Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 40. Rahasia


__ADS_3

*****


Fahri dan Galang terlibat pembicaraan serius. Keduanya saling bertukar pendapat dan pandangan. Galang tampaknya sangat nyambung dengan kakak pertama Vina. Saat Vina keluar dengan senampan brownies panggang. Galang sejak tadi tak mengalihkan tatapannya dari Vina dan hal itu membuat kedua kakak Vina keheranan. Mereka berdua menjadi lupa dengan tujuannya untuk pulang lebih awal.


"Ayo dicoba, ini semua hasil olahan tangan Vina," kata mbak Hani, istri Fauzi. Enzo menoleh ke arah meja, ia melihat puding yang berwarna putih mengkilap dengan isi buah-buah segar.


"Mama, Enzo mau." Vina menoleh, begitupun dengan kedua kakak laki-lakinya. Keduanya merasa aneh, sedang Vina dengan santainya melayani apa yang diminta oleh anak angkatnya. Ya, Vina menganggap Enzo anak angkat.


"Dari dulu, saat Kendra kecil juga panggil Vina dengan panggilan mama Vina, tapi lama kelamaan papanya protes takut kalau nanti dikira punya istri dua," kata Rita, kakak ipar Vina sembari tertawa. Semuanya ikut tertawa kecuali anak-anak yang tidak paham apa yang para orang tua bicarakan.


"Maafkan putraku, tuan Fahri," ucap Galang tulus. Dia merasa tidak enak pada kakak Vina karena ulah Enzo yang sembarangan. Namun Fahri justru tertawa.


"Jangan terlalu dipikirkan. Asal putramu nyaman saja dan selama tidak ada yang mencemburui adikku, silahkan saja." Fahri melirik Vina yang kini sedang menyuapi puding untuk Enzo.


Ada rasa iba di hati kakak pertama Vina itu. Dia sudah mendengar semua masalah yang di hadapi adiknya. Jika benar adiknya mandul seperti yang dituduhkan keluarga Pras. Maka mencarikan jodoh yang telah memiliki anak adalah pilihan terbaiknya. Meskipun belum pasti siapa orangnya, tapi jika itu Galang Satya Pratama, Fahri tak keberatan. Jelas mereka adalah keturunan yang memiliki bibit, bebet dan bobot yang seimbang dengan keluarga Adiatirta dan yang lebih lagi, keluarga Satya Pratama tidak memiliki catatan buruk dalam memperlakukan seorang perempuan.


Ponsel Galang berbunyi. Dia lalu mengangkat panggilan dari asistennya, Fedrick.


"Ada apa?"


"Baiklah, setengah jam lagi aku tiba di sana, minta tuan Umar untuk bersabar terlebih dahulu."


Galang mematikan ponselnya. Dia menatap Enzo yang masih bersandar manja di lengan Vina. Fahri melihat gelagat Galang. Ia tahu pria itu memiliki janji penting.


"Pergilah, biar putramu di sini," kata Fahri.


"Tapi ...."

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa lagi pula di sini ada kami, jadi putramu pasti aman." Galang tampak berpikir sejenak lalu mengangguk. Dia menepuk bahu Vina pelan hingga wanita itu pun menoleh.


"Ada apa?"


"Aku harus kembali ke kantor. Bisa aku titip Enzo di sini?" nada bicara Galang kini mulai terdengar lebih halus dan tak lagi datar. Vina mengangguk dan Galang tersenyum tipis.


"Terima kasih, secepatnya jika urusanku selesai aku akan menjemput Enzo."


"Tidak usah buru-buru. Pergi saja. Selesaikan dulu pekerjaan kamu."


Galang pun akhirnya meninggalkan Enzo di sana. Fahri sebagai tuan rumah, mengantarkan Galang sampai di depan pintu. Selama itu, Fahri mengatakan ingin meminjam putra Galang sebagai pengobat kesedihan adiknya dan Galang mendadak merasa iba pada Vina.


