Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 11. Bertemu Asya


__ADS_3

*****


Saat di Mall, Vina dan kedua iparnya langsung menuju ke bioskop. Vina berjalan lebih dulu untuk memesan tiket masuk sedangkan kedua iparnya bertugas memesan popcorn dan minum.


"Wah, calon janda jalan-jalan?" seru seseorang yang berdiri di dekat Vina. Vina yang kenal suara itu seketika menoleh dengan senyum sinis. Ia malas menanggapi istri mantan adik iparnya. Beberapa pasang mata menatap ke arah Vina dan juga Asya. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi.


Vina kembali menghadap ke depan, namun sialnya Asya selalu mencari gara-gara dengannya. Perempuan itu secara kasar menarik bahu Vina, karena merasa geram Vina segera menepis tangan Asya dengan kasar.


"Ga usah cari masalah, ya kamu," ketus Vina.


Asya tertawa saat melihat wajah Vina yang sepertinya sedang menahan emosi. Dia punya rencana untuk mempermalukan Vina.


"Eh, guys tahu ga dia siapa?"


"Emang siapa, sih?" tanya salah satu teman Asya.


"Dia ini kemarin istri dari kakak iparku yang ganteng itu, tapi sekarang udah ga, dia ditalak dong."


"Duh kasihan sekali," ujar salah satu teman Asya.


Vina menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus menatap antrian yang sebentar lagi gilirannya.


"Dia ditalak karena ga becus jadi istri, udah mandul, ga mau nurut lagi sama suami, dia juga ga sopan sama mertuaku."


"Waduh istri durhaka paket komplit ini," sahut teman Asya yang lainnya. Namun saat segerombolan wanita itu tertawa, tiba-tiba seseorang menarik rambut Asya dan menuangkan segelas cola dingin ke wajah Asya.


"Aargh.... " teriak Asya. Matanya melotot hampir keluar dari cangkangnya. Rita masih terus memegangi rambut Asya dari belakang, sedang Hani yang tadi menyiram cola ke wajah Asya sudah menepi menarik Vani.


"Siapa kamu? berani-beraninya menjambakku dan menyiramku."


"Siapa aku itu tidak penting, berani-beraninya kamu mengatai Vina. Jika sekali lagi ku dengar kamu menjelek-jelekkan dia, akan aku buat mulutmu itu diam untuk selamanya." Melihat tatapan Rita yang begitu tegas dan tajam seketika mampu membuat Asya takut.


Rita melepaskan jambakannya dan mendekati kedua adik iparnya. "Ayo kita pergi saja dari sini. Menyebalkan sekali merusak moodku saja," Gerutu Rita, dia berjalan mendahului Vina dan Hani yang masih mematung di tempatnya. Namun tak lama keduanya segera menyusul kakak ipar tertuanya.


Sepanjang perjalanan mengikuti Rita, Vina tak henti-hentinya tertawa. Ia tak menyangka jika istri dari kak Fahri akan bar-bar seperti itu.


"Senang, kau dihina begitu?" tanya Rita masih dengan memasang wajah keras.

__ADS_1


"Oh, kakak ipar. Kamu yang terbaik. Sebenarnya aku ingin membalas omongan mereka tapi sudah keduluan kakak. Siapa juga yang senang dipermalukan seperti itu."


"Memang siapa mereka tadi?"


"Itu adalah adik iparku. Tapi usianya lebih tua dariku 6 tahun."


"Mulutnya seperti tak pernah mengenyam pendidikan saja," kata Hani.


"Ya memang dia seperti itu kak, tapi dia sarjana kok. Ga kaya adik iparmu ini."


"Itu salahmu, kak Fahri sudah menawari untuk kamu ambil pendidikan S1 di Australia tapi kamu malah mau jualan ayam. Kakak juga heran dengan cara pikirmu yang unik itu."


"Karena aku ingin memberi tapi dengan hasil keringatku sendiri kak."


