Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 7. Kak Fahri dan Kak Fauzi


__ADS_3

*****


"Siapa yang cerai?"


Aku seketika menoleh saat mendengar suara kakak pertamaku. Aku pun berlari dan menghambur ke pelukannya.


"Maafin, Vina, Kak."


"Ada masalah apa? kenapa sampai bercerai?" Wajah kakakku sampai memerah saat menanyaiku.


"Kita duduk dulu, Kak. Aku akan ceritakan semuanya." Kak Fahri, kakak tertuaku itu pun akhirnya berjalan mendahuluiku dan duduk di kursi ruang tamu.


"Cepat ceritakan, kakak tadinya kemari karena kakak berniat mau menyewakan rumah ini, tapi siapa sangka kamu malah memberi kakak kejutan seperti ini."


"Maaf, Kak. Vina sudah tidak sanggup mempertahankan rumah tangga Vina."


"Kenapa?" raut wajah kak Fahri tampaknya sangat kecewa. Dia diam setelah bertanya kenapa. Bu Risma masuk ke dalam. Mungkin beliau sedang membuatkan minum untuk kak Fahri.


"Mereka zalim padaku, Kak. Setiap hari ibu mertuaku selalu menyudutkan diriku. Dia selalu mengatai Aku mandul, bahkan mas Pras juga dilarang memberiku nafkah, hanya karena Aku bekerja." Setelah mengatakan hal itu, Aku langsung menunduk. Aku sama sekali tidak berani menatap netra kakak pertamaku itu.


"Kenapa?.... kenapa kamu tidak pernah mengatakan hal ini pada kakak?"


"Vina tidak mau membuat kak Fahri atau kak Fauzi kepikiran."


"Aku dan Fauzi adalah pengganti ayah dan bunda. Kalau kamu hanya menanggungnya sendiri, apa yang nanti akan kakak katakan pada kedua orang tua kita? Bagaimana kakak bisa menghadapi mereka, jika putri satu-satunya justru hidup sengsara."


"Kakak.... " Aku pun akhirnya menumpahkan air mataku mendengar ucapan kak Fahri. Kakakku pun akhirnya mendekat dan memelukku dengan erat.


"Maafkan kakak. Kakak tidak pernah memperhatikanmu."


"Tidak, ini bukan salah kakak, Vina yang sudah gagal, Kak. Maafkan Vina."


"Jadi selama ini kamu tidak pernah diberi nafkah?" tanya kak Fahri seolah sedang meyakinkan apa yang di dengarnya tidak salah.


"Ya, dulu pernah sekali mas Pras memberi uang 1juta. Setelah 2 bulan pernikahan kami, tapi esok harinya ibu mertuaku menuduhku mencuci otak mas Pras hingga membuat mas Pras mengurangi uang belanja ibu. Karena Aku selalu disalahkan dan di tuduh, Aku langsung memberikan uang itu pada ibu mertua. Bahkan saat Aku mengadukannya pada mas Pras dia tampak biasa saja tidak ada respon atau niatan mengganti uang itu, dia malah mengatakan padaku untuk bersabar."


"Kakak yang akan urus surat cerai-mu. Meskipun perceraian sangat dibenci Allah tapi mungkin memang jodohmu dan Pras hanya sampai di sini," ujar kak Fahri.

__ADS_1


"Iya, Kak."


"Kakak akan hubungi Fauzi dulu, kamu istirahat saja dulu."


"Tapi, kak... Aku belum memberi kang Dudung uang jasa sewa mobilnya."


"Biar kakak saja."


Aku pun akhirnya menuruti ucapan kakak pertamaku itu, karena Aku tahu dia sangat menyayangiku, dia pasti saat ini juga ikut merasa bersedih atas apa yang menimpa diriku.


Aku masuk ke kamarku yang ada di lantai 2. Saat membuka pintu semerbak pengharum ruangan begitu menyeruak menusuk indra penciumanku. Aku duduk di tepi ranjang dan perlahan mengusapnya. Kasur yang ku pakai saat di rumah mas Pras tidak ada apa-apanya di banding kasurku ini. Namun entah mengapa Aku merasa hampa. Aku pun merebahkan tubuhku dengan posisi kakiku menjuntai ke lantai. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar kamar. Di atas meja ada foto kedua orang tuaku yang sedang tersenyum bahagia. Aku pun ikut tersenyum walaupun air mataku kembali menetes deras.


