
*****
Author Pov
Setelah makan siang di rumah nininya Enzo, Vina akhirnya langsung berpamitan, namun lagi-lagi Enzo berulah dan kali ini Galang seperti habis kesabaran.
"Enzo, berhenti merengek seperti itu. Papa tidak suka," hardik Galang. Vina benar-benar kesal dengan pria yang ada di depannya itu. Pria itu seperti tidak tahu cara menghadapi anak kecil.
Vina menunduk menatap Enzo yang berkaca-kaca. "Sayang, kakak tidak punya waktu untuk menemani Enzo sekarang, tapi Enzo masih menyimpan nomor kakak 'kan?"
Bocah itu mengangguk dengan bibir setengah melengkung kebawah. Vina tersenyum dan mengusap puncak kepala Enzo. Entah mengapa dia merasa iba dengan bocah itu. Sepertinya bocah itu tumbuh tanpa sentuhan seorang ibu.
"Kapan-kapan kita ketemuan di Jakarta, ya. Enzo bisa minta Oma untuk menghubungi kakak. Bagaimana?"
"Apa kakak janji?"
"Ya, kakak berjanji." Vina menyunggingkan senyum lembut. Tanpa ada yang tahu, nini dan juga bu Laras sama-sama sedang mengusap mata mereka yang berembun karena terharu melihat betapa lembutnya Vina pada Enzo.
Vina akhirnya bisa pergi, ia berpamitan pada nini dan juga bu Laras. Dia sama sekali tak menoleh pada Galang. Vina malas berurusan dengan pria kasar itu. Di depan kediaman nini Enzo, Fadil sudah menunggu dengan mobil Sedan S class. Galang yang melihat mobil itu semakin yakin jika Vina bukanlah dari kalangan orang biasa meskipun tampilannya sangat sederhana.
Setelah Vina meninggalkan tempat itu, Enzo turun dari gendongan neneknya dan berlari ke kamarnya. Bu Laras melirik tajam ke arah Galang.
"Bisa engga, sih, kamu itu jangan kasar sama Enzo. Apalagi di depan seorang wanita. Belum apa-apa wanita pasti udah ilfil duluan karena sikap kamu."
"Galang engga peduli, lagi pula siapa yang butuh wanita," jawab Galang tak acuh.
"Galang Satya Pratama, jangan keterlaluan kamu! kamu kira kamu lahir dari mana? mamamu ini juga seorang perempuan, nenek kamu juga perempuan. Kamu mau sampai kapan akan terus menyimpan dendam itu? mama sudah katakan berkali-kali, Enzo butuh sosok seorang ibu dan tidak semua wanita seperti mantan kamu." Suara bu Laras terdengar meninggi, dia kesal sekali dengan putranya itu. Traumanya hanya sekali tapi justru malah membuat pria itu sampai sekarang betah untuk menjomblo. Bahkan Galang menghadirkan cucu untuk mama Laras dengan cara antimainstream. Mama Lasar sampai dibuat pusing dengan kelakuan Galang.
"Sudah, Ras. Jangan marah-marah. Nanti kamu kambuh lagi." Oma Galang memperingatkan anaknya, namun selesai berucap demikian Bu Laras sudah jatuh menghempas tanah.
Semua panik termasuk Galang. Galang segera mengangkat ibunya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Oma aku nitip Enzo dulu, aku bawa mama ke rumah sakit sekarang."
Pak noto sudah menyalakan mesin mobil, Galang segera masuk dan meletakkan kepala bu Laras di pangkuannnya. Galang tak menyangka jika akan seperti ini jadinya. Dia menyesali ucapannya yang tadi terlontar untuk ibunya.
"Pak, cepat ya, Pak."
"Iya, Tuan."
Tak sampai 15 menit, mobil Galang sampai ke pelataran gedung rumah sakit. Pak Noto turun terlebih dahulu untuk memanggil perawat. Tak berselang lama bu Laras sudah ditangani di ruang IGD. Galang mengusap wajahnya kasar.Jangan sampai sesuatu yang buruk menimpa mamanya. Dia berjanji akan menuruti semua keinginan mamanya, jika mamanya pulih nanti.
Dokter keluar dari ruang IGD. Galang pun langsung mendekati dokter itu. "Bagaimana kondisi mama saya, Dokter?"
"Ibu anda mengalami syok. Saturasi oksigen dalam darahnya rendah dan juga tekanan darahnya tinggi."
"Tapi beliau akan baik-baik saja kan, Dok?"
