
*****
"Selamat menjalani kehidupan baru kamu, ya, Vin. Maafkan aku selama ini selalu menyakitimu." Vina hanya mengangguk mendengar ucapan mantan suaminya. Dia pun akhirnya melangkah keluar dari pengadilan agama dengan kepala tegak dan sedikit benjol di dahi.
"Kenapa lama sekali?" tanya Fahri, ia benar-benar kesal dengan sikap adiknya yang masih sangat baik pada mantan suaminya.
Vina hanya mengangkat amplop yang berisi uang entah berapa. Fahri tersenyum remeh melihat amplop itu.
"Mau diapakan?"
"Nanti aja aku titipin ke kak Rita, biar disumbangkan ke panti asuhan yang kemarin." Mobil Fahri pun akhirnya meninggalkan pelataran Pengadilan Agama. Pras tersenyum kecut, kini dia semakin yakin jika sebenarnya Vina adalah orang kaya yang low profile. Dia tak sengaja melihat Vina masuk ke mobil Sedan mewah milik Fahri itu.
Setahun menikah, tapi Pras sama sekali tidak tahu apa pekerjaan kakak Vina. Ia tidak tahu dimana tempat tinggal kakak Vina. Dia terlalu fokus pada dirinya sendiri dan kehidupan seputaran keluarganya. Dia abai pada Vina yang saat itu menjadi istrinya. Pras terlalu sombong dengan apa yang baru dimilikinya. Sedangkan Vina mungkin sejak lama sudah bergelimang harta. Pras langsung memutuskan ke kantor polisi. Ia akan menjamin kebebasan ibunya.
"Kak, kita ke kantor polisi dulu. Di kantor yang menahan ibunya mas Pras."
"Mau apa lagi?"
"Aku sudah resmi bercerai. Aku juga ingin memutus hubunganku dengan bu Siti dengan cara baik-baik."
"Engga. Kamu engga boleh ke sana."
"Please, Kak. Sekali ini saja. Setelah ini pasti mas Galang juga ga akan membiarkan aku untuk ke sana."
"Ya, bagus. Berati Galang pintar. Ia tahu apa yang harus dia lakukan."
"Tapi, Kak."
"Sudah, ya. Jangan mulai lagi. Kakak sudah bilang, jangan memberi hati pada orang yang tidak punya hati. Kamu pikir dia akan berterimakasih setelah kamu keluarkan dia nanti? yang ada dia akan memakimu."
Vina hanya diam tak menyahuti lagi ucapan kakaknya. Ya, dia tahu memang hanya makian yang akan dia terima, jika dia jadi ke kantor polisi itu, tapi setidaknya dia benar-benar tidak berurusan lagi dengan keluarga Pras.
Ponsel Vina berdering, Ia tersenyum saat nama Galang muncul di layar ponselnya. "Halo, Mas."
"Apa sudah selesai sidangnya, Dek?" tanya Galang.
"Sudah, Mas. Ini sedang perjalanan ke rumah. Ada apa?"
"Aku ada di rumahmu. Enzo tadi minta diantar ke sini tapi tidak Ken dan yang lain tidak ada."
"Papa, biar aku yang bicara sama mama. Bawa sini hpnya." Terdengar suara Enzo merengek.
"Sebentar," kata Galang, tapi ia lalu menyerahkan ponselnya pada putra satu-satunya itu.
__ADS_1
"Mama, cepat pulang. Ayo kita makan siang bersama. Aku, papa dan mama."
"Iya, sabar, ya. Sebentar lagi mama sampai kok. Enzo sama papa tunggu di dalam rumah 'kan?"
"Iya, iya Enzo tunggu. Buruan, ya, Ma," ujar bocah itu riang.
Vina masih tertawa meskipun ponselnya telah mati. Baginya Enzo adalah obat yang paling ampuh yang bisa membuat hati Vina pulih dengan cepat.
"Enzo, ya?" tanya Fahri. Vina menganggukkan sambil tersenyum.
Dari sini Fahri beranggapan tidak ada yang perlu dia khawatirkan lagi mengenai kebahagiaan adiknya itu. Bahkan dari tes kesehatan Vina beberapa waktu yang lalu, tidak ada masalah apa-apa. Rahimnya bagus. Tidak ada kista atau miom semuanya dalam keadaan baik.
Mobil Fahri tiba di depan kediaman Adiatirta. Dia hanya akan menurunkan Vina. Karena masih ada sesuatu yang harus ia urus. Vina mencium pipi kakaknya sebelum keluar dari mobil.
