
*****
Asya kembali ke rumah dengan menaiki taksi. Baginya pantang untuk naik kendaraan umum karena dia seorang manager hotel. Sesampainya di rumah ia membanting tubuhnya di sofa dengan wajah yang masih cemberut.
"Lho, baru pulang kerja kok kelihatannya kamu kesel begitu. Kenapa Sya?"
"Itu, Bu. Tadi aku ketemu sama Vina. Dia sok banget karena lagi sama temennya, mereka bahkan nyiram aku pake cola. Aku malu, Bu," ucap Asya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa! dia menyirammu?" mata bu Siti hampir keluar mendengar pengaduan Asya. Apalagi dengan wajah Asya yang terlihat sangat menyedihkan.
"Dasar, wanita kurang ajar. Beruntung Pras sudah menceraikan dia."
"Ada apa, bu?" Pras masuk tanpa mengucapkan salam. Ia baru saja pulang dari bekerja, ia sedikit heran saat namanya tiba-tiba disebut.
"Lihat, Asya! Tadi dia disiram oleh mantan istrimu. Keputusan kamu buat menceraikan dia sudah tepat. Ibu benar-benar tidak menyukainya Pras."
Pras hanya diam tanpa menjawab semua omongan ibunya. Dia sekilas melirik Asya dan lalu masuk ke dalam kamar. Seharian perasaannya sudah sangat merana. Tanpa Vina, Pras bukanlah apa-apa.
Bu Siti dan Asya menatap punggung Pras yang menjauh dengan bingung. Ada apa dengan Pras. Kenapa dia tampak sangat sedih?
"Bu, apa jangan-jangan mas Pras menyesal telah menceraikan Vina?" tanya Asya.
"Ah, mana mungkin. Lagi pula dia wanita mandul yang pendidikannya saja tidak sederajat dengan kita," sangkal bu Siti, namun dalam hati dia juga merasa ada yang aneh dengan putranya.
"Nanti akan aku tanyai. Sudah sekarang kamu bersih-bersih diri lalu nanti bantu ibu di dapur."
"Apa? bantu ibu di dapur? Bu, Asya ini seorang manager hotel. Kalau Asya bantu ibu di dapur yang ada tangan Asya nanti jadi kasar."
"Kan kamu perawatan Sya."
"Pokoknya Asya ga mau. Nanti kalau tangan Asya penuh luka Asya bakalan malu, Bu."
Asya melenggang pergi meninggalkan bu Siti yang terpaku. Wanita paruh baya itu hanya bisa mendesah berat. Sejak awal menjadi istri Bagas, Memang Asya tidak pernah sekalipun membantunya, tapi mengingat jabatan menantunya itu, ia bisa membanggakannya di hadapan teman-teman arisannya.
"Huh, kalau ada menantu sialan itu pasti sekarang aku tidak perlu repot. Mana sebentar lagi aku ada pertemuan dengan ibu-ibu arisan. Bisa malu aku kalau bau bumbu."
__ADS_1
Bu Siti akhirnya dengan terpaksa pergi ke dapur. Wajahnya seketika cemberut saat mengingat kulkas baru yang kemarin dia sempat pamerkan kepada tetangganya kini diambil kembali oleh Vina.
Sementara itu, Pras berbaring di kamar setelah meletakkan tas kerjanya. Tadi siang dia sempat mendatangi kedai ayam milik Vina, tapi sayangnya perempuan itu tidak ada di sana.
Pras berniat meminta maaf lagi pada Vina. Ia ingin mengakui kesalahannya yang terlalu patuh pada ibunya. Pras merasa sejak kepergian Vina dari rumahnya, separuh hatinya pun ikut terasa hampa.
Semalaman Pras mencoba mencari hiburan lain di warung kopi milik kiki, si janda kembang. Tapi bukannya terhibur, yang ada bayang-bayang wajah Vina yang menangis terus menghantui dirinya.
Pras merogoh ponselnya. Ia mencoba mengirim pesan pada Vina. Berkali-kali ia mengetikkan sesuatu tapi tak lama kemudian ia menghapusnya lagi. Hingga akhirnya dia mengetik satu kalimat singkat dan mengirimkannya pada mantan istri secara agama itu.
[Kamu sekarang tinggal di mana, Dek?]
