
*****
Bu Siti Pov
Setahun yang lalu, Pras putraku tiba-tiba datang dan minta dinikahkan dengan seorang gadis. Saat aku bertanya tentang gadis itu Pras bercerita jika gadis itu berjualan ayam di dekat pasar.
Sebenarnya Aku merasa malu punya calon menantu seperti dia, keluarganya pun tak jelas. Entah dari mana ketemunya dengan Pras, putraku itu juga tidak pernah membahas perempuan ini sebelumnya, tapi mendadak minta langsung dinikahkan.
Awalnya Aku menolak karena malu pada tetangga, sementara Asya istri Bagas saja lulusan S1 apa jadinya kalau Aku punya menantu yang hanya lulusan SMA itu. Namun karena Pras mengancam tidak akan lagi memberiku uang dan akan kawin lari dengan perempuan itu, Aku pun akhirnya merestui mereka dengan terpaksa. Aku juga meminta syarat pada Pras untuk menaikkan uang belanjaku dari 4,5 juta menjadi 6 juta. Untungnya putraku itu tipe anak yang sangat berbakti padaku.
Aku sengaja mengadakan pernikahan sederhana di rumah karena katanya perempuan itu hanya kos di dekat pasar. Ia hanya diantar oleh kedua kakaknya, katanya. Entah kakak betulan atau kakak ketemu gedhe, tapi untungnya kedua pria yang mengaku sebagai kakak perempuan ini sedikit pengertian, mereka memberikan uang 10 juta untuk ganti uang dapur katanya. Yah, setidaknya lumayan untuk nanti tambah-tambah beli perhiasan, karena sebenarnya uang dapur sudah diberi Pras beberapa hari sebelum acara ijab qabul dilaksanakan.
Setiap harinya, entah mengapa Aku selalu merasa risih dan tidak suka pada istri Pras itu. Dia tidak bisa tampil cantik seperti Asya menantu pertamaku. Asya seorang manager di sebuah hotel yang ada di tengah kota. Status jabatannya begitu tinggi berbeda dengan Vina. Dari cerita Pras padaku, Vina ini sudah 3 tahun berjualan ayam, tak dijelaskan ayam apa yang dia jual, apakah matang atau mentah Aku juga tidak peduli. Aku melimpahkan semua keperluan dapur pada perempuan itu dan dia dengan bodohnya menyanggupinya. Padahal Aku tahu uang Pras sudah sebagian besar diberikan padaku.
"Bu, ini uang belanja untuk ibu," Pras menyerahkan setumpuk uang berwarna merah padaku, tapi tunggu sepertinya jumlahnya tidak seperti kemarin.
"Kamu mengurangi jumlahnya, Pras?"
"Da... dari mana ibu tahu?" tanya Pras, tampak sekali jika putraku itu sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
"Ibu sudah sering pegang uang, Pras. Kamu kurangi berapa?"
"Pras hanya ambil satu juta, Bu."
Mataku seketika melotot. "Satu juta, Pras? untuk apa?"
"Untuk uang belanja Vina, Bu. Kasihan dia nombok terus."
"Kamu itu, Pras, mbok jadi orang jangan gampang dibodohi perempuan. Dia itu kerja, 'kan? dia punya uang. Biar saja uang dapur dari uangnya. Toh dia juga sekarang menumpang di rumah kita."
"Tapi, bu. Uangnya sudah terlanjur Pras berikan pada Vani."
__ADS_1
"Itu biar ibu yang urus. Kamu cukup diam saja kalau nanti dia mengadu padamu."
"Baiklah, Bu. Pras berangkat kerja dulu ya."
"Hmm... "
Kesal, sangat kesal sekali hati ini, bisa-bisanya Pras memotong uang belanjaku untuk istrinya. Perempuan itu kan kerja biar saja dia keluar uang untuk kebutuhan rumah ini. Hitung-hitung sebagai ganti uang sewa rumah.
Saat itu Vani keluar dari kamar, dia hendak pergi ke pasar mungkin dengan penampilannya yang biasa saja itu.