"Terima kasih karena kakak selalu ada untukku," ucap Vina, setelah itu ia segera keluar dari mobil kakaknya dan masuk ke rumah.
"Kamu lihat, sikapnya masih sangat kekanakan, tapi keluarga mereka dengan teganya berani menyakiti gadis polos itu," ujar Fahri, tatapan matanya tak sedetik pun lepas dari adiknya sampai pintu rumah itu kembali menutup.
"Saya juga tidak habis pikir dengan mereka, Tuan."
"Dia masih berpikiran untuk membebaskan wanita tua itu. Tidak akan aku biarkan dia berurusan lagi dengan keluarga itu."
Akhirnya mobil Fahri meninggalkan rumah Adiatirta. Vina sudah masuk ke dalam dan menemui Enzo. Enzo tampak senang sekali bertemu Vina dan ia terus bergelayut manja di lengan Vina.
Vina tampak ragu untuk menjawab, ia melirik Galang. "Mas, makan siangnya di rumah saja, ya. Hari ini aku yang akan masak."
"Memang kenapa?" tanya Galang.
"Aku malu, Mas. Hari ini aku baru saja mendapatkan surat cerai, aku malu kalau sampai ada orang yang tahu, baru resmi bercerai tapi sudah keluar dengan laki-laki lain."
"Ya sudah, tidak masalah. Senyamannya kamu saja gimana."
"Enzo, hari ini kita makan masakan mama saja, ya?"
"Boleh, boleh. Enzo juga sudah kangen masakan mama." Seperti biasa bocah itu menjawabnya dengan riang. Padahal dulu Enzo jarang sekali tersenyum. Namun, sejak ada kehadiran Vina. Ia juga menjadi terlihat seperti anak-anak pada umumnya.
"Kalau begitu mama ke dapur dulu, ya."
"Aku ikut, aku ikut. Ayo papa ikut juga. Kita temani mama masak."
"Iya, ayo." Galang bangkit dari duduknya mengikuti Vina. Sebenarnya Vina merasa canggung jika Galang ikut ke dapur, tapi ia tak tahu bagaimana harus mengatakannya.
"Enzo mau makan apa?"
__ADS_1
"Ehm, apa ya?"
"Apa mama bisa membuat spaghetti?"
"Membuat ya?" Vina tampak berpikir, lalu dia tersenyum.
"Kalau membuat spaghetti mama tidak bisa, tapi masak spaghetti bisa."
"Hihihi ... iya maksud aku memasak spaghetti."
"Baiklah, Enzo tanya papa, dong. Mau dimasakkan apa?"
Galang yang mendengar hal itu tertawa. Dia tahu Vina masih malu-malu padanya. Vina sedang memakai celemek, dia tampak sangat cantik di matanya.
"Papa, denger tadi mama tanya apa? papa mau dimasakin apa sama mama?"
"Sama kaya kamu saja."
"Tapi aku maunya carbonara."
"Memang papa sukanya apa?" tanya Vina pada Enzo.
"Papa sukanya spaghetti bolognese tapi dagingnya suka yang masakan sendiri," jawab Enzo.
Vina melirik ke arah Galang, pria itu kembali memberikan senyum hangat untuk. calon istrinya itu. Semakin lama, Galang merasa Vina memang lah wanita yang tepat untuk mendampingi dirinya.
Vina menyalakan satu kompor dan merebus beberapa buah tomat. Dia mengeluarkan daging segar dari dalam chiller dan lalu memotongnya menjadi bagian kecil-kecil. Tangannya begitu terampil memegang pisau. Galang dan Enzo kini hanya jadi penonton. Keduanya sudah seperti juri diacara kontes memasak.
Vina sudah menyiapkan semua bahan-bahan yang akan dibuat menjadi dua masakan sekaligus. Wanita itu menghentikan kegiatannya untuk mengikat rambutnya, Ia sedikit meringis saat tanpa sengaja menyenggol benjolan di keningnya.
Galang memperhatikan Vina. Dia pun berdiri dan mendekati calon istrinya itu. "Stop!" Galang menyibak rambut Vina.
"Ini kenapa?" tanya Galang, dia mengusap benjolan berwarna biru keungguan itu perlahan. Vina sampai menahan nafas karena jarak Galang hanya beberapa centi saja dari hadapannya.
"Terbentur," lirih Vina.
"Di mana?"
"Tadi saat dalam perjalanan ke pengadilan agama."
"Mama, aku sudah lapar," rengek Enzo. Vina seketika berbalik memunggungi Galang.
"Iya, Sayang."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...