
*****
Vina memandang kehadiran mantan suaminya dengan tatapan datar. Sudut hatinya berdenyut nyeri saat melihat penampilan mantan suaminya jauh lebih kurus dari saat terakhir pria itu menjatuhkan talaknya.
Pras menatap Fadil tajam dan menelisik, namun Fadil terlihat santai dan seolah tidak melihat Pras. Pras bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan pria tampan yang ada di samping mantan istrinya itu.
"Aku masih punya waktu 10 menit, silahkan mas bicara," kata Vina.
Pras mengedarkan pandangannya, dia seakan ragu jika harus berbicara dengan banyaknya pelanggan Vina di sekitarnya. Terlebih kini ada pria yang sejak tadi ada di dekat Vina. Hal itu tentu saja membuat Pras gusar.
"Di sini, Dek?"
Vina mengangguk, dia sebenarnya juga belum siap jika harus berbicara dengan Pras saat ini, tapi sepertinya semakin dihindari masalah mereka tidak akan bisa selesai.
"Aku butuh tempat privasi untuk membicarakan masalah kita, Dek."
"9 menit lagi." Sikap Vina pada Pras sudah seperti seorang guru yang sedang menunggu muridnya menyelesaikan ujian di menit-menit terakhir.
"Aku mau kita rujuk, ibuku sekarang sudah merestui hubungan kita," ujar Pras dengan suara yang direndahkan karena khawatir ada yang mendengarnya.
"Apa mas tahu arti kata talak 3 yang kemarin mas jatuhkan padaku?" tanya Vina, tatapannya seakan sedang menguliti Pras. Pras menelan salivanya dengan susah payah
"Aku tahu dek, aku akan carikan seseorang yang mau menikahimu. Lalu setelah itu kalian bisa pisah setelahnya. Lalu kita berdua kembali rujuk," ujar Pras, Fadil langsung mendengus kesal, sedangkan Vina menarik sudut bibirnya ke atas.
"Aku tidak ada waktu untuk melayani omong kosong kamu, Mas. Aku juga tidak mau kamu mengusik hidupku terus menerus. Restu ibumu sudah sangat terlambat. Setahun bagiku sudah terbuang percuma. Aku tidak mau menambah tahun-tahun berikutnya lagi."
Setelah mengatakan semua itu Vina menarik tangan Fadil. Dia berjalan melewati Pras yang tertegun di tempatnya begitu saja. Fadil seakan tersihir dan mengikuti langkah kaki majikannya. Vina membuka pintu samping kemudi dan masuk begitu saja. Fadil segera memutar langkahnya dan langsung masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil Vina meninggalkan pelataran kedai menuju kampus Vina.
Selama dalam perjalanan Vina membuang pandangannya menyapu jalan yang dia lewat. Tanpa terasa air matanya kembali menetes mengingat ucapan Pras. Mantan suaminya itu hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia membuat pengaturan yang seolah-olah tidak memerlukan persetujuannya. Mudahnya pria itu mengatakan hal-hal yang melukai harga dirinya.
Fadil sesekali melirik Vina dengan iba. Bagaimana wanita semuda itu harus melewati masa-masa sulit dalam berumah tangga, sedang anak lain seusianya mungkin sedang menikmati masa muda mereka dengan bersenang-senang.
"Aku turun di sini saja. Mas Fadil bisa langsung pulang. Nanti aku akan naik taksi saja."
__ADS_1
"Saya akan tunggu, Non. Saya sudah dipesan oleh mas Fauzi dan mas Fahri untuk menjadi supir Non Vina seharian ini."
"Kenapa enggak nolak aja? mas Fadil bisa kerja di tempat yang lebih bagus, jangan jadi supir lah. Sayang, kalau gantengnya cuma di simpan dalam mobil terus," ujar Vina dengan senyum tipisnya. Wanita itu pun meninggalkan Fadil yang termangu setelah mendengar pujian Vina.
Fadil bukannya tidak punya pekerjaan. Dia sebenarnya sudah dilatih untuk menjadi orang kepercayaan Fahri, kakak tertua Vina dan menjadi supir Vina adalah salah satu tugas penting untuknya. Jadi dia tidak keberatan jika harus mengantar gadis itu kemana pun.
Fadil meraih ponselnya dan hendak berniat menghubungi kekasihnya. Namun hingga panggilan yang ke 3 nomor sang kekasih tidak dapat dihubungi. Fadil lalu mengirimkan pesan pada kekasihnya. Dia berharap wanita pujaannya itu segera membalas pesan yang barusan dikirim olehnya.