Tak perlu waktu lama menunggu balasan dari Vina. Ponsel yang masih ada di genggaman Pras tiba-tiba bergetar. Dengan cepat Pras segera membukanya.
[Mas tidak perlu tahu, yang jelas aku tinggal di tempat ternyaman bagiku. Aku sudah mengajukan gugatan. Mungkin dalam waktu dekat kamu akan mendapatkan panggilan.]
Membaca balasan dari Vina membuat hati Pras seketika campur aduk rasanya. Ada perasaan sedih, kecewa, marah. Namun Pras tidak bisa menunjukkan semua rasa itu pada orang rumahnya.
"Andai kamu bisa saja sedikit mengerti, Dek," lirih Pras.
Di satu sisi, Vina yang baru selesai mandi merasa kaget saat mendapat pesan chat dari mantan suaminya. Apakah suaminya itu masih peduli padanya atau hanya sekedar basa basi saja?
Vina membalas pesan itu, dan sekaligus menyampaikan jika ia sudah mengajukan gugatan cerainya. Setelah mengetik balasan itu, Vina duduk di depan meja rias dan mulai memakai produk perawatan kulitnya. Fahri mengetuk pintu dan lalu masuk begitu mendapat ijin adiknya. Dia menatap Vina dengan tatapan yang begitu dalam.
"Kamu sudah memberitahu dia soal gugatannya?" tanya Fahri, Pria itu tadinya mencemaskan kondisi adiknya karena mendapat berita dari sang istri, tapi tampaknya ia terlalu khawatir yang berlebihan. Nyatanya sekarang adiknya terlihat lebih santai."
"Sudah," jawab Vina singkat sambil menepuk-nepuk wajahnya setelah menggunakan toner.
"Ku dengar tadi iparmu membuat keributan denganmu? Apa perlu kakak beri pelajaran padanya?"
"Tidak perlu, Kak, kelak suatu saat dia akan menuai balasannya. Kakak tidak perlu repot-repot mikirin aku."
"Usia kamu masih sangat muda, Vin untuk mendapat perlakuan seperti ini, Vin."
"Tidak apa-apa, Kak. Anggap saja ini sebuah langkah pembelajaran untukku. Aku merasa aku sudah berjuang, tapi perjuanganku tidak membuahkan hasil apapun selain rasa kecewa."
__ADS_1
"Apa perlu, Kakak memanggil Pras kemari?"
"Jangan... aku tidak mau dia tahu keluarga kita yang sebenarnya. Jangan sampai keluarganya berubah haluan mendukungku hanya karena harta benda ini."
"Kakak akan pulang malam ini, sementara kakak dan kak Fauzi akan bergantian menemani kamu di sini."
"Kalau Vina, terserah kakak saja. Sebenarnya Vina tidak apa-apa sendirian. Toh ada bu Risma. Aku bisa minta tolong padanya untuk menemaniku."
"Bu Risma kan masih mengurus kedaimu."
"Sampai kapan?" tanya Vina merasa keberatan karena ia dilarang ke kedainya.
"Sampai gugatanmu disetujui oleh PA." Setelah mengatakan itu, Fahri pergi
Vina hanya diam, ia tidak lagi menyahuti ucapan kakaknya. Masih untung kedua kakaknya masih mempedulikannya. Ia tak ingin menambah daftar kekecewaan kedua kakaknya.
Selepas kepergian kak Fahri dari rumah yang di wariskan untuk Vina. Hani, istri Fauzi datang dan mengetuk pintu adik iparnya.
"Masuk!" seru Vina. Hani membuka pintu dan melangkah masuk. Ia tersenyum saat melihat adik iparnya sedang duduk dengan wajah murung.
"Ada apa, Vin?"
"Apa mas Fahri memarahimu?"
"Tidak kak, dia hanya menanyakan keadaanku."
"Syukurlah, aku pikir dia akan marah."
"Kalau sama aku sih enggak, tapi enggak tahu kalau sama kak Rita." Keduanya lalu terbahak mengingat tingkah bar-bar Rita saat di bioskop tadi.
"Makasih ya kak, kalian ipar yang baik. Kalian peduli padaku."
"Kamu ini ngomong apa sih, Vin. Adik mas Fauzi itu juga adikku begitu pun sebaliknya. Mas Fauzi aja memperlakukan adik-adikku dengan baik. Masak aku menjahati adik semata wayangnya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1