"Tapi pendidikan itu perlu, Apalagi kamu seorang perempuan. Buang pikiran jadulmu yang mengatakan setinggi-tingginya pendidikan seorang wanita, mereka pada akhirnya berakhir di dapur juga. Kamu lihat aku, meskipun aku juga ke dapur tapi lihatlah juga pencapaianku," ujar Rita dengan serius. Ia menatap adik iparnya dengan wajah yang masih datar.


Saat ini mereka duduk di sebuah kafe yang ada di bawah mall. Mood mereka rusak karena Asya, tapi Vina merasa senang karena kedua iparnya begitu baik padanya, tidak seperti Asya. Menurut Vina, Asya itu ipar rasa musuh bebuyutan.


"Sekarang bagaimana?" tanya Hani.


"Kita shopping saja bagaimana?" usul Vina.


"Jangan, Kak!" seru Vina.


"Kenapa?"


"Nanti kak Fahri malah jadi kepikiran, sebaiknya jangan."


"Kamu ini benar-benar bikin gemas. Aku mau lapor karena jika ada yang merekam kita dan menyebarkannya, kakakmu itu bisa meredam beritanya."


"Oh, aku pikir."


Hani tertawa melihat kepolosan adik iparnya itu. "Kamu jangan terlalu polos, takutnya nanti dimanfaatkan pria."


"Polos dan telat mikir itu beda tipis, Hani sweetie baby." Vina mendengus saat mendengar ucapan dari kakak iparnya.


"Kak Rita, jangan gitu dong," ujar Vina tak terima.

__ADS_1


"Kakak bicara fakta."


"Ish, menyebalkan." Vina melipat tangannya di dada sambil membuang muka.


Hani dan Rita tertawa melihat wajah adik ipar mereka. Rita selesai menghubungi Fahri. Pria itu marah-marah mendengar adiknya di bully di tempat umum.


"Lain kali kalau pergi bawa bodyguard," kata Rita mengcopy ucapan suaminya tadi. Vina dan Hani tertawa melihat ekspresi Rita.


"Duh kak, hidup kalian ternyata berlebihan sekali," ujar Vina meringis mengingat kemarahan kakak tertuanya.


"Sudah ayo, kita shoping saja." Rita menarik tangan kedua adik iparnya. Dia membawa Vina dan Hani ke toko perhiasan langganannya.


Vina hanya diam, ia tak tahu apa yang harus dia beli, dia tak suka bermewah-mewahan. Saat ini yang melekat di badannya hanya sebuah anting kecil pemberian bundanya.


"Sini, Vin. Lihat ini ada set keluaran terbaru."


"Vina ga ngerti yang begituan, kak."


"Udah, kamu deketan dulu sini. Kakak kasih lihat."


Vina menatap kotak beludru biru itu yang berisi perhiasan komplit. Alisnya mengerut ada raut bingung di wajah wanita yang sedang otewe menjanda itu.


"Vina ga ngerti, Kak. Kok rasanya bagi Vina sama saja, sama yang itu di kotak merah, cuma motifnya aja yang lain."


"Ya ampun, Vin. Perhiasan itu benda yang paling membuat senang hati wanita lho, kamu sama sekali ga ngerti soal perhiasan? emang dirumah ga ada?"


"Ada banyak, peninggalan bunda, tapi ga aku apa-apakan juga."


"Rugi banget, Vin jadi kamu itu," celetuk Rita, sedangkan Hani malah sibuk asik memilih sendiri perhiasan untuknya dan tak lupa juga untuk putrinya.


"Lihat itu kakak kamu, dia milih sampai minyak wajahnya pindah ke kaca etalase sangking senengnya sama perhiasan. Eh kamu malah ga ngerti," lanjut Rita.


"Ya kan aku jarang pakai, Kak. Lagi pula sering pakai banyak perhiasan takut malah mengundang orang jahat," jawab Vina.


"Ya sudah, kakak pilihkan saja buat kamu."


Tanpa mereka bertiga sadari sejak tadi ada sepasang mata yang menatap mereka penuh dengan kebencian, terlebih pada Vina.

__ADS_1


"Baru sehari meninggalkan rumah, begini ternyata kelakuannya. Nanti aku akan laporkan kamu pada Pras. Biar dia juga semakin benci sama kamu," gumam Asya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2