Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 20. Baper


__ADS_3

*****


Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan telah dilalui oleh Vina dan Fadil. Kini keduanya sudah berada di kota Jogja. Tempat dimana kedua sahabat Vina menuntut ilmu. Vina tampak bersemangat setelah seharian berada di kereta.


"Mas Fadil, kita makan dulu ya," pinta Vina sambil mengusap perutnya yang lapar.


"Iya Non," jawab Fadil singkat. Ia masih sibuk menatap layar ponselnya untuk memberikan laporan pada kakak tertua Vina.


Vina berjalan mendahului Fadil, Ia terlihat sangat antusias mendatangi daerah yang sangat terkenal dengan makanan khasnya yaitu Gudeg.


Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, wajah Vina sama sekali tak menunjukkan keletihan. Fadil sesekali mengangkat kepalanya untuk memastikan jika putri bungsu keluarga Adiatirta itu tidak lepas dari jangkauan pandangannya.


Vina melangkah dengan kaki yang sangat ringan. Dia memutari area stasiun Tugu untuk bisa segera ke Malioboro, Pusat oleh-olehnya kota Jogja.


"Hati-hati, Non," pekik Fadil saat melihat Vina melangkahi pembatas. Vina meringis melihata raut Fadil yang mengkhawatirkan dirinya.


"Tenang aja, Mas."


Siapa yang akan mengira jika wanita yang ada di hadapannya itu adalah seorang janda. Vina lebih mirip seperti seorang gadis yang baru saja dilepas dari sangkar emasnya.


"Mas, aku mau cobain ini. Mas Fadil tahu tidak belinya dimana?" Vina mengangkat ponselnya. Fadil mendekat dengan langkah yang lebar, ia sedikit menunduk melihat layar ponsel Vina yang masih menyala. Vina seketika mematung, aroma lembut dari parfum Fadil mengusik penciumannya dengan jarak yang begitu dekat.


"Saya juga baru kali ini melancong ke Jogja tapi tujuannya tidak jelas, jadi saya belum tahu pasti tempatnya dimana, Nona. Kita tunggu saja supir hotel tuan Fahri. Setelah ini kita akan makan ke sana."


Mendengar ucapan Fadil, Vina seketika mendengus kesal. Siapa bilang tujuannya tidak jelas. Tujuannya jelas untuk menemui kedua sahabatnya, tapi yang jadi masalah, Vina selalu saja berbuat sesuatu secara mendadak.

__ADS_1


"Menyebalkan. Kalau begitu aku mau ke sana sebentar. Aku perlu membeli baju ganti." Vina berjalan dengan langkah kaki lebar tapi lalu Fadil menarik jemari Vina dan menggenggamnya.


"Maaf, Non, tapi di depan sangat ramai. Aku takut, Nona menghilang," terang Fadil.


Vina hanya diam saja lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ke salah satu pusat perbelanjaan. Sesampainya di dalam pusat perbelanjaan itu Vina melepas tautan jemari Fadil. Vina mulai mencari dan mengambil beberapa potong baju. Ia pergi hinggap dari satu rak ke rak yang lainnya. Dia mengambil ini itu dengan tanpa memikirkan harga. Setelah lelah kesana kemari, Vina menghentikan langkah kakinya dan mulai celingukan mencari Fadil.


"Mas Fadil?" panggil Vina sedikit mengeraskan suara.


"Aku di sini, Non." Fadil berbisik di samping telinga Vina hingga membuat wanita itu terlonjak kaget.


"Mas Fadil, ih... bikin kaget."


"Aku sejak tadi mengikut di belakangmu. Aku takut kamu hilang."


"Hahaha, kalau aku sampai hilang di sini. Mas Fadil tinggal ke bagian informasi terus ngomong, kalau telah hilang perempuan berusia 21 tahun memakai dress berwarna silver, berwajah cantik dan baru saja disakiti," ujar Vina sambil tergelak. Entah dimana lucunya, sepertinya semua masalah hidupnya kini dijadikan lelucon oleh Vina.


"Ehem.. Mas Fadil silahkan pilih baju ganti sekalian pakaian dalamnya, aku kayaknya akan lama di kota ini."


Vina meninggalkan Fadil dan berpura-pura sibuk dengan deretan baju yang ada di depannya. Wajahnya tak dapat menyembunyikan rona merah.


"Dasar bodoh, begitu aja udah baper." Vina merutuki kebodohannya, ia kembali mengingatkan dirinya sendiri akan status janda yang sebentar lagi akan disandangnya, apalagi Fadil yang jelas-jelas masih perjaka. Vina menggelengkan kepalanya. Ia merasa sangat bodoh bertingkah malu-malu seperti tadi.


Fadil menepuk bahu Vina. Dia sudah membawa beberapa potong baju di tangannya.


"Udah?"

__ADS_1


"Sudah, Non."


"Kalau begitu, ayo! aku sudah sangat lapar, Mas."


Vina berjalan mendahului Fadil, pria itu merasa aneh dengan tingkah Vina yang seperti sedang menghindarinya. Fadil menatap lurus punggung Vina, entah mengapa Fadil merasa tidak suka dengan Vina yang seperti ini.


Fadil mengikuti langkah Vina dan meletakkan belanjaannya di dekat belanjaan Vina. Fadil mengeluarkan kartu debit yang biasanya digunakannya untuk mengurus segala keperluan Fahri. Dia juga berwenang menggunakannya selagi dalam konteks pekerjaan.


"Enggak sia-sia aku ngajak mas Fadil kemari," ujar Vina dengan raut yang sudah kembali biasa saja.


"Ini adalah uang kakak kamu. Aku hanya menjalankan tugas."


"Hmm, ya baiklah, tolong cari tahu dimana supir kakak sekarang. Aku sudah sangat lapar."


"Dia sudah ada di sekitar sini. Katanya dia sulit mendapatkan tempat parkir. Jadi kita harus berjalan sedikit untuk bisa sampai ke tempat orangnya."


Setelah menyelesaikan pembayaran. Vina dan Fadil meninggalkan tempat itu menuju ke tempat supir suruhan Fahri berada. Sepanjang perjalanan tidak lagi tampak keceriaan Vina. Wanita itu terus memasang wajah datar tanpa mempedulikan rasa penasaran Fadil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai guys, mohon maaf atas keterlambatanku. Seperti biasa menulis itu memang hobyku tapi aku tetap harus mengutamakan kewajibanku sebagai seorang ibu, seorang istri juga seorang anak.


Sambil nunggu alangkah baiknya kalian mampir ke karya saudaraku sesama penulis namanya kak Lusiana Anwar Judul karya nya Muhasabah Cinta


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.

__ADS_1



__ADS_2