
*****
Malam hari, kediaman Bu Siti penuh dengan warga. Pasalnya Pak RT datang mengantar 2 orang polisi dan seorang polwan mendatangi rumah bu Siti. Wanita paruh baya itu memucat saat mendengar polisi menyebut namanya. Pras yang baru pulang dari lembur, kaget bukan main.
"Ada apa ini pak RT?" tanya Pras.
"Begini, Mas Pras. Bapak-bapak dari kepolisian ini memiliki mencari ibu Siti."
"Ibu saya? apa ini ada kaitannya dengan Asya, Pak?"
"Bukan, Mas Pras."
"Pras, tolongin ibu, ibu engga mau di penjara. Semua ini salah Vina, Pras. Ibu engga salah," ujar Bu Siti menyela. Tangan Bu Siti telah diborgol oleh polwan itu karena terus memberontak.
"Ibu, apa yang ibu lakukan sebenarnya?" tanya Pras, gusar. Masalah Asya saja sampai sekarang belum selesai di urus, kini bertambah lagi masalah ibunya.
"Maaf, Pak. Ini masalahnya apa?"
"Kami mendapat laporan dari tuan Fahrizal Adiatirta, bahwa ibu anda melakukan tindakan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik saudari Vina Adiatirta."
"Saya sudah katakan, itu semua fitnah. Mereka sekeluarga hanya ingin mempermalukan saya karena saya sudah membuat Vina diceraikan oleh anak saya."
"Anda bisa memberikan pembelaan nanti di kantor. Tolong kerjasamanya. Kami hanya menjalankan tugas."
__ADS_1
"Pras, jangan biarkan mereka membawa ibu, Pras!" teriak bu Siti. Pras hanya bisa menatap ibunya yang digiring ketiga polisi itu dengan wajah nelangsa.
"Apa yang harus saya lakukan, Pak?" gumam Pras. Pak RT menoleh ke arah pemuda itu dan lalu ia menepuk pundak Pras.
"Sabar, Mas Pras. Sekarang, Mas Pras ikut saja ke kantor polisi untuk mendengarkan apa tuntutan dari keluarga mbak Vina. Saya rasa tidak mungkin masalahnya akan sebesar ini kalau ibu mas Pras tidak melakukan apapun sama mbak Vina,"
Dengan wajah lelah, Pras akhirnya mengikuti mobil polisi yang telah membawa ibunya tadi. Pras tak peduli lagi dengan tatapan penuh cemooh dari para tetangganya. Ia sudah tak kaget lagi, terlebih ibunya adalah sosok yang selalu paling pertama menjadi komentator dadakan jika ada salah satu tetangga yang terlibat masalah.
Setibanya di kantor polisi, Pras segera masuk untuk mencari keberadaan ibunya. Namun, ibunya telah berada di sel sementara. Pras lalu menemui polisi yang telah menangkap ibunya. Menurut keterangan dari polisi itu, ibunya di jerat pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik dengan sengaja di muka umum dan hukuman kurungannya bisa paling lama 9 bulan.
Pras mengusap wajahnya kasar. Dia tak dapat lagi mengatakan apa-apa. Sekarang yang dia perlukan adalah memohon pada Vina dan kakaknya agar mencabut tuntutan itu. Pras mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Vina. Namun, berkali-kali dicoba panggilannya selalu tidak terhubung. Pras benar-benar frustasi. Dia akhirnya pergi dari kantor polisi menuju ke kedai makan milik Vina.
Saat dalam perjalanan ponsel Pras terus berdering, ia menepikan motornya dan merogoh ponsel yang ada di saku celananya. Ia melihat nama Bagas tertera di layar dan lalu Pras segera mengangkat panggilan adiknya.
"Ada apa, Gas?"
"Aku tidak bisa meminjamkan uang padamu, karena aku juga butuh biaya untuk membebaskan ibu, Gas. Malam tadi, ibu dibawa ke kantor polisi. Katanya dia melakukan sesuatu di depan kedai Vina pagi ini. Mas Fahri, Kakaknya Vina langsung menuntut ibu kita atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik Vina."
