
Hari pernikahan Vina dan Galang telah tiba, semua tampak antusias menyambut pernikahan ini. Taman kaca telah diubah menjadi gelaran tempat ijab qabul. semua dihias serba putih dan dihiasi bunga sedap malam, baby breath, dan taburan bunga mawar di setiap sudut ruangan.
Vina sedang didandani oleh dua MUA yang sudah sangat profesional. Wajahnya telah dirias dengan make up natural flawless dan ia juga memakai sanggul modern dan kebaya berwarna Gold tampilan Vina tampak begitu luar biasa.
Vina sudah siap begitu juga dengan saudara-saudaranya. Rombongan keluarga Galang sudah tiba di kediaman mereka. Pria tampan itu juga memakai beskap khas adat Jogjakarta berwarna senada dengan kebaya Vina. Penampilannya sungguh sangat memukau sekali.
Vina benar-benar berdebar menunggu acara ini berlangsung. Galang dan rombongan keluarga datang membawa seserahan. Fahri yang menyambut calon adik iparnya. Setelah acara ramah tamah selesai, Galang kini sudah menghadap ke penghulu.
Pria itu dengan lantang mengucap ijab qabul tanpa hambatan. Setelah semua yang hadir menyatakan Sah, Vina dibawa keluar oleh kedua kakak iparnya.
Enzo sangat senang melihat kemunculan mama barunya itu. Dia melompat-lompat kegirangan di samping omanya.
"Mama," seru bocah itu dengan penuh semangat.
Vina sekilas menoleh ke arah Enzo dan tersenyum. Ingin rasanya Enzo mendekat dan memeluk ibu barunya itu, tapi seakan demi menjaga wibawanya di depan sepupunya dan juga keponakan Vina yang sangat dekat dengannya. Enzo memilih tetap berdiam diri di tempatnya menyaksikan papa dan mamanya bersatu.
Acara sakral itu berakhir dengan meriah, Vina tidak serta merta diboyong ke rumah Galang, melainkan Galang yang akan tinggal di kediaman Adiatirta. Saat ini baik Vina dan Galang baru saja selesai di preteli dari busana yang tadi mereka kenakan, Vina kini memakai sebuah dress rumahan sedangkan Galang memakai celana pendek dan kaos oblong berwarna putih.
"Mas, kalau mas keberatan dengan syarat dari kak Fahri, aku engga apa-apa lho tinggal di rumah kamu," kata Vina.
"Tinggal di sini juga aku engga apa-apa, Vina. Palingan nanti pembantu di sana sebagian aku ajak kesini. Biar yang di sana cukup beberapa buat bersih-bersih. lagian mama mau menghabiskan hari tuanya di Jogja menemani Nini."
"Gitu, ya, Mas? kok aku jadi engga enak sama mama kamu."
"Mama kita, Vina. Sekarang mama aku juga mama kamu."
"Oh iya, kira-kira Enzo rewel engga ya liburan sama mereka?"
__ADS_1
"Engga akan. Dia justru malah seneng, apalagi papanya."
Alis Vina mengernyit, papanya? bukankah itu berarti Galang? tapi kan dia tidak ikut liburan kakaknya?
Galang terkekeh sembari mengusap wajah Vina. "Bingungnya kok bikin gemes, sih."
"Maksud aku tadi aku senang karena malam ini engga akan ada yang mengganggu kita," sambung Galang. Wajah Vina langsung merona. Dia segera berjalan cepat masuk ke kamar mandi.
Galang terkekeh melihat kegugupan Vina. Sayang sekali, suaminya dulu tidak bisa memperlakukan Vina dengan baik. Akan tetapi Galang bersyukur. Karena dengan begitu kini dia bisa memiliki Vina.
Vina keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar. Galang tersenyum dan segera menghampiri istrinya itu.
"Duh, Vin. Kok buru-buru mandinya, padahal tadi aku mau nyusulin kamu mandi, loh."
"Apa sih, Mas." Wajah Vina kembali memerah, tapi Galang tidak peduli. Ia mengangkat Vina dan segera membawanya ke ranjang.
"Semua sudah diambil mereka dan mereka tadi juga sudah pamitan. Enzo dan kakak kamu serta yang lainnya udah sampai di hotel. Pokoknya hari ini sampai 3 hari ke depan engga akan ada yang mengganggu kita, Sayang," bisik Galang tepat di telinga Vina.
Vina tidak tahu lagi harus berbuat apa karena saat ini Galang sudah mulai menjamah tubuhnya dan membuat aliran napasnya seketika terasa tersumbat.
Vina bahkan sering menahan napas saat tangan Galang bergerak lembut membelai dadanya dan memberi pijatan lembut.
lama kelamaan erangang panjang lolos dari bibir Vina mana kala bibir Galang bergerak dengan intens di inti tubuh bagian bawah Vina.
Galang melepas semua kain yang menempel di tubuhnya. Ia juga melucuti semua yang dikenakan oleh Vina. Kini Galang berhasil memasuki Vina hingga membuat tubuh Vina melengkung.
"Ahh, Mas." des*h Vina lirih sembari mencengkeram bahu Galang.
__ADS_1
Tak lama pertempuran yang melelahkan itu diakhiri dengan erangan panjang Galang dan juga Vina. Kini tubuh keduanya terbaring lemah dengan posisi saling berpelukan.
Vina baru kali ini merasa begitu dipuja dan diperlakukan dengan sangat hati-hati. Matanya terpejam dengan bibir yang melengkungkan senyuman.
Vina merasa tubuhnya kembali terhentak dengan lembut, ia membuka mata dan menatap suaminya yang menambah jatah batinnya untuk kedua kalinya. Vina hanya bisa pasrah. Suaminya benar-benar teramat perkasa hingga Vina pun tak kuasa menolak pesonanya. Melihat suaminya yang berkeringat saja, wajah Vina langsung memanas.
Galang mengukir senyum sekilas saat melihat Vina membuka mata dan selebihnya mata Vina kembali terpejam saat mendapatkan ciuman panjang dari Galang.
Setelah pertempuran ronde kedua, Vina bangkit dari posisi tidurnya. Dia harus mandi lagi karna tidak mau tidur dalam keadaan berpeluh.
"Mau kemana, Sayang?"
"Mandi, Mas."
Tanpa basa basi Galang langsung mengangkat tubuh Vina, membopongnya ala bridal style masuk ke kamar mandi. Keduanya masuk dalam keadaan sama-sama polos.
Di dalam sana, Galang kembali mengerjai Vina habis-habisan sampai kaki Vina terasa lemas dan gemetaran.
"Mas, kaki aku lemes," rengek Vina.
"Aku yang akan jadi kakimu."
Galang kembali mengangkat Vina setelah sebelumnya dia memandikan Vina dengan lembut.
Vina mengerucutkan bibirnya. Galang tertawa. Ternyata menikah tidak seburuk yang dia sangka. Dan ia bersyukur telah dipertemukan dengan istrinya ini. Wanita muda yang sangat cantik dan penuh perhatian.
Galang berjanji akan terus menjaganya dan tidak akan pernah menyakiti hatinya. Vina terlalu berharga untuk disakiti.
__ADS_1