Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Tak Terasa


__ADS_3

Vina dan Galang pulang dengan perasaan senang, meski Galang merindukan Enzo, tapi dia harus bersabar. Ia tak mau usaha anggota keluarga Vina menjadi sia-sia karena dia tak bisa menahan diri.


"Mas, kira-kira Enzo lagi ngapain, ya?"


"Mas juga engga tahu, Vin, tapi kita tetap engga bisa menghubungi Enzo. Kita harus menghargai usaha keluarga kamu, supaya kita berdua menikmati waktu sebaik-baiknya."


"Aku kalau diingetin malah jadi malu, Mas."


"Malu, kenapa?"


"Ya malu aja, kemarin mama ke Jogja kita dilarang nganter, terus sama Enzo juga diputus komunikasinya. Sampai segitunya memangnya kenapa?"


"Itu semua dilakukan supaya kita bisa fokus nyetak adik buat Enzo."


Mendengar ucapan Galang, Vina seketika merona. Kenapa bisa-bisanya Galang berbicara seperti itu seperti tanpa ada beban?


"Kok mukanya merah, Vin?"


"Udah ah, Mas. engga usah di bahas. Aku mau mandi dulu."


"Mandinya bareng, dong," ujar Galang. Vina hanya melengos dan masuk ke kamar mandi. Galang langsung mempercepat langkahnya menyusul sang istri masuk ke kamar mandi.


"Ya, ampun. Mas serius mau mandi bareng?"


"Iya, dong, Vin."

__ADS_1


Vina dibuat geleng kepala dengan tingkah Galang yang satu ini. Meskipun rada malu, Vina akhirnya manut-manut saja saat Galang melepaskan semua pakaiannya.


Galang menyalakan shower dengan mode air hangat, di bawah kucuran air Galang terlihat sangat memuja bentuk tubuh Vina. Galang membawa Vina bersandar di tembok. Pria itu mengangkat satu kaki Vina dan melesakkan inti tubuhnya memasuki Vina dengan posisi berdiri.


Vina berpegang erat pada bahu Galang. Gerakan Galang cukup cepat dan teratur. Vina mengerang dan melenguh saat inti tubuh Galang terasa mentok sampai ke ulu hati. Bibir Galang berkelana menyesap leher Vina yang tampak menggoda karena Vina menengadahkan wajahnya ke atas.


Tak lama tubuh Vina bergetar disusul erangan panjang Galang. Pria itu menggigit gemas bahu Vina yang terbuka.


Keduanya tampak mengatur nafas, Galang tersenyum melihat wajah Vina yang memerah.


"Mas keluar dulu, aku mau mandi."


"Kita mandi sama-sama saja, Sayang."


Vina pasrah, tubuhnya terasa lemas. Galang membantu Vina menyabuni seluruh tubuhnya.


"Mas aku mau ambil baju dulu."


"kamu tidak perlu baju, Vin. Aku masih mau lagi," ujar Galang menyeringai. Kini Galang mulai melolosi Bathrobe Vina. Tanpa membuang waktu, Galang kembali memasuki Vina dari arah belakang. Tubuh Vina melengkung, Galang semakin bersemangat melihat wajah merona istrinya.


Entah sampai kapan Galang menyelesaikan kegiatannya, yang jelas Vina sudah tidan tahu, ia sampai terlelap. Dia tak tahan dengan rasa nikmat yang untuk pertama kalinya dia bisa rasakan. Vina berturut-turut mendapatkan pelepasannya. Kakinya sampai terasa lemas saat menapak lantai.


Galang benar-benar menunjukkan keperkasaannya, tak terasa sampai pagi menyapa.


Galang memejamkan matanya saat adzan subuh berkumandang. Tubuhnya kini terasa segar setelah mendapat pelepasan berkali-kali. Dia tidur sembari memeluk tubuh Vina layaknya guling.

__ADS_1


Vina bagun kesiangan. Dia terbangun karena mendengar bunyi gedoran pintu. Dengan malas Vina memungut bathrobe nya dan lalu menuju lemari. Vina menarik kaos dan juga celana kulot dari tumpukan baju. Dengan gerakan yang luwes dan cekatan, dalam waktu singkat Vina telah rapi berbusana. Vina mengambilkan Galang pakaian dan juga perangkat lainnya.


Vina lantas membangunkan suaminya sebelum akhirnya ia membuka pintu.


"Mama!" pekik Enzo.


Vina tersenyum dan lalu menarik Enzo masuk ke dalam pelukannya.


"uhm, mama kangen sama Enzo."


"Enzo juga kangen mama."


"Kok kemarin mama ditinggal?"


"Kata tante Rita biar aku cepat punya adik kaya Davin."


"Memang Enzo mau punya adik?"


"Mau dong, Ma. Biar aku bisa pamer sama temen-temenku."


"Ayo masuk sini. Enzo belum menyapa papa, kan?"


"iya, Enzo sampai lupa."


Enzo turun dari pangkuan Vina dan masuk lebih dalam lagi ke kamar Vina. Bocah itu melihat papanya masih bergulung di dalam selimut.

__ADS_1


"Dasar papa curang. Kemarin gaya-gayanya nolak mama, sekarang malah yang paling kelihatan kesenengan," batin Enzo.


__ADS_2