
****
Hari ini adalah hari sidang putusan perceraian Vina. Sudah lebih dari sebulan Vina memutus komunikasi dengan keluarga Pras. Hidupnya kembali tenang. Vina menjalani rutinitas selama sebulan lebih dengan fokus pada kuliahnya dan sesekali keluar bertemu dengan Enzo.
"Mau berangkat sendiri, Vin?"
"Iya, Mbak. Nanti di sana ketemuan sama mas Fahri dan pengacara nya aja."
"Ya, sudah. Hati-hati kamu."
"Iya, Mbak. Pasti. Do'ain semoga lancar, ya." Vina pun akhirnya pergi dari kediamannya dengan menaiki taksi. Vina sudah menyiapkan hatinya untuk bertemu dengan mantan suaminya nanti. Ponsel Vina berdering, ada panggilan masuk dari kakaknya.
"Ada apa, Kak?"
"Ini masih di jalan. Macet."
"Ya, nanti aku kabari lagi kalau udah sampai." Setelah mematikan sambungan telepon tiba-tiba tubuh Vina terhempas ke depan. Kepalanya membentur jok mobil supir di depannya.
"Aaw... shhh." Vina mendesis sambil memegangi keningnya."
"Pak, anda tidak apa-apa?" tanya Vina, bukannya memperhatikan dirinya sendiri, ia malah khawatir kepada supir taksi di depannya.
"Sa-ya baik, Non," kata supir taksi itu. Kepala Vina melonggok ke depan. Ternyata di depan ada korban terserempet hingga mengakibatkan kemacetan.
"Sebentar, saya akan turun dulu, itu kenapa mereka pada malah lihatin, sih?" Vina langsung turun dan mendekati korban.
"Apa sudah ada yang menghubungi rumah sakit?" tanya Vina sambil mengedarkan tatapan matanya. Semua orang yang ada di lokasi itu menggelengkan kepala. Vina dibuat geleng-geleng melihat tingkah manusia sekarang ini. Banyak dari mereka yang minim empati dan melupakan kewajibannya sebagai sesama makhluk hidup. Mereka sibuk menfoto dan merekam, tidak berani mendekati korban dengan banyak alasan.
__ADS_1
Vina segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi rumah sakit meminta ambulans. Vina bahkan menghubungi polisi kenalan kakaknya. Tak butuh waktu lama, ambulans tiba bersamaan dengan polisi kenalan kakaknya.
"Vin, kenapa ini?"
"Diserempet mobil, Pak, tapi mobilnya lari," sahut seorang pria yang masih berdiri di sana.
"Jadi tabrak lari?"
"Iya, Mas. Mas aku ada perlu ke pengadilan agama sekarang. Aku serahin semua sama kamu ya, Mas."
"Iya udah, tinggal aja. Nanti aku juga yang akan urusan sama rumah sakit. Makasih, ya, kamu udah hubungi mas."
"Hihihi... padahal aku cuma mau nambahin kerjaan mas aja." Vina akhirnya berlalu, ia kembali masuk ke taksinya dan melanjutkan perjalanan. Semoga saja kakaknya tidak marah, ternyata Vina sudah menghabiskan waktu hampir 1 jam di tempat kecelakaan tadi.
Vina datang benar-benar terlambat dari waktu yang telah dijanjikannya pada Fahri, Fahri menunggu dengan gelisah kedatangan adiknya.
0
"Iya sebentar, ini Vina kemana, sih?" ujar Fahri gusar.
Fahri, Fadil dan juga pengacara Fahri masuk ke dalam ruang sidang, tak lama Pras juga terlihat masuk bersama pengacara yang disewanya.
Fahri tampak tak acuh dengan kehadiran Pras. Dia sibuk menghubungi adiknya. Dari pintu yang terbuka tampak Vina lari dengan napas ngos-ngosan. Pras menatap Vina dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Fahri segera berdiri menghampiri adiknya.
"Kenapa lama sekali?"
"Maaf, Kak. Tadi ada kecelakaan sewaktu aku dalam perjalanan ke sini," kata Vina. Fahri langsung melotot, ia pikir taksi adiknya yang mengalami kecelakaan, Fahri memutar tubuh Vina dan melihatnya dengan seksama.
__ADS_1
"Bukan aku, Kak, tapi orang lain. Aku turun untuk membantu korbannya. Aku tadi juga menghubungi kak Elang." Fahri merasa lega adiknya baik-baik saja. Namun, saat Fahri merapikan rambut Vina, wanita muda itu mengerang.
"Aaww... sakit, Kak." Pras seketika berdiri saat mendengar erangan Vina. Namun, melihat sorot tajam tatapan Fahri ia kembali duduk.
"Ini kenapa?" tanya Fahri cemas sambil mengusap benjolan di kening adiknya yang berwarna biru, bahkan sedikit mengeluarkan darah.
"Aaaw, jangan disentuh, Kak. Sakit banget itu, tadi supir taksinya mengerem mendadak, aku tidak pake sabuk pengaman," kata Vina menunduk. Fahri tidak jadi mengomeli Vina karena Jaksa dan hakim baru saja masuk ke ruangan sidang. Fahri menarik adiknya untuk duduk.
Vina sesaat melirik mantan suaminya. Wajah pria itu berubah tirus dan tidak terurus. Bulu-bulu yang tumbuh di dagunya semakin terlihat lebat. Wajah mantan suaminya itu terlihat makin tua.
Vina lantas duduk di samping kakaknya. Setelah hakim membacakan putusan cerai Vina dan Pras, Pras menunduk dalam. Setetes air mata lolos melewati sudut matanya. Kini yang tersisa dalam hidupnya hanyalah rasa sesal.
Saat di luar ruangan, Vina meminta ijin pada kakaknya untuk berbicara dengan mantan suaminya untuk yang terakhir kalinya. Fahri mengijinkannya dan meninggalkan Vina di sana.
"Vina, maafkan, Mas," ujar Pras, tatapan matanya begitu teduh dan sendu.
"Aku juga minta maaf, ya, Mas. Mungkin selama aku menjadi istri mas Pras, aku banyak melakukan salah."
"Tidak, kamu tidak salah. Semua salahku dan maaf untuk apa yang telah ibu lakukan selama ini."
"Tidak masalah, Mas. Aku sudah memaafkan ibu sejak dulu."
"Oh, ya, Vin. Aku tidak tahu apakah jumlah ini cukup atau tidak. Aku ingin membayar hutang ibuku ke kamu."
"Tidak usah, Mas. Aku sudah ikhlaskan uang itu."
"Tolong jangan menolaknya," kata Pras mengiba. Vina pun akhirnya menerimanya.
__ADS_1