Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 6. Talak


__ADS_3

*****


Vina Pov


Aku benar-benar tidak sabar menanti kata talak dari mas Pras. Biarlah kali ini aku di cap sebagai istri durhaka, asalkan aku bisa terlepas dari keluarga mas Pras yang selalu menzalimi aku.


"Aku.... "


"Cepat ceraikan saja wanita itu, Pras!" Seru ibu dari luar kamar. Mas Pras tampaknya masih bimbang tapi dalam hatiku masih terus merapalkan doa agar mas Pras menjatuhkan talaknya.


"Maafkan aku, Dek," lirih mas Pras, namun tak lama kemudian dia berujar dengan suara yang lantang. "Aku Prasetya Gunawan, dengan ini, ku jatuhkan talak 3 padamu Vina Adiatirta."


"Bagus, Pras," ujar ibu mertuaku dari luar. Tidak ada sedikitpun air mata yang jatuh di wajahku. Aku benar-benar sudah ikhlas jika harus menjanda, daripada bertahan dan terus terluka.


"Terima kasih, Mas." Setelah mengucapkan kata itu, aku kembali melanjutkan membereskan barang-barangku. Aku mengambil ponsel dan menghubungi kang Dudung. Pria yang biasanya menawarkan jasa supir angkut barang. Mas Pras diam terpaku di tempatnya, tapi aku sungguh tidak peduli lagi. Soal cinta, lambat laun pasti rasa ini akan hilang dengan sendirinya.


"Kamu mau tinggal di mana setelah ini, Dek?"


"Di mana saja, Mas. Asal hatiku nyaman dan tenang."


"Maafkan sikap ibuku, ya, Dek."


"Aku sudah memaafkannya, Mas." Aneh sekali, dia melimpahkan salahnya pada ibunya, tapi tidak minta maaf atas sikapnya selama ini."


Kang dudung kembali menghubungiku. Dia ternyata sudah ada di ujung gang. Aku memintanya masuk hingga ke halaman saja, karena memang ada barang yang akan aku bawa dari rumah ini. Aku sudah selesai dengan koperku.


"Aku bawa surat nikah kita untuk aku bawa ke pengadilan, Mas."


"Ya, dek," jawab mas Pras dengan lesu.


Aku keluar dari kamar, wajah mantan ibu mertuaku tampak sangat bahagia. Aku pun tersenyum tipis tapi tunggu saja. Aku akan buat senyum itu pudar sebentar lagi. Kalian boleh saja menindasku, tapi aku akan memberikan kalian kejutan sebentar lagi.


"Ini, Kang, tolong naikkan," ujarku menyerahkan koper milikku.


Setelah itu aku kembali masuk ke dalam rumah. Wajah ibu langsung masam melihatku. Aku tidak peduli, yang penting setelah ini aku tidak akan berhubungan dengan keluarga mereka lagi.

__ADS_1


"Saya hanya mau mengambil sesuatu yang tertinggal saja kok, Bu. Tidak akan lama," ujarku. Aku masuk ke dapur. Aku melepas regulator dari kompor lalu mengeluarkan semua sayuran dan daging yang ada di kulkas, karena barang-barang itu aku yang beli. Biarlah kali ini aku perlihatkan pada mereka, bahwa aku sebenarnya telah memberi banyak kontribusi untuk keberlangsungan rumah ini..


"Kang Dudung, tolong ikut aku sebentar." Kang Dudung pun dengan sigap langsung masuk. Aku mengarahkan kang Dudung untuk mengangkut kulkas, kompor dan aku juga menunjuk jemuran yang ada di samping rumah. Kang dudung mendorong kulkas itu, karena memang dibawah kulkas ada rodanya.


"Lho, lho, lho... itu kulkas mau dibawa kemana?" teriak mantan ibu mertuaku geram. Wajahnya memerah karena emosinya yang siap meledak kapan saja.


"Maaf, Bu. Saya cuma disuruh mbak Vina untuk bawa," jawab kang Dudung santai. Aku pun segera keluar dengan membawa beberapa panci dan juga panci presto baru yang beberapa waktu lalu aku beli bertepatan dengan hari raya Idul Adha.


"Dasar, menantu si*alan menantu tak berguna," pekik mantan ibu mertuaku. Aku pun menghentikan langkahku.


"Bu Siti, saya hanya mengambil apa yang menjadi kepunyaan saya. Saya tidak mengambil barang-barang Bu Siti. Kenapa saya masih saja terlihat salah di mata anda?"


"Dasar kurang ajar, jika mau pergi ya pergi saja sana. Lalu untuk apa kamu membawa barang-barang itu?" pekik mantan mertuaku dengan mata yang nyaris keluar dari tempatnya saat melihat Kang Dudung kembali mengangkat kompor gasku. Aku pun kembali tersenyum.


"Bu Siti jangan lupa, barang-barang ini ku beli dengan uangku. Jika kehadiranku tidak di perlukan di sini maka aku akan mengambil apa yang memang menjadi hakku."


