
*****
Setelah berpisah dengan para sahabatnya, Vina kini tiba di salah satu hotel milik kakaknya. Fadil sudah mengurus segalanya untuk Vina. Wanita itu langsung masuk ke kamar begitu mendapatkan key card-nya. Vina menghempaskan tubuhnya di atas ranjang ber-sprei putih itu.
Vina menatap kosong langit-langit kamarnya, dan lagi-lagi ia merasa kesepian. Sebagian hatinya begitu bersyukur dengan apa yang dia miliki sekarang, tapi sebagian lagi hatinya merasa hampa setelah memutuskan berpisah dengan suaminya.
Meskipun hanya sebentar merasakan jatuh cinta tapi setidaknya Pras adalah cinta pertamanya, pria itu sempat mengganti ketiadaan dua sahabatnya. Ya, Vina akui itu, Pras adalah sosok pria yang hangat, tapi itu dulu saat mereka berpacaran. Setelah menikah semua kehangatan itu sirna. Singkatnya waktu perkenalan dan pacaran mereka membuat Vina tidak begitu mengenal baik siapa suaminya itu. Vina terlanjur terpesona dengan sikap hangat dan penuh perhatian yang Pras tunjukkan padanya, tanpa memikirkan sifat Pras yang lainnya.
Flashback on
"Hai, mau kemana?" sapa Pras, hari ini dia terlihat sangat rapi dengan kemeja biru tua dan celana jeansnya.
"Ke kost, Kak." Vina tampak risih mendapat pandangan se intens itu dari pria yang baru dikenalnya kemarin. Semua gara-gara kecerobohannya yang salah memberikan pesanan pria itu.
"Mau diantar?" tawar Pras. Senyumannya tak sedetik pun surut dari bibirnya.
"Engga perlu, Kak. Dekat kok." Vina berjalan menjauh, tapi Pras mengikutinya sambil mendorong motornya.
"Aku boleh main ke tempat kos kamu?" Pras menatap gelagat Vina yang malu-malu.
"Ehm ... gimana ya?" Vina tampak berpikir, mau menolak rasanya tak sopan, tapi mau mengiyakan dia juga belum begitu mengenal pria itu.
"Kita ketemuan di kedai saja, kak. Di Kostku peraturannya ketat."
"Oke, tapi sekarang boleh dong, kalau aku cuma mengantar kamu?"
Vina terlihat ragu, namun tak urung dia pun naik ke motor lawas Pras. Motor itu sudah dimodifikasi layaknya motor klasik. Pras tersenyum senang saat Vina naik ke atas boncengan. Pria itu segera membawa motornya menuju ke kost Vina yang ada di d
belakang kedainya.
Saat mesin motor dimatikan Vina turun. Dia hendak mengucapkan terima kasih, namun Vina dibuat mematung dengan kelakuan Pras yang tiba-tiba menyentuh rambutnya dan merapikannya.
__ADS_1
"Maaf, aku lihat rambut kamu berantakan," ujar Pras memberi penjelasan saat melihat wajah malu-malu Vina. Vina hanya membalas dengan anggukan. Setelah mengucapkan terima kasih, Vina melangkah ke arah pintu gerbang kost. Tangan Pras sejurus kemudian menahannya.
"Aku boleh hubungi kamu ke nomor kemarin kan?"
"Boleh," kata Vina sambil mengangguk dan tersenyum tipis. Dia segera meninggalkan Pras yang masih diam di tempatnya. Pria itu kembali tersenyum saat mendapat respon baik dari Vina.
Tak perlu waktu lama, segala perhatian Pras kini berbuah manis. Ia dan Vina telah resmi berpacaran. Vina senang karena Pras pria yang sangat perhatian dan juga penyayang. Pras seperti seseorang yang memang tercipta untuk dirinya. Pras yang usianya hampir sama seperti kak Fahri mampu menjadi sosok pelindung dan mengayomi Vina.
Kedekatan mereka yang mulai intens membuat Pras akhirnya memutuskan untuk menikahi Vina. Setelah melamar Vina, Pras akhirnya bertemu dengan dua anggota keluarga Vina. Pras tak tahu apa pekerjaan kedua kakak Vina. Yang penting bagi Pras, Vina mau dinikahinya saja ia sudah senang.
"Nanti setelah menikah, tinggalnya di rumah ibuku ya, Dek?"
