Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 14. Kedatangan Bu Siti dan Bagas di Kedai


__ADS_3

*****


Hari ini bu Siti dan Bagas berniat mendatangi kedai ayam jualan Vina. Berbekal info dari bu Nia, mereka berangkat berboncengan dan meninggalkan Pras di rumah sakit seorang diri.


"Kalau kita sampai di sana, ibu mau apa?"


"Ibu akan minta Vina untuk menunggui Pras sampai Pras sembuh," kata bu Siti. Bagas hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban ibunya.


"Bukankah permintaan ibu keterlaluan sekali."


"Bagaimana pun Pras begitu karena dia jatuh cinta sama perempuan itu. Berati dia juga ada andil menyebabkan Pras sampai depresi."


"Bu, kenapa ibu tidak bercermin? semua ini terjadi karena ibu terlalu sering ikut campur masalah kehidupan rumah tangga mereka. Vina tidak pernah mendapatkan haknya selama 1 tahun. Jika itu Asya, aku yakin dari dulu pasti dia sudah minta cerai."


"Sudah, kamu diam saja. Biar ibu yang urus masalah ini. Kamu cukup antar ibu saja." Bu Siti tampak menengok kiri kanan mencari keberadaan kedai yang dimaksud oleh bu Nia.


Dari seberang jalan ia melihat sebuah kedai makan dua lantai yang cukup luas. Kedai itu sangat ramai meskipun jam masih menunjukkan pukul 9 pagi.


"Gas, apa itu kedainya?" tanya Bu Siti dengan tatapan mata yang begitu takjub. Tak menyangka usaha mantan istri putra pertamanya ternyata begitu besar."


"Mungkin, Bu. Bagas juga ga tahu."


"Nama kedainya sih benar seperti yang bu Nia katakan, Kedai Ayamku."


"Ya sudah ibu tunggu dulu, biar aku yang ke sana menanyakan."


"Ibu ikut, Gas." Keduanya turun dari motor. Bu Siti tampak ragu untuk melangkah, tapi Bagas menggandeng tangannya dan membawanya berdiri di depan kedai itu.


"Ramai banget, Gas."


"Jelas ramailah, Bu. Kedai ini letaknya lumayan strategis. Dekat kampus dan juga perkantoran. Ternyata Vina itu lumayan pandai cari tempat yang strategis."


"Tapi tetap saja, dia itu mandul."


"Yang nikah lama baru dikasih anak juga ada, Bu. Enggak semua wanita bisa langsung hamil dan enggak semua wanita yang belum bisa hamil boleh dikata mandul," ujar Bagas.


"Sudah, kamu diam saja, jangan banyak ngomong."


Bu Siti merasa kesal mendengar ucapan Bagas. Dia berjalan tergesa mendahului putra keduanya itu. Setibanya di depan meja pelayanan, Bu Siti mendapat komentar dan omelan pedas dari pelanggan kedai yang sedang mengantri.

__ADS_1


"Sudah tua, enggak tahu aturan."


"Whoi ... antri, Bu."


"Hei, Bu, yang lapar bukan cuma ibu."


Masih banyak lagi komentar yang tak mengenakkan untuk di dengar namun Bu Siti tak acuh dan tetap berjalan.


"Mana Vina?"


Seorang pemuda yang sedang melayani pelanggan kedai langsung meminta seseorang untuk menggantikan dirinya.


"Ada perlu apa ya, Bu?"


"Mana Vina?"


"Saya tidak akan memberitahu dimana mbak Vina, kalau ibu tidak mau mengatakan apa tujuan ibu mencarinya," kata pemuda itu dengan wajah tetap menyunggingkan senyum ramah.


"Ini bukan urusan kamu, urusanku sama Vina."


"Oh... kalau begitu sayang sekali, mbak Vina tidak ada di sini."


"Di mana dia?"


"Mas, tunggu. Kami ada perlu dengan mbak Vina. Maafkan ibu saya."


"Untuk apa kamu minta maaf segala, Gas?"


"Sudah ... ibu diam saja." Bu Siti seketika terdiam mendengar suara Bagas yang meninggi.


"Bisa minta tolong untuk disampaikan pada mbak Vina? kalau Bagas dan bu Siti mencarinya."


"Nanti akan saya sampaikan," jawab pemuda itu yang tak lain adalah Fadil.