"Oh ya, Mas, mana kunci motorku?"


"Dek, tapi.... "


"Motor itu juga aku yang beli, Mas. Jadi kembalikan kuncinya."


Aku keluar dari rumah, ternyata pertengkaran di dalam rumah tadi memancing beberapa tetangga dekat untuk menonton kami dari luar rumah.


"Lho, nak Vina, mau pindahan ya?" tanya Bu Nia, salah satu tetangga yang cukup baik padaku, sedang beberapa ibu-ibu yang lainnya tampak menyimak.


"Iya, bu Nia. Lebih tepatnya saya keluar dari anggota keluarga ini," ujarku.


"Nak Vina cerai sama Pras?" tanya bu Nia dengan raut wajah terkejut. Aku tidak mengiyakan hanya membalas pertanyaan bu Nia dengan senyum tipis. Kang Dudung sudah selesai menaikkan semua barang-barang termasuk motorku.


"Pamit, ya, Bu Nia. Mari ibu-ibu." Aku pun segera masuk ke pintu samping kemudi. Tak lama, mobil pick up kang Dudung mulai berjalan meninggalkan halaman rumah mas Pras. Tempat yang menjadi saksi bisu bagaimana zalimnya mereka terhadapku.


Aku mengeluarkan ponselku dan menghubungi bu Risma. Bu Risma adalah orang yang aku percaya untuk mengurus rumah almaruh kedua orang tuaku. Aku memintanya membersihkan rumah itu karena aku akan tinggal di sana setelah ini.


Sejak awal, aku memang belum terbuka pada suamiku mengenai harta benda yang aku miliki. Itu lantaran sejak menikah dan menjadi istri mas Pras aku melihat sendiri suamiku menunjukkan sisi egoisnya. Dia terlalu berbakti kepada ibunya sampai-sampai abai terhadap kewajibannya padaku, istrinya sendiri.

__ADS_1


Awalnya aku bisa terima hal itu, aku pikir selagi masih belum mempunyai anak tidak apa-apa. Sampai suatu saat mas Pras untuk yang pertama kalinya memberiku uang 1 juta padaku. Katanya itu untuk tambah-tambah keperluan dapur.


Belum sampai sempat aku memakai uang itu, Pagi-pagi sekali ibu mertuaku memakiku, katanya aku sudah mempengaruhi pikiran anaknya, sampai-sampai anaknya mengurangi uang jatah belanjanya. Sungguh aku merasa miris. Bahkan uang 1 juta yang diberikan mas Pras padaku, mungkin tidak ada apa-apanya dibanding dengan uang yang selama ini diterima ibu. Aku yang tak mau berdebat akhirnya memilih menyerahkan uang 1 juta itu pada ibu mertuaku.


Saat mas Pras pulang kerja, aku mengadukan semua padanya, bahkan saat aku berkata uang itu aku berikan pada ibu semua dia hanya berkata ya sudah. Tidak ada niatan darinya mengganti uang itu. Kecewa? itu sudah pasti. Dia yang seharusnya menjadi pengayom ku ternyata tidak mampu bersikap adil.


Aku bertahan selama ini karena mas Pras tidak pernah berlaku kasar padaku. Dia selalu bersikap lembut dan baik padaku, meskipun tak pernah memberi nafkah secara lahir.


"Selamat menjalankan kehidupan yang baru, Vina," gumamku saat mobil pick up mang Dudung memasuki pelataran rumah almarhum kedua orang tuaku.


"Rumah neng, gede pisan."


"Ini rumah almarhum kedua orang tua saya, Kang, saya mana mampu beli rumah sebesar ini."


"Neng Vina merendah banget. Saya yakin, neng Vina suatu saat bakalan sukses kaya almarhum orang tua, Eneng."


"Aamiin, Kang. Makasih doanya."


Bu Risma membuka pintu rumah, senyumnya sangat ramah, tapi tunggu, siapa pemuda itu? bu Risma tidak pernah bilang jika dia memperkerjakan orang lain.


"Neng Vina, ibu senang akhirnya neng Vina pulang lagi kemari. Oh iya, kenalin, Neng, ini Fadil putra ibu."


"Fadil... " pria itu mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menerima uluran tangan itu.


"Vina." Kami berjabat tangan sesaat. Bu Risma merangkulku dan mengajakku masuk ke dalam, sedangkan Fadil membantu Kang Dudung menurunkan bawaanku.


"Oh ya, Neng. Suami neng Vina engga ikut?" tanya bu Risma sambil celingukan mencari mas Pras.


Aku pun menggeleng. "Engga, Bu. Vina pulang ke sini karena rencananya kami mau cerai. Tadi mas Pras sudah menjatuhkan talaknya padaku."


"Astagfirullah, Neng, yang sabar, ya."


"Bu Risma tenang saja, aku justru ikhlas diceraikan.


"Siapa yang cerai?"

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Dukung terus karyaku ya gengs. Kasih like, komen dan Vote kalian, Oke 🥰🥰🙏


__ADS_2