...***...


Sayup-sayup Aku mendengar suara kak Fahri, dia sedang bicara dengan seseorang, dari suaranya terdengar penuh amarah. Aku pun membuka mataku. Aku tidak ingat kapan Aku tertidur. Ternyata benar kak Fahri sedang bercakap-cakap dengan kak Fauzi.


"Tidak perlu mendatanginya, dia sudah menyia-nyiakan, Vina. Itu artinya kita tidak perlu lagi berurusan dengan keluarga si Pras itu."


"Tapi, kak... "


"Sekarang yang terpenting bagaimana kita menghibur adik kita, bukan malah mengurusi keluarga gila itu. Baru satu tahun menikah saja mereka sudah semena-mena pada Vina. Aku tidak bisa bayangkan kalau Vina di sana lebih lama lagi."


"Kakak.... "


"Vina." Kak Fauzi mendekat dan memelukku. Aku hanya diam tak berkata apapun. Kak Fauzi seketika melepas pelukannya dan mengusap wajahku.


"Apa benar yang kak Fahri ceritakan? mereka menzalimi kamu? Kenapa kamu diam saja? kamu ini keturunan Adiatirta, kenapa lembek seperti kerupuk yang terendam air?"


"Maaf, Kak. Awalnya Aku berpikir jika Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri tanpa melibatkan kalian, tapi ternyata tidak bisa. Aku tidak tahan."


"Tidak apa-apa. Kakak dan kak Fahri akan selalu ada di dekatmu. Kami akan mendukungmu."


"Aku juga akan mendukungmu."


"Aku juga."


"Kendra juga, Tante."

__ADS_1


Kedua iparku masuk bersama Kendra, anak pertama kak Fahri yang berusia 9 tahun.


"Terima kasih kak Hani, kak Rita."


"Sama Kendra tidak terima kasih?" ujar bocah itu merajuk.


"Iya Kendra, Sayang, terima kasih ya."


Aku merasa terhibur dengan adanya kedua kakak beserta kedua iparku. Mungkin juga di bawah ada keponakan-keponakanku yang lainnya.


"Ayo kita ke bawah. Anak-anak sudah menunggu." Ajak kak Rita, istri kak Fahri.


"Ayo, Vin. Kita ke bawah. Sudah hampir setahun kamu tidak bertemu Davin 'kan? kata Kak Hani, istri Kak Fauzi.


Aku mengangguk, lalu Aku berjalan ke kamar mandi terlebih dulu untuk mencuci wajahku. Kedua kakakku dan para istrinya berjalan keluar duluan dari kamarku. Aku kaget saat mendapati Kendra ternyata masih menungguku.


"Lho, Ken, kenapa masih di sini?" tanyaku.


"Kendra mau menunggu, Tante. Tante Vina, kalau ada yang jahatin tante, jangan lupa kasih tahu Ken, ya, nanti biar mereka Ken yang banting."


Aku tertawa mendengar ucapan Kendra, meskipun masih kecil dia sangat perhatian padaku. Aku mengacak rambutnya yang ikal, dia tersenyum manis dan menggandeng tanganku. Kami pun akhirnya ke bawah menyusul yang lain.


Di bawah ternyata memang ramai karena kedua kakakku membawa semua pasukannya. Kak Fahri mempunyai 2 orang anak, sedang kak Fauzi memiliki 3 orang anak. Meskipun kak Fahri menikah lebih dulu, tapi sepertinya yang lebih sering berproduksi adalah kak Fauzi.


"Tante.... " semua keponakanku menyapaku dengan senyuman hangat mereka.


"Hai, kalian, apa kabar?"


"Kami semua baik-baik saja."


"Davin, sekarang sudah bisa menggambar dong, Tante."


"Kemala juga sudah bisa, bahkan Kemala kemarin juara mewarnai," kata putri kedua Kak Fahri yang berusia 6 tahun.


"Duh, keponakan tante memang hebat semua, ya."


Aku benar-benar merasa terhibur dengan hadirnya keluarga besar kedua kakakku. Tanpa terasa air mata ini kembali mengalir. Kak Fahri menggenggam tanganku sambil tersenyum, Aku mengusap kasar air mataku, dengan tidak bersuara aku mengucapkan terima kasih padanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2