"Ada apa, Dil?"


"Ini bu, ada yang mencari mbak Vina."


"Maaf, anda sekalian siapa?" tanya Bu Risma sopan.

__ADS_1


"Perkenalkan saya Bagas dan ini ibu saya bu Siti. Kami ini keluarga dari mas Pras. Mantan suaminya mbak Vina."


"Oh, ada keperluan apa ya? maaf bukannya saya mau tahu, tapi mbak Vina sedang ke luar kota. Jadi saya di sini sebagai penanggung jawab kedai ini. Nanti saya akan sampaikan pesan anda pada mbak Vina."


"Sudah, Gas, ga usah basa-basi bilang saja, Vina suruh ke rumah sakit. Dia harus tanggung jawab, gara-gara dia Pras harus masuk ke rumah sakit," sahut bu Siti kesal dengan keramahtamahan bu Risma. Ia merasa terlalu bertele-tele berbicara dengan wanita itu.


"Baiklah, nanti akan saya sampaikan. Hanya itu pesannya?" tanya bu Risma masih dengan memasang wajah ramah.


"Ya... sebelumnya terima kasih banyak, bu Risma."


"Tidak perlu sungkan," jawab bu Risma. Bagas dan bu Siti segera pergi dari kedai itu. Wajah bu Siti masih tertekuk karena kesal, sedangkan Bagas hanya bisa menghembuskan napas panjang dengan tingkah ibunya.


"Lain kali jangan ajak Bagas kemari, Bu. Bagas malu dengan kelakuan ibu," ujar Bagas mendahului ibunya. Dia duduk di atas motor dan mulai menyalakan motornya.


"Lho, memang ibu bikin malu apa?" tanya bu Siti tak terima.


"Kelakuan ibu, ibu itu saat ini sedang butuh mbak Vina. Bukannya mbak Vina yang butuh kita, Bu. Bisa enggak ibu bersikap sedikit lunak dan agak sopan. Apalagi di sana banyak orang, Bu. Seharusnya ibu malu."


Bu Siti diam saja saat Bagas mengomelinya. Keduanya kembali berboncengan menuju rumah sakit. Sementara itu, bu Risma yang tadi memasang wajah ramah kini langsung merubah raut wajahnya begitu tamu tak diundang itu pergi. Dia diam dengan wajah dingin dan datar.


"Ibu mau kasih tahu non Vina tentang hal ini?" tanya Fadil penasaran.


"Memang siapa mereka? kemarin mereka membuang non Vina sekarang seenaknya mendatangi non Vina untuk mengurus anak mereka. Untungnya mas Fauzi dan mas Fahri sudah minta ibu buat mengurus kedai ini. Kalau tidak mereka bisa ketemu non Vina dan menginjak-injak harga diri non Vina lagi. Ibu tidak akan biarkan itu terjadi."


"Jadi ibu enggak akan cerita pada non Vina?"


"Ibu akan cerita sama mas Fauzi dan mas Fahri dulu. Biar mereka yang ambil keputusan untuk mau menyampaikan pada non Vina atau enggak, sementara itu, ibu harap kamu jangan bilang apa-apa sama non Vina."


"Iya, Bu." Fadil tersenyum dan memijat lembut bahu ibunya. Pria itu tampaknya tahu betul apa yang sedang dirasakan oleh ibunya. Fadil saat ini berusia 23 tahun, ia baru saja lulus dengan gelar S1 nya dan sekarang sedang akan melanjutkan studinya untuk mengejar gelar magister.


"Kasihan non Vina ya, Bu. Masih semuda itu harus menghadapi masalah yang seperti ini. Harusnya seusia dia itu dia bersenang-senang dengan teman seusianya," kata Fadil.


"Non Vina itu sejak dulu tidak pandai bergaul. Dia punya dua sahabat dulu, begitu mereka kuliah di luar kota, non Vina menyibukkan diri dengan berjualan di kedai ini. Sampai dia ketemu sama mantan suaminya itu." Fadil mendengar cerita ibunya, tatapannya menerawang mengingat wajah Vina yang manis dan tidak membosankan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hei, sambil nunggu aku up, mampir yuk di karya temanku yang satu ini. Dijamin karyanya bakalan bikin baper.


Judul : Wanita Bahu Laweyan

__ADS_1


Penulis : Haryani



__ADS_2