
Galang menepati janjinya pada keluarga besar Adiatirta. Pria itu memboyong keluarga besarnya datang ke mansion mewah itu dengan membawa banyak seserahan barang-barang mewah.
Fahri selaku orang yang paling dituakan di kediaman Adiatirta itu menerima rombongan tamu dengan senyum tulusnya. Dalam hati dia selalu berharap semoga pernikahan adiknya ini menjadi pernikahan yang terakhir.
"Ayo, Oma, tante, Om, semuanya, silahkan masuk. Enzo ayo sini masuk. Itu kamu sudah ditunggu kak Kemala dari tadi," ujar Fahri menyambut tamunya.
Enzo yang memang terbiasa keluar masuk ke rumah itu berjalan mendahului para tetua keluarganya. Galang hanya geleng kepala dengan kelakuan Enzo.
Sejak tiba hingga Galang mendudukkan pantatnya di kursi, Ia belum melihat penampakan Vina sejak tadi. Dia terus melirik ke atas siapa tahu kekasih hatinya itu akan segara turun.
"Maaf, Nak. Kedatangan kami malam-malam begini, ingin menyampaikan sesuatu. Tentunya di antara dua keluarga sudah membicarakannya terlebih dahulu. Akan tetapi, demi lancarnya keberlangsungan hubungan antara Galang dan juga adik anda. Saya ingin menyamapaikan lagi maksud dan tujuan saya sekeluarga datang kemari.
Saya di sini mewakili keponakan saya, ingin meminang nak Vina untuk diperistri oleh Galang, keponakan saya ini. Sekiranya jika berkenan untuk dipertimbangkan."
Fahri tersenyum, di sampingnya duduk Fauzi dan Hani yang merasa ikut berdebar-debar. meskipun jawaban terakhirnya mereka sudah pasti tahu bagaimana, tapi sebagai penonton dan suporter Vina mereka menanti reaksi adiknya nanti.
Fahri merogoh ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Dia lalu meletakkan lagi ponselnya dan membagi pandangannya pada para tamunya.
"Mohon ditunggu sebentar, biar Vina sendiri yang memberikan jawaban atas pinangan kalian.
__ADS_1
Vina keluar dari kamar tamu. Rita sengaja mendadani Vina di sana agar tidak berjalan terlalu jauh. Vina memakai sebuah kebaya modern berwarna Biru muda dan juga kain jarik bermotif parang. Dia berjalan dengan anggun.
Galang menatap kedatangan Vina tanpa berkedip. Ia menanti langkah Vina hingga sampai kehadapannya.
Vina sekilas menatap ke arah Galang, pria itu terlihat sangat tampan di mata Vina. Galang saat ini memakai setelan jas dengan warna senada seperti kebayanya. Rambutnya yang hitam legam di sisir rapi ke belakang.
Saat Vina tiba di hadapan Galang. Vina hanya sekilas mengangkat wajah, seterusnya dia menunduk karena Galang terus menatap dirinya dalam.
"Vina, ini ada keluarga Galang kemari, mereka mau meminang kamu untuk diperistri oleh Galang. Bagaimana apa kamu bersedia menjadi istrinya?" tanya Fahri.
Vina sesaat mengangkat wajahnya, tatapannya bertemu dengan tatapan mata Galang. Sesaat Vina tersenyum dan lalu menganggukkan kepalanya.
Semua yang ada di ruangan itu mengucap syukur. Galang langsung mengeluarkan kotak cincin dari sakunya. Setelah meminta ijin pada Fahri dan Fauzi untuk menyematkan cincin, Galang dan Vina akhirnya sah menjadi tunangan.
Kedua keluarga sepakat untuk menggelar ijab qabul di kediaman Adiatirta. Bahkan Vina mengatakan jika dirinya ingin resepsi pernikahannya diadakan secara tertutup.
Jujur saja, Vina sebenarnya minder sekali dengan status janda yang kini disandangnya. Sementara Galang, meskipun dia telah mempunyai anak, tapi anak itu bukan hasil dari berhubungan.
"Vin, Vina. Kamu kenapa?" Vina tergagap, ia menoleh ke sekeliling dan ternyata semua mata orang yang ada di ruangan itu kini sedang mengarah padanya.
__ADS_1
"Kok malah melamun, ada apa?"
"Engga, Kak."
"Aku ijin ajak Vina ke taman sebentar, Mas."
Galang pun langsung menarik lembut tangan Vina. Keduanya berdiri bersisihan menatap rumah kaca, di mana di sana tanaman bunga kesukaan bundanya Vina dirawat dengan baik.
"Ada apa, hmm?" tanya Galang sambil menatap teduh ke arah calon istrinya itu. Namun, Vina menggelengkan kepalanya.
"Kamu beneran engga mau cerita sama aku, Vin?"
"Aku minder Mas. Mau nikah sama kamu."
"Minder nya kenapa?"
"Ya statusku kan .... " Vina menjeda ucapannya.
"Aku menikahimu bukan karena status, Vin. melainkan karena kamu satu-satunya perempuan yang bisa bikin aku nyaman. Aku harap kamu jangan keseringan overthinking begitu."
__ADS_1