Galang akhirnya meninggalkan kediaman Adiatirta. Namun, ia sedikit terganggu dengan kata-kata kakak Vina tadi.


"Jika boleh biarkan putramu sering di sini. Selain di sini dia punya banyak teman, setidaknya putramu bisa membantu mengalihkan kesedihan Vina."


Perusahaan itu berkembang pesat dan semakin besar berkat usaha dan kegigihan Galang. Pria itu siang dan malam mengerahkan seluruh usahanya untuk memperluas dan membesarkan perusahaan itu dan kini Galang bisa sedikit lebih bersantai dengan pencapaian yang begitu memuaskan.


"Maaf anda jadi harus menunggu, Tuan," ujar Galang sembari menyalami tamunya. Tuan Umar kali ini datang bersama seorang gadis cantik. Fedrick, asisten Galang masih setia berdiri di samping tuannya sejak kedatangan Galang ke perusahaan itu.


"Oh tidak apa-apa, Tuan Galang, saya yang meminta pertemuan mendadak ini. Saya ingin memperkenalkan Lena, dia putri saya yang akan meneruskan bisnis saya nanti kedepannya. Jadi saya harap anda tidak keberatan dengan hal ini."


"Oh tentu saja, tidak masalah, Tuan," jawab Galang. Namun, ia sama sekali tak ingin mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Lena. Dia justru risih ditatap begitu dalam oleh gadis itu.


Lena mengulurkan tangannya di depan Galang. Mau tak mau dia pun akhirnya membalas jabat tangan gadis itu.


"Hai, aku Lena, usiaku 26 tahun. Aku masih single."

__ADS_1


"Galang," jawab Galang singkat.


"Saya dengar putra anda sebentar lagi ulang tahun?" tanya tuan Umar berbasa basi. "Lena anak saya ini juga menyukai anak-anak. Apalagi anak tuan Galang ini cerdas dan sangat tampan."


"Oh iya, dia tadi sedang ke toko kue bersama tunangan saya. Akhir-akhir ini anak saya terlalu menempel pada calon mamanya," ujar Galang berbohong, dia tahu tujuan tuan Umar kemari membawa putrinya. Karena tak hanya sekali dua kali rekan bisnisnya melakukan hal itu, Galang sudah terlalu sering disodori putri rekannya. Namun, bagi Galang yang sudah malas meladeni wanita akhirnya hanya bisa berbohong dengan mengatakan sudah memiliki tunangan alias calon istri.


"Oh, jadi anda sudah memiliki tunangan?"


"Iya, Tuan Umar. Saya hanya belum mempublikasikan hubungan saya, karena calon istri saya sedikit pemalu." Setelah mengatakan hal itu, Galang sedikit membayangkan wajah Vina yang sedang tersenyum dengan rona merah di kedua pipinya.


"Baiklah, jika begitu. Kami pamit dulu, Tuan. Saya tunggu undangan anda," kata tuan Umar, sorot matanya tampak sekali menyiratkan kekecewaan begitu juga dengan putrinya. Namun, sekali lagi, Galang tidak peduli. Dia terlanjur malas berhubungan dengan wanita-wanita itu.


Galang bersandar di sofa setelah kepergian tamunya. Dia menatap Fedrick tajam. "Lain kali, tanyakan dulu tujuannya apa mencariku," ujar Galang setengah menggerutu.


"Sudah saya lakukan tuan, tapi beliau selalu berkata, sudah tolong hubungi saja atasanmu. Jangan banyak bertanya. Saya bisa apa, Tuan. Saya ini hanya bawahan anda," kata Fedrick memelas.


"Gara-gara kamu, aku melewatkan momen baik."


"Momen apa itu, Tuan? dan lagi memangnya benar anda sudah punya calon?" tanya Fedrick penasaran.


"Sepertinya sebentar lagi aku akan melepas masa lajangku."


"Dengan siapa, Tuan?" cecar Fedrick.


"Rahasia," ujar Galang sambil mengedipkan mata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2