
*****
Sepanjang perjalanan menuju ke tempat makan, Vina lebih banyak diam. Ia sibuk berkabar dengan kedua sahabatnya. Mereka janjian untuk bertemu di tempat makan yang sejak tadi memang sudah diminati oleh Vina.
Fadil sesekali melirik dari spion tengah ke arah Vina. Ia merasa telah melakukan sesuatu yang salah, sampai-sampai Vina seolah sedang membatasi diri. Rasanya ingin sekali ia membuka percakapan, tapi tidak berani.
"Masih jauh, Pak?" tanya Vina memecah kesunyian di dalam mobil.
"Sebentar lagi, Non. Ini bukan masalah jauhnya, tapi memang kalau malam minggu, Jogja itu ramai dan sedikit padat karena banyak orang yang ber-pariwisata kemari."
"Oh, berati aku tepat, ya? datang pas lagi padat-padatnya. Di sepanjang jalan tadi aku lihat juga banyak pedagang makanan. Tapi buat menjajaki satu per satu untuk nyari makanan yang aku mau, aku malas banget."
Tak berapa lama, mobil mereka tiba di daerah Notoprajan, lokasinya tidak terlalu jauh dari keraton Jogja. Baru melihat spanduknya saja air liur Vina sudah tak terbendung lagi. Ia merasa sangat bersemangat untuk mencoba makanan yang terkenal sangat pedas itu. Di tempat itu menyajikan menu oseng mercon yang selama ini hanya didengar ceritanya dari para sahabatnya. Vina yang memang doyan sekali dengan makanan pedas sampai-sampai tak sabar untuk masuk ke dalam kedai makan itu.
"Pak, nanti sama mas Fadil ikut makan sekalian, Ya. Saya mau turun sekarang." Vina langsung membuka pintu mobil dan keluar tanpa menunggu jawaban dari kedua pria yang duduk di depannya.
Vina mengambil ponselnya dan memotret tampilan kedai. Dia segera mengirimkan pesan ke grup chat agar kedua sahabatnya segera tiba.
Cepat datang, air liur ku sudah hampir menetes.
Pesan baru terkirim saat tiba-tiba dua orang memeluk Vina dari arah belakang. Vina terkejut bukan main, untungnya ponselnya tak terlepas dari tangannya.
"Long time no see, Dear," sapa salah satu sahabat Vina.
"Alex, i miss you, Riska, i miss you." Vina menangis memeluk kedua sahabatnya, air matanya adalah wujud kerinduannya pada dua sahabatnya itu. Banyak hal yang belum ia ceritakan pada kedua sahabatnya sampai sekarang.
"Oh, jangan bikin baper dong, Sweetheart." Riska masih memeluk Vina dan menepuk-nepuk punggung Vina.
"Kalian udah dua tahun ga ke Jakarta, kalian emang udah ga sayang aku lagi?" ujar Vina melepas rangkulan mereka.
__ADS_1
"Duh, kita kemari itu bukan untuk piknik atau melancong, lho. Kita ini di sini menuntut ilmu, Vin. Wajar kalau waktu kita terbatas. Liburan semester pun aku sama Alex lebih milih buat belajar supaya bisa segera lulus. Kamu sendiri gimana?"
Vina kembali sendu saat mendapat pertanyaan itu dari Riska. Alex mengajak kedua sahabatnya untuk duduk terlebih dulu. Fadil dan pak Asep ikut duduk tak jauh dari ketiga sahabat itu.
"Ada apa?" tanya Alex.
"Aku sekarang janda," lirih Vina. Dua sahabatnya seketika membelalak kaget.
"Hah, kok bisa? selama ini kita kontek-kontekan terus, kamu ga ada bahas masalah ini," tanya Alex, dari nadanya ia tampak kecewa mendengar ucapan Vina.
"Maaf, aku hanya tidak ingin terlalu membebani kalian dengan masalahku."
"Kenapa?" Alex kembali bertanya.
"Karena aku tahu, kalian tidak akan selamanya ada bersamaku. Aku harus bisa menyelesaikan masalahku sendiri." Riska yang duduk di samping Vina hanya bisa memandangi sahabatnya dengan tatapan iba.
