Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Akhirnya


__ADS_3

Hari ini genap 2 hari Vina dinyatakan koma oleh Dokter. Dia sudah dipindahkan ke ruang ICU. Sudah 14 labu kantong darah dipakai untuk menangani pendarahan yang Vina alami. Kini keluarga hanya bisa pasrah menunggu Vina sadar.


Galang terlihat sangat kusut. Wajah tampannya kini memiliki kantung mata yang menghitam. Dia harus bolak-balik dari NICU dan ruang ICU untuk memastikan kondisi istri dan anak-anaknya.


"Lang, pulang dulu. Enzo juga dari kemarin nanyain kamu," ujar Rita, istri Fahri.


"Aku harus jawab apa, Mbak? Aku engga mau menghancurkan kebahagiaannya. Aku belum siap ketemu dia."


"Kalau begitu makanlah dulu, Vina pasti sedih lihat kamu begini."


Galang hanya mengangguk. Namun, dia tak membuka kotak makan yang dibawakan Rita. Rita menghela napas panjang.


Sementara itu, di ruang ICU Fahri sedang duduk sembari menggenggam tangan adiknya. Bibirnya menyunggingkan senyum, tapi matanya telah basah dan memerah.


"Kamu benar-benar luar biasa, Vin. Ayah dan Bunda pasti bangga sama kamu. Vin, apa kamu engga mau lihat bayi-bayimu? Kasihan mereka nungguin ibunya kasih ASI." Fahri sesaat menjeda ucapannya. Lidahnya semakin berat untuk berucap. Fahri tergugu di samping tubuh adiknya. Air mata Vina menetes, jemarinya bergerak lemah.


Fahri mengangkat wajahnya saat merasakan pergerakan tangan Vina. Dia langsung menekan tombol darurat yang ada di dekat ranjang adiknya.

__ADS_1


Beberapa perawat dan dokter berlari melewati Galang, mereka menuju ruangan Vina. Melihat begitu banyak tenaga medis berlari melewatinya, wajah Galang seketika pucat pasi. Dia berdiri dan tampak linglung. Galang segera menuju ke ruang perawatan istrinya.


Di dalam ruangan Vina, Fahri menatap adiknya yang sedang dikerumuni para tenaga medis dengan tatapan bahagia.


"Bagaimana, Dokter."


"Pasien sudah melewati masa kritisnya. Nanti kami akan pindahkan pasien ke ruang perawatan."


"Terima kasih, Dok, tapi kapan adik saya akan sadar?"


"Bisa nanti, bisa sebentar lagi, bisa juga besok. Kita akan tetap pantau perkembangannya, ya, Pak."


"Tadi kakak lihat jarinya bergerak. Dia juga meneteskan air mata."


"Saran saya, terus ajak dia berkomunikasi. Mungkin dengan begitu akan merangsang semangatnya untuk segera sadar."


Dokter pergi dari ruangan itu di susul oleh para perawat. Mereka harus menyiapkan kamar untuk Vina. Fahri pergi untuk menemui istrinya dan memberi kesempatan pada Galang untuk menemani istrinya.

__ADS_1


Galang duduk di sisi ranjang Vina. Ia tersenyum sambil meneteskan air matanya. "Bangun, Vin. Katanya kamu yang mau kasih nama anak-anak kita. Enzo sejak kemarin nanyain kamu terus. Aku harus jawab apa sama dia? Dia udah engga sabar mau ketemu kamu dan adik-adiknya."


Setangguh-tangguhnya pria, ada kalanya dia lemah jika dihadapkan dengan situasi seperti ini. Galang menutup wajahnya dengan kedua tangan dan terisak, ada sesal yang mengganjal di hatinya karena terakhir kali dia sempat merasa kesal dengan istrinya.


"M_as." Sayup terdengar suara Vina. Galang membuka tangannya dan mengerjap. Ia bahkan menggosok matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa apa yang dia lihat tidaklah salah.


"Sayang, kamu sudah sadar? syukurlah." Galang langsung memeluk Vina hingga tubuhnya setengah tertarik karena Galang memeluknya dengan sekuat tenaga.


"M_as, aku ga bisa napas." Galang seketika mengurai pelukannya dan mengusap wajah Vina.


"Maaf. Mas terlalu senang." Galang kembali menekan tombol darurat. Dia tersenyum lebar dan lalu menciumi wajah Vina dengan penuh perasaan.


Tak lama berselang, Dokter kembali datang dan memeriksa Vina. Setelah memastikan Vina baik-baik saja. Dokter memerintahkan perawat untuk segera memindahkan Vina.


"Akhirnya, kamu sadar juga, Sayang. Aku udah takut kamu bakalan ninggalin aku."


"Aku engga akan kemana-mana, Mas."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2