"Iya, mas." Vina yang dulu memanggil Pras dengan kak, kini merubah panggilannya menjadi, Mas, atas permintaan Pras sendiri.
Dua bulan kemudian, setelah Pras memperkenalkan Vina pada ibunya, akhirnya keduanya menikah dengan pesta yang sederhana. Selain atas permintaan dan kesanggupan ibu Pras, Vina juga tidak menyukai segala sesuatu yang berlebihan.
Kak Fahri dan Kak Fauzi hanya mengikuti semua keinginan adiknya sebagai bentuk kasih sayang mereka, termasuk dengan memberi uang dapur ala kadarnya. Vina tak ingin dipandang karena dia keturunan orang kaya. Ia ingin orang-orang mengenalnya sebagai Vina si pemilik kedai ayam.
"Andai aku tidak terburu-buru memutuskan menikah, andai aku juga tahu siapa dirimu jauh sebelum aku menyetujui pernikahan ini. Mungkin semua tidak akan serumit ini."
Vina akhirnya terlelap. Melupakan sejenak kisah masa lalunya yang indah dan menyakitkan untuk dikenang. Lisannya boleh saja mengatakan ikhlas, akan tetapi hati tidak bisa berbohong. Dia terluka dengan semua rentetan peristiwa yang terjadi setahun belakangan.
Pria yang terbiasa mengobral cinta, mendadak menjadi pendiam di depan ibunya. Sejak menikah hingga berpisah, Pras tidak pernah sekalipun terang-terangan memberinya muka, membela Vina di depan ibunya. Itulah salah satu hal yang membuat Vina pada akhirnya memilih menyerah demi kesehatan mentalnya sendiri.
Keesokan paginya, Vina sudah selesai bersiap. Hari ini rencananya pukul 10 dia akan bertemu dengan kedua sahabatnya untuk lanjut jalan-jalan. Hanya dengan memakai sebuah kaos bertuliskan nama kota Jogja, Vina sejak tadi merasa suasana hatinya menjadi lebih baik. Gadis itu memakai celana denim berwarna biru gradasi putih dan sepatu sneakers putih, rambutnya dikuncir asal dengan menyisakan helaian anak rambut di sisi kiri dan kanan.
"Perfect .... " ujar Vina tersenyum puas melihat pantulan dirinya di cermin.
Vina kembali menyandang tas selempangnya. Pagi ini dia harus sarapan di restoran hotel untuk menghemat waktu. Karena setelah itu dia ingin berputar-putar di sekitar kawasan pasar Beringharjo.
Saat membuka pintu, Vina dibuat terkejut melihat Fadil berdiri tegak menatap ke arahnya. Fadil tersenyum, lesung pipinya membuat pria itu terlihat menawan dan memiliki nilai plus.
__ADS_1
"Mas Fadil udah lama?"
"Baru 10 menit yang lalu," ujar Fadil sambil melihat jam di ponselnya.
"Maaf, ya, Mas. Kelamaan nunggu ya?"
"Tidak apa-apa. Ini bukan pekerjaan mendesak. Jadi saya bisa sedikit santai."
"Ya, sudah ayo. Kita langsung ke restoran saja, ya?"
"Iya, Non."
Keduanya berjalan beriringan. Namun Fadil sedikit melambatkan langkahnya agar dia tidak terlalu dekat dengan adik atasannya itu.
"Mas Fadil sudah lama ikut, kak Fahri?"
"Sejak lulus SMA, Non. Awalnya ibu meminta pekerjaan untukku. Tuan Fahri memintaku merawat kebun-kebun kamu. Lalu setelah itu tuan Fahri memberiku pekerjaan dari kantor. Katanya untuk melatih kemampuanku. Hingga sampai sekarang saya masih bekerja di kantor tuan Fahri sesekali."
Keduanya tiba di restoran, Vina mengambil salad dan juga beberapa kue appetizer. Fadil mengambilkan sebotol air mineral untuk Vina. Setelah Vina duduk, Fadil menyerahkan botol minuman itu pada Vina. Fadil kembali ke meja prasmanan dan mengambil seporsi nasi goreng beserta lauk.
"Mas Fadil duduk di sini saja."
"Dasar ganjen .... " Pekik seseorang di belakang Vina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Guys, sembari nunggu aku up. Ada baiknya kalian mampir juga di karya temenku yang satu ini kak Eveliniq judul karyanya
⬇️⬇️ Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya!! 🥰
__ADS_1