"Sabar, ya. Maafkan aku jika tidak ada disaat-saat kamu membutuhkan," kata Riska.
Baik Alex dan juga Riska tidak ada yang bertanya lebih detil lagi tentang masalah Vina. Keduanya tahu, jika diamnya Vina karena dia memang tidak mau lanjut membahas mantan suaminya itu.
"Ah, belum apa-apa sudah begini pertemuan kita. Aku mau pesan yang paling pedas," kata Vina kembali bersemangat. Alex tersenyum meskipun tatapan pria itu masih sendu.
Setelah memesan makanan, Alex kembali duduk, Pria tampan berkulit putih dan bermata sipit itu memilih mengobati rasa rindunya dengan menatap wajah Vina lama-lama. Saat pesanan datang, Vina tampak antusias melihat menu yang ada di depan matanya. Fadil yang duduk dengan jarak tiga bangku dari tempat duduk Vina terus menatap wanita itu. Baru kali ini ia melihat raut Vina yang seperti ini. Ternyata adik atasannya itu terlihat sangat manis.
"Wah, ini enak banget, kalian tega ya. Makan ginian sejak lama tapi baru ngasih tahu sekarang," gerutu Vina sambil mengunyah makanannya.
"Bisa banget sih nyari kesalahan kita. Coba saja kemarin kamu ikut milih kampus di kota ini, kamu juga pasti bakalan sering-sering kita bawa kemari," ujar Riska bersungut-sungut. Vina terkekeh melihat raut kesal sahabat baiknya itu.
"Iya, salahku. Andai aku saat itu ngikut kalian mungkin sekarang aku masih gadis," kata Vina sambil kembali menyuapkan sesendok nasi oseng kedalam mulutnya.
__ADS_1
Tangan Alex seketika menggantung, tak jadi memasukkan makanannya ke mulutnya. Riska menatap iba ke arah Vina. Riska dan Alex saling melempar tatapan. Vina langsung menoleh pada kedua sahabatnya.
"Udah, kalian jangan baper dengan kisah hidupku. Kalian yang belum terlanjur jatuh sepertiku harus lebih semangat menjalani hidup ini. Jangan buru-buru mengejar kesenangan semu. Pastikan dulu jika memang itu kebahagiaan yang akan bertahan lama. Bukan hanya manis di bibir saja. Prakteknya malah sering menggores luka."
Vina malam ini menghabiskan dua porsi nasi dengan lauk yang sama. Alex dan Riska sampai khawatir kalau Vina akan sakit perut setelah itu. Tapi lagi-lagi Vina meyakinkan Kedua sahabatnya jika dirinya pasti baik-baik saja.
"Mas Fadil, tolong nanti Vina diperhatikan, ya! biasanya kalau habis makan pedas banyak-banyak perutnya akan sakit."
'Jika tahu begitu, kenapa memberi rekomendasi tempat ini tadi?' batin Fadil.
"Itu karena dia yang maksa, Mas," ujar Riska, gadis itu seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Fadil sekarang.
"Engga usah kaget, Mas. Riska ini, ambil jurusan psikologi," kata Vina sambil tersenyum melihat kebingungan Fadil. Fadil mengangguk dan tersenyum canggung.
"Kalian bener engga mau ikut ke hotel dulu? kita lanjut ngobrolnya? tanya Vina dengan raut sedih yang dibuat-buat.
"Besok pulang sekolah, kita samperin kamu kemari deh. Nanti lepas itu kita jalan-jalan."
"Bener, ya. Kalian janji lho."
"Iya, bawel." Alex mengacak rambut Vina. Meskipun Alex sempat kecewa pada Vina, tapi tidak menutup sedikit pun perasaan yang telah lama di simpannya untuk sahabatnya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai, aku punya karya rekomendasi seru nih dari sahabat literasiku.
Judulnya : Senja Di Ujung Jalan
Penulis : Sami Noer
__ADS_1
Yuk buruan dikepoin, jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak, like komen, favoritkan juga. (Ojo boomlike) alias ngasih like tanpa dibaca karyanya, itu sama saja kalian menghina sebuah karya seni.