"Hah, serius, Mas? keluarga mantan istrimu keterlaluan banget, sih, Mas. Mereka kok kaya dendam sama ibu dan Asya jadinya."
"Aku juga engga tahu, Gas. Ini aku mau nyari Vina ke kedai. Aku akan minta dia untuk bujuk Mas Fahri agar mencabut tuntutannya," ujar Pras. Akhirnya setelah berbincang sebentar dengan adiknya, Pras melanjutkan perjalanan sampai ke kedai, tapi sayangnya, saat tiba di sana kedai Vina sudah tutup. Pras mengusap wajahnya kasar. Pras menengok kanan kiri, suasana masih ramai, tapi kenapa kedai Vina tutup. Pras akhirnya memanggil tukang parkir yang biasa mangkal di sana.
"Mas, kok udah tutup?"
__ADS_1
"Iya, Pak Pras. Kedai tutup sejak siang tadi dan katanya, sih, kedai bakalan tutup sementara waktu. Tadi pagi mbak Vina dilabrak orang, Pak. Ngakunya, sih, ibu, Pak Pras. Memang pak Pras engga tahu?" Pras hanya diam, ia tidak menyahuti pertanyaan tukang parkir itu.
"Ya sudah, Mas. Terima kasih."
Pras menyalakan motornya, ia akan mencari Vina di tempat kos lamanya. Siapa tahu, ia bisa bertemu dengan mantan istrinya itu. Dari kejadian ini, Pras baru menyadari bahwa ia tidak banyak tahu mengenai mantan istrinya itu. Pras jarang menanyakan keberadaan saudara Vina. Di mana mereka tinggal, di mana kakaknya bekerja, Pras sama sekali tidak tahu. Tiba-tiba kilasan kehidupan saat bersama dengan Vina mulai muncul di ingatan Pras. Bagaimana Vina mengutamakan ibunya, Vina selalu mengalah pada ibunya, Vina yang tidak banyak suara saat adik iparnya selalu berkata buruk tentangnya, Vina bahkan jarang menceritakan kesehariannya. Ia malah sering mendengarkan keluh kesah Pras yang seperti tak pernah ada habisnya.
Pras tiba di depan kos Vina. Namun, suasana di sana sama sepinya. Dia kembali mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Vina tapi lagi-lagi nomor ponsel mantannya itu tidak bisa dihubungi.
"Apa Vina sudah memblokir nomorku?" gumam Pras. Kejadian malam ini membuat rasa letih Pras semakin menjadi. Pras akhirnya kembali menyalakan motornya. Ia kembali ke kantor polisi. Ia harus memastikan kondisi ibunya dulu. Pras khawatir dengan kesehatan ibunya. Bagaimana nanti ibunya tidur di penjara? Bagaimana kalau ibunya malah sakit?
Setibanya di kantor polisi, bak gayung bersambut, Pras melihat ada kakak Vina di sana. Ia segera berlari masuk ke kantor polisi. "Mas Fahri."
Fahri pun menoleh, ia menatap mantan iparnya dengan tatapan datar dan dingin. Pras menatap kakak Vina itu dengan seksama. Apa yang dikenakan Mas Fahri malam ini tampak sangat mahal.
"Mas,"
"Ada apa?"
"Mas, aku mohon cabut tuntutan mas Fahri. Kasihani ibuku, Mas. Beliau sudah tua."
"Seharusnya sebelum kamu memintaku untuk mencabut tuntutanku, kamu nasehati ibumu itu. Sudah tua tapi malah selalu berbuat onar. Salah Vina sama keluarga kalian itu apa? Kenapa tidak kamu kembalikan dia pada kami? kamu bahkan tidak layak disebut sebagai seorang laki-laki.
"Maaf, Mas." Pras menunduk. Sudut matanya menggenang mengingat perlakuannya pada Vina. Sungguh dia merasa sangat bersalah. Andaikan dia diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya, ia akan lakukan apapun untuk menebus kesalahannya pada Vina.
__ADS_1
"Jika kamu memintaku untuk mencabut tuntutan itu, jangan harap akan aku lakukan. Siapapun yang menyakiti adikku, akan berurusan denganku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...