampak sangat bahagia. Akhirnya apa yang menjadi ketakutan Vina tidak terbukti. Kini kebahagiaan keluarga mereka telah lengkap dan sempurna.
...********* Selesai *******...