"Semoga saja, Tuan. Kita juga sedang menunggu apakah ada kelainanllain seperti pembengkakan pembuluh darah, atau yang lainnya. Tadi beliau mengalami serangan jantung ringan. Untuk sementara biarkan ibu anda beristirahat dulu. Jangan;? memulai pembicaraan yang memancing emosinya, karena kondisinya belum stabil."
Bu Laras sudah di pindah ke ruang perawatan. Galang duduk di samping tubuh mamanya. Melihat mamanya memakai baju pasien membuat tampilannya terlihat lebih tua. Galang menyadari sampai sekarang dia belum memberikan kebahagiaan untuk mamanya. Sejak kepergian papanya, selain Oma, Galang satu-satunya keluarga mama Laras yang tersisa dan sekarang bertambah dengan Enzo yang statusnya anak tanpa ibu.
"Ma, bangun, Ma. Maafin Galang. Galang janji, setelah mama sembuh, galang akan menuruti semua kemauan mama." Galang menunduk sambil mencium punggung tangan mamanya berkali-kali.
"Bener, ya. Mama sudah dengar janji kamu. Kamu engga boleh ingkar," sahut mama Laras tiba-tiba. Galang mengangkat kepalanya lalu tersenyum dan mengangguk.
"Iya, Galang janji, tapi Mama jangan sakit lagi. Cuma mama dan oma yang Galang punya."
"Ada Enzo, jangan lupa. Mama bukannya tidak mau mengerti kamu, tapi mama tahu rasanya tumbuh tanpa salah satu orangtua karena kakekmu telah lama tiada. Meskipun mama dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh oma, tapi sudut hati mama masih merasakan kekosongan. Saat mama lihat teman-teman mama pulang dijemput oleh ayahnya, mama harus mandiri, pulang naik angkutan umum sendiri. Mama tidak mau cucu mama merasakan itu," ujar mama Laras berlinang air mata.
"Iya, setelah mama sembuh, Galang akan ikuti semua yang mama atur untuk Galang." Galang mengusap air mata ibunya dengan lembut. Mama Laras benar-benar bersyukur, walau dia harus sakit dulu saat ini, tapi setidaknya Galang pada akhirnya mau menuruti keinginannya.
Di saat ibu dan anak itu mulai akur, ponsel Galang berdering. Dia segera mengangkat panggilannya saat melihat nama oma nya tertera disana.
__ADS_1
"Halo, Oma."
["Gal, Enzo hilang. Nini ketuk-ketuk kamarnya tidak dibuka tadi, terus nini ambil kunci cadangan, tapi Enzo tidak ada dimana pun, bagaimana ini?"]
"Bentar, Oma. Galang keluar dulu sebentar. Di sini tidak ada sinyal." Galang memberi kode pada mamanya jika dia harus keluar ruangan. Jangan sampai ibunya mendengar kabar cucu kesayangannya hilang. Dimana putranya sekarang? Masalah satu baru saja terselesaikan, kini malah ada masalah baru lagi. Galang menyugar rambutnya kasar.
["Gimana, Gal?"]
"Oma tenang dulu, Galang akan minta bantuan teman Galang untuk mencari Enzo. Galang tidak bisa meninggalkan mama."
["Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi saja, Gal?"]
"Oma, tenang dulu. Jangan panik. Enzo anak yang cerdas. Percaya sama aku, dia pasti akan baik-baik saja."
Galang mematikan sambungan teleponnya. Dia langsung mengecek CCTV yang ada di rumah oma-nya. Enzo pergi setelah Mobil yang dikemudikan pak Noto keluar halaman. Galang mengusap wajahnya kasar. Jangan sampai putranya kenapa-napa.
"Apa jangan-jangan Enzo mendatangi Vina lagi?"
Galang segera menekan beberapa tombol, nomor ponsel Vina. Tiga kali dering, panggilannya langsung diangkat.
["Halo,"] suara merdu itu membuai telinga Galang sesaat hingga Galang lupa untuk berkata-kata.
["Halo, ini siapa ya?"]
"Eh, aku Galang. Apa Enzo mendatangi kamu? selepas kamu pulang Enzo kabur dari rumah."
["Hah... Aku tidak tahu, saat ini aku sedang bertemu dengan temanku di luar, apa jangan-jangan Enzo datang ke hotel ya?"]
"Entahlah, aku juga bingung. Aku saat ini sedang di rumah sakit karena mama kena serangan jantung."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1