
****
Vina, Galang, Kemala dan juga Enzo kini sudah tiba di bandara. Hal yang lebih tak terduga lagi dilakukan oleh Vina. Ia mengajak ibunda Galang yaitu Nyonya Laras untuk ikut serta. Enzo sangat senang mendengarnya. Meskipun ajakan itu terbilang sangat mendadak. Beruntung Galang punya previllage kenalan yang bisa menguruskan Visa ke Korea untuk mamanya dalam waktu singkat.
"Tante, nanti Kemala duduk sama oma Laras dan Enzo aja, ya."
"Loh kenapa?"
"Hihihi ... kata mama biar om duduknya deket tante aja."
Vina dibuat geleng kepala dengan jawaban Kemala. gadis berusia 6 tahun itu sepertinya dewasa sebelum waktunya karena sering diajari oleh mamanya sendiri.
"Om Galang nanti duduknya sama tante Vina, ya. Kemala mau sama oma Laras."
"Oh, ya sudah kalau begitu."
Galang dan Vina saling melempar tatapan, tapi kemudian Galang tersenyum tipis melihat wajah Vina yang merona.
Kelima orang itu duduk di bisnis class. Waktu baru menunjukkan pukul 8 pagi saat pesawat mereka lepas landas. Enzo tampak sangat bersemangat karena ini liburan pertamanya ke luar negeri. Jika saat itu dia tidak mengenal Vina mungkin dia tidak akan pernah merasakan liburan semenyenangkan ini.
"Oma, oma kok dari tadi diam terus?" tanya Enzo penasaran.
"Oma gugup, ini liburan pertama papa kamu dengan calon mama Enzo, tapi baiknya calon mama kamu itu, mau mengajak oma yang tua ini liburan."
__ADS_1
"Ish, Oma. Kirain apa."
Laras tersenyum. Dia sebenarnya memang agak gugup karena sebentar lagi akan bertemu dengan keluarga besar Vina. Namun, sebisanya Laras tidak terlalu memperlihatkan gelagat gugupnya pada siapapun.
Vina duduk di dekat jendela, sedang Galang ada di sebelahnya. Keduanya sama-sama diam. Namun, tangan keduanya saling bertautan.
"Vin." Galang menoleh ke arah Vina.
"Ya, Mas ada apa?"
"Bagaimana kalau nanti kita ambil foto pre wedding di sana?"
"Ehm, terserah, Mas Galang aja."
"Ya, baiknya menurut mas Galang aja. Aku sebenarnya malu, Mas. Aku ini cuma janda."
"Sshh .... Galang menempelkan telunjuknya di bibir Vina. Ia lantas meraih dagu Vina dan mengecup bibir Vina dengan lembut.
"Jangan katakan apapun. Ini adalah pernikahan pertamaku. Aku mau kamu juga menganggapnya begitu. Anggap saja kegagalanmu yang kemarin hanya sebuah mimpi buruk."
Vina mengangguk patuh dengan wajah yang semerah tomat. Galang menciumnya di dalam pesawat. Ini gila, seharusnya galang bisa menahan dirinya.
Karena mereka akan cukup lama menempuh perjalanan, Vina memilih tidur dari pada ia membuka mata dan Galang malah berbuat yang tidak-tidak.
__ADS_1
Enzo dan Kemala masih asik bercengkrama sedang Laras juga melakukan hal yang sama seperti Vina. Lebih baik ia tidur, jadi saat tiba di korea tubuhnya akan segar.
Galang menyelimuti tubuh Vina. Senyumnya mengembang membayangkan apa yang tadi dia lakukan pada Vina.
Tiba di bandara Incheon, Fahri yang menjemput sendiri adik berserta keluarga calon suaminya dan juga Kemala.
"Bagaimana perjalanan kalian?" tanya Fahri.
"Sangat melelahkan, Kak."
Vina menggandeng mama Galang, sementara Galang menggandeng Kemala dan Enzo. Vina dan juga mama Laras masuk ke mobil begitu juga anak-anak. Sedangkan Galang membantu Fahri memasukkan koper ke bagasi.
"Maaf aku membawa ibuku," kata Galang.
"Untuk apa minta maaf. Santai saja. Ini liburan, jadi kamu berhak membawa siapapun." Fahri tersenyum sambil menepuk bahu Galang sesaat.
Mereka semua menuju ke hotel yang sudah direservasi oleh Fahri kemarin.
Rita dan Hani tersenyum menyambut kedatangan anggota keluarga terakhir mereka. Mereka langsung berkumpul untuk menentukan kemana saja mereka akan berliburan.
Vina sudah membawa list tempat tempat yang akan mereka kunjungi, tapi nanti malam dia ingin membawa keluarganya ke Namsan tower. setelah itu esok harinya mengunjungi Seoul Zoo dan juga National folk museum of Korea. Di mana di sana ada benda-benda peninggalan sejarah berupa artefak dan manuskrip. Vina sudah dua kali mengunjungi tempat itu dulu waktu dirinya SMP bersama kedua orang tuanya dan kali ini dia ingin kesana bersama dengan calon suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1