"Kamu apakan putra saya? kamu mencuci otaknya ya agar dia memberi kamu uang?"
"Astaghfirullah, Bu. Saya tidak apa-apa kan mas Pras. Tadi pagi memang mas Pras memberi saya uang, tapi sumpah demi Allah, saya tidak pernah memintanya.
"Halah, itu pasti akal-akalan kamu saja 'kan? gara-gara kamu, Pras memotong uang belanjaku."
"Ya Allah, Bu. Sumpah, tadi mas Pras yang memberikan uang itu sendiri padaku. Aku juga belum memakainya."
"Ya bagus deh. Kalau kamu memakainya, berati kamu juga harus mengganti uang itu."
"Ibu kayaknya lagi seneng banget ya," tanya menantu pertamaku, Asya. Dia sudah tampil sangat cantik dan wangi berbeda dengan gadis kampungan tadi.
"Tentu dong, Sya."
"Bu, kemarin Asya lihat ada promo make up. Tapi sayang uang Asya sudah Asya kirim sebagian ke kampung buat biaya sekolah Aqilla."
"Memang berapa harganya, Sya?"
"Sejuta, bu. Mau minta mas Bagas aku juga ga tega, Bu."
"Oh, tenang saja. Ini ibu ada uang sejuta. Kamu pakai saja buat beli make up itu. Kalau kamu cantik dan disukai banyak orang kan ibu juga bangga sama kamu."
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Aku langsung menyerahkan uang sejuta itu pada menantuku yang paling cantik. Tidak apa-apa asal dia bisa mempertahankan jabatannya kalau perlu syukur-syukur dia bisa naik jabatan.
...***...
Beberapa bulan berlalu, tapi istri Pras tak kunjung hamil, Aku curiga kalau ternyata perempuan kampungan itu mandul.
"Pras, istrimu itu kok tidak hamil-hamil?" tanyaku penasaran.
"Sabar, Bu. Pras baru menikah selama 8 bulan. Kami tidak buru-buru untuk punya keturunan."
"Iya kamu memang tidak buru-buru, tapi pasti para tetangga akan menggunjingkan kalian."
"Jangan terlalu didengarkan apa omongan tetangga, Bu. Kita makan tidak minta mereka kok."
Pras lalu masuk ke kamar meninggalkanku. Makin lama kelakuan Pras semakin seperti anak yang susah diberi tahu. Ini pasti ulah Vina istrinya yang terus memberi pengaruh buruk pada putraku.
Saat di dapur istri Pras itu tampak kerepotan menyalakan kompor butut milikku. Akhirnya aku punya ide untuk memerasnya secara halus.
"Sudah tahu kompor butut, masih saja terus coba dinyalakan. Mbok ya mikir beli baru kek, apa gimana? katanya sekolah tapi ga bisa mikir."
Aku hanya menyindirnya sambi lalu. Jika tetap berada di sekitarnya pasti nanti tensi darahku akan naik lagi. Dari sindiran yang ku lontarkan padanya, Aku tak menyangka dia akan sungguh-sungguh membeli kompor baru, aku yakin kompor yang dibelinya ini kompor yang lumayan mahal.
"Huh, nunggu disindir baru beli," gumamku.
Sebenarnya tidak ada satu pun hal yang menurutku salah padanya. Hanya saja aku tidak suka melihat istri Pras itu, mungkin itu juga yang membuat seolah dirinya selalu salah di mataku.
Saat ini menantu tak ku harapkan itu sedang berjalan ke luar, Aku pun segera mendekatinya. Dia tampak terkejut saat aku berdiri di dekatnya.
"Hei, perempuan mandul, sebenarnya kamu itu pake pelet kan untuk menjerat putraku?"
"Ya Allah, Bu, kenapa ibu selalu berburuk sangka pada saya? apa salah saya?"
__ADS_1
"Salah kamu itu banyak. Kamu masuk ke kehidupan Pras saja itu sebuah kesalahan bagi saya. Apalagi gara-gara kehadiran kamu, putraku itu sekarang jadi bebal tidak bisa di kasih tahu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...