Fadil bersandar di jok mobil, saat tanpa sengaja matanya melihat sesuatu yang langsung mengoyak harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Kekasih yang selama ini sedang diperjuangkan cintanya ternyata sedang bermanja-manja dengan seorang pria. Kekasihnya sedang bersandar di dada pria lain.
Fadil berdecih melihat hal itu, dia mengarahkan ponselnya dan mengambil gambar kedua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu. Fadil berpikir untuk apa kekasihnya ada di kampus itu? apakah pria yang sedang mengungkungnya itu seorang mahasiswa? Pikiran Fadil sedang berkecamuk, namun suara pintu mobil yang tertutup dengan keras membuatnya tersentak kaget.
"Non, kapan anda masuk?"
"Sejak tadi. Aku sudah berdiri di samping pintu 10 menit yang lalu. Apa sekarang kamu sedang kepo dengan pasangan di depan sana?"
"Pasangan?"
"Ya, Nilam Sari dan Desta. Mereka pasangan fenomenal yang paling tidak tahu malu. Mengumbar kemesraan dimana pun mereka berada. Jangan bilang kalau .... " Vina menutup mulutnya dan matanya yang membelalak lebar melihat ekspresi Fadil. Otaknya langsung berpikir tentang hubungan Fadil dan Nilam Sari.
"Apa kamu tidak ingin melakukan sesuatu pada mereka?"
"Tidak, Nona."
"Kenapa?"
"Orang tidak hanya akan mempermalukan mereka, tapi mereka juga akan mengasihani saya, seperti apa yang sedang nona lakukan. Jika boleh jujur, saya tidak suka dikasihani."
"Aku bukan mengasihanimu, Mas. Aku hanya tidak suka melihat orang yang hanya pasrah tanpa berbuat apa-apa."
"Berbuat sesuatu tidak perlu di depan umum," jawab Fadil, tatapan mata keduanya kini beradu. Namun Vina kembali membulatkan mata.
"Jangan bilang mas Fadil mau .... "
__ADS_1
"Ish, buang pikiran jorokmu itu. Mentang-mentang .... " Fadil langsung terdiam saat hampir saja dia mengatakan sesuatu yang mungkin akan menyakiti wanita muda itu.
"Apa?"
"Lupakan saja, ayo sekarang nona mau kemana lagi?"
"Aku mau pergi ke sebuah tempat. Mas Fadil tolong hubungi kakak ya."
"Kemana, Nona?"
"Nanti aku kasih tahu, Mas. Sekarang Mas Fadil bilang aja dulu sama kakak."
"Baik, Non." Sesaat karena ajakan misterius dari Adik atasannya itu, Fadil jadi sedikit melupakan masalahnya. Meskipun kecewa tapi Fadil tetap harus bekerja secara profesional.
Vina kali ini menjadi petunjuk arah bagi Fadil. Alis pria itu sempat terangkat karena membaca petunjuk arah yang menyatakan bahwa keduanya kini sudah keluar dari kota Jakarta.
"Kita kemana, Nona?"
"Aku ingin pergi ke Jogja untuk mengunjungi teman-temanku. Seketika Fadil menginjak remnya dalam, beruntung saat ini mereka tepat berada di persimpangan jalan rayaraya dan rambu lalu lintas memang berwarna merah.
"Nona anda jangan bercanda."
"Siapa yang bercanda, aku serius."
Fadil menepikan mobil yang dikendarainya dan menghubungi Fahri. Setelah berbincang sejenak, Fadil kembali sibuk dengan ponselnya sedang Vina masih menunggu dengan tenang, diam-diam Vina mengagumi supir pribadinya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai guys aku kembali mau promosikan karya menarik dari teman sesama penulis. Kali ini novel yang sangat seru dari kak Komalasari judulnya Jerat Asmara Sang Mafia.
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian di sana ya.
Adriano D'Angelo tak pernah menyangka bahwa Tuhan memberinya kesempatan kedua. Setelah ditembak oleh wanita yang sangat dia cintai kemudian dibuang ke laut, Adriano terdampar dan berhasil diselamatkan oleh seorang gadis bernama Olivia hingga pulih seperti sediakala. Adriano bertekad untuk melanjutkan hidup serta menutup kisah kelam masa lalunya, dengan tak lagi menginjakan kaki di Italia. Akan tetapi, siapa sangka jika dirinya dipertemukan lagi dengan wanita yang telah membuatnya celaka. Dia kembali terjebak dalam pusaran cinta yang ternyata tak mampu untuk disingkirkannya terhadap wanita yang tak lain adalah Florecita Mia.
__ADS_1
Akankah Adriano kembali mengejar Mia, atau memilih Olivia yang telah berjasa baginya?