Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 47. Galang Aneh


__ADS_3

****


Vina, Galang dan juga Enzo akhirnya bisa menikmati makan siang bersama layaknya keluarga bahagia. Senyum Enzo sejak tadi tak surut dari bibirnya meskipun sesekali mulutnya penuh dengan spaghetti.


"Mama, ini spaghetti terenak yang pernah aku makan," puji Enzo tulus, bocah itu menoleh ke arah papanya. "Ya, kan, Pah?" tanya Enzo pada Galang.


"Iya, ini enak."


"Huh, papa jangan memuji masakan mama setengah hati begitu, nanti mama sedih," sambung Enzo. Bocah itu sudah memasang wajah protesnya,


"Iya, sayang. Masakan mama Vina memang yang terbaik," ujar Galang. Ucapan Galang barusan membuat wajah Vina bersemu merah.


Galang tersenyum tipis melihat wajah Vina yang bersemu karena pujiannya. Galang bukanlah tipe pria yang mudah melontarkan pujian pada orang lain. Namun, demi Vina rasa-rasanya Galang bisa jika harus seharian mengeluarkan pujian untuk menyenangkan hati calon istrinya.


Kini calon keluarga kecil itu sudah berpindah tempat, kembali ke ruang keluarga. Enzo memainkan mobil-mobilan yang tadi dibawanya, sedangkan Vina dan Galang duduk dengan tenang sambil memperhatikan Enzo bermain.


Vina melirik ke arah Galang, Dia ingin berganti baju, Namun, Vina malu untuk mengatakannya.


"Kenapa, Dek?"


"Mas, aku ijin naik dulu ke kamar, ya? Aku mau ganti baju dulu. Sudah bau keringat."


"Masa, sih?" Galang setengah mencondongkan tubuhnya ke arah Vina.


"Ihh, Mas. Apa, sih?" Vina memundurkan tubuhnya, wajahnya kembali memerah hingga membuat Galang justru tersenyum usil.


"Masih wangi, kok," kata Galang.


"Mas, ada Enzo jangan begitu," protes Vina.


"Kenapa? dia engga akan lihat, dia terlalu sibuk dengan mainannya."


"Tetep aja, Mas. Jangan begini. Malu kalau ada yang lihat."


baru saja Vina menutup mulutnya, suara Rita dan Hani mengagetkan Galang dan Vina. "Engga apa-apa, Vin. Anggap aja yang lainnya ngontrak."


Vina sontak menutup wajahnya dengan kedua tangannya sedangkan Rita dan Hani terkikik geli.


Kendra, Kemala dan Davin menghampiri Enzo. mereka semua baru pulang dari sekolah. Ketiganya duduk mengelilingi Enzo dan langsung bercengkrama.


"Ken, Mala, ganti baju kalian dulu sana," kata Rita.


"Yes, mom." Kedua kakak beradik itu bangkit mereka berjalan dengan lemas ke kamar mereka.


"Davin ...." Hanya dengan disebut namanya saja Davin seketika ikut berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.

__ADS_1


Vina lantas ikut bangkit berdiri dan bergegas meninggalkan Galang dan juga kedua iparnya yang terus menatapnya dengan tatapan menggoda. Galang tersenyum, Rita dan Hani saling melempar tatapan penuh isyarat.


"Enzo sudah makan siang?" tanya Rita sambil duduk di dekat bocah berusia 5 tahun itu.


"Sudah, tadi mama masakin aku sama papa spaghetti."


"Tante Vina buat spaghetti, Mah?" tanya Ken bersemangat.


"Dari cerita Enzo, sih, sepertinya begitu."


"Asik," ujar Ken sambil tersenyum. Rita hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Ken yang kadang lebih kekanak-kanakan dibanding dengan adiknya. Terlebih lagi sejak dulu, Ken sangat lengket sekali dengan Vina.


Saat melihat Vina turun dengan baju rumahannya, Galang lagi-lagi dibuat terpesona oleh janda belia itu. Penampilan Vina lebih seperti seorang gadis SMA yang baru melewati puber pertamanya.


"Tante, beneran tante hari ini masak spaghetti?"


"Iya, Ken. Kalau Ken mau, Ken bilang sama mbaknya di belakang suruh manasin di microwave."


Ken segera pergi ke dapur. Dia tidak akan melewatkan spaghetti buatan Vina karena itu adalah makanan favoritnya, masakan tantenya tidak pernah mengecewakan.


"Vin, kata mas Fahri minggu depan 'kan anak-anak libur. Kita semua diajak liburan ke Jepang atau Korea. Katanya mumpung di sana sedang musim dingin."


"Ya, engga masalah, sih. Cuma bilang aja ke kak Fahri, Visa ku kayaknya perlu diperbarui deh."


"Berikan saja Visamu, biar aku bantu urus."


"Mama, mau liburan, ya?" tanya Enzo, bocah itu seketika menghentikan kegiatannya dan mendekat ke arah Vina.


"Sepertinya, iya."


"Enzo boleh ikut?" tanya bocah itu dengan memasang wajah polosnya.


"Boleh dong, makin ramai makin seru."


"Papa juga boleh, tante?" tanya bocah itu.


"Tentu saja," jawab Rita sambil menahan tawa melihat wajah adik iparnya yang kesal.


"Ya 'kan, Vin?