
*****
Vina membawa Enzo, ternyata bocah tadi di temani oleh seorang resepsionis tapi Vina tidak menyadari keberadaan gadis resepsionis tadi. Setelah mengucapkan terima kasih, Vina membawa Enzo ke kamarnya. Fadil hanya mengantar Vina sampai depan pintu kamarnya, namun tatapan mata Enzo begitu mengusiknya. Bocah itu tampak posesif pada adik atasannya. Bahkan sejak digendong Vina tadi, tangannya terus bergelayut manja di leher Vina.
"Lain kali jangan begitu, ya. Kasihan nini dan Oma," ujar Vina setelah berhasil masuk ke kamarnya dan mendudukkan Enzo di atas ranjang.
"Kakak, apa kakak tahu seperti apa rasanya punya ibu? nini dan Oma selalu bilang, punya ibu itu sama seperti punya Oma dan nini, tapi kenapa aku masih sering diejek oleh Mario dan Sion."
"Siapa itu Mario dan Sion?" tanya Vina tanpa Enzo tahu Vina kini menekan perekam suara. Entah mengapa dia sangat tertarik sekaligus iba dengan bocah itu.
"Mario dan Sion itu teman sekolahku, mereka bilang papa payah tidak bisa cari mamaku. Mereka selalu bercerita enak punya mama, tapi saat aku bilang punya nini dan Oma mereka malah tertawa dan mengataiku bodoh," ujar Enzo, muka bocah itu benar-benar melas sekali. Vina tersenyum dan mengusap puncak kepala Enzo.
"Enzo, apa yang nini dan Oma katakan memang benar. Rasanya sama saja seperti punya nini dan Oma. Sekarang kakak tanya, nini sayang tidak sama Enzo? Oma sayang tidak?" Enzo mengangguk tapi raut wajahnya masih menyiratkan kesedihan.
"Papa selalu pergi setiap aku tanya dimana mamaku. Enzo cuma pengen tahu bagaimana rasanya punya mama."
Vina menghela napas panjang. Ternyata masih ada yang hidupnya lebih menyedihkan darinya. Dia hanya setahun tak diberi nafkah, sedangkan bocah dihadapannya itu, mungkin sepanjang usianya sekarang dia sama sekali belum pernah bertemu ibunya. Vina jadi bertanya-tanya dimana mama Enzo. Jika meninggal kenapa keluarga Galang tidak jujur saja pada bocah itu. Vina teringat jika ia belum mengirim pesan pada Galang jika Enzo sudah ketemu. Ia lantas mengetik sebuah pesan panjang pada Galang.
Enzo ada di hotel tempatku menginap, sementara biar dia di sini. Katakan pada nini jika Enzo baik-baik saja. Aku akan bantu menjaganya hari ini. Besok pukul 8 pagi tolong jemput dia, aku harus kembali ke Jakarta, pesawatnya berangkat pukul 10.
__ADS_1
Galang menghela napasnya lega saat membaca pesan dari Vina. Tadinya dia sudah tak sabar menunggu kabar dari Vina mengenai keberadaan putranya. Meskipun Galang sering memarahi Enzo. Tak dipungkiri ia sangat menyayangi keturunan satu-satunya itu.
Terima kasih, maaf harus merepotkanmu.
Tak lama pesan yang dikirim Galang dibalas dengan sebuah rekaman suara. Pria itu dibuat penasaran, akan tetapi, saat ia akan menekan rekaman suara itu, pesan Vina masuk.
Kamu juga harus pikirkan psikis Enzo. Aku tidak tahu kamu punya masalah apa dengan ibunya. Tapi setidaknya beri dia kepastian dimana ibunya. Agar dia juga punya jawaban saat temannya mengoloknya.
Galang langsung mendengus membaca pesan Vina. Sok tahu sekali, ia saja juga belum pernah bertatap muka langsung dengan ibunya Enzo. Bagaimana ia bisa menceritakan pada Enzo tentang bagaimana ibunya.
Enzo tertidur di pelukan Vina. Sepertinya bocah itu kelelahan. Vina kembali berpikir bagaimana Enzo tiba di hotelnya? sedangkan jarak rumah nini Enzo ke hotel ini lumayan jauh.
Vina meng-upload foto itu dan menutup wajah Enzo dengan stiker bayi lucu. Dia menulis caption "Tidur yang nyenyak, Sayang. Biarkan dunia sekarang menertawakanmu, ada aku di sini yang akan selalu mendukungmu untuk menaklukkan dunia nanti."
Vina mengunggah foto Enzo di story WA-nya dan juga akun IG-nya. Tak lama akun IG-nya banjir komentar yang kebanyakan teman alumni SMA dan beberapa teman kuliahnya.
"*Diam-diam anaknya udah gede aja."
"Jangan ditutupin dong, Vin. Itu anak elo?"
__ADS_1
"Dari posturnya udah gede. Siapa, sih, Vin. Dapet duda, lo, ya*?"
Vina hanya tersenyum saat membaca beberapa komen dari teman-temannya. Dia ingin terkesan misterius, namun tak lama sebuah pesan masuk.
"Itu anak siapa, Dek?"
Vina hanya sekilas membaca pesan itu, dia buru-buru memblokir nama Pras dan keluarganya dari daftar penghuni ponselnya. Namun tak lama sebuah pesan masuk lagi dan ternyata dari bapaknya si bocah.
"*Apa dia tidur?"
"Ya, menurut kamu?" jawab Vina singkat.
Galang lagi-lagi mendengus membaca jawaban Vina yang selalu bisa membuatnya naik darah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayo dunk mana like dan komennya? yang baca ratusan yang komen cuma 3 orang sedih banget sih. ayok aku tunggu giftnya juga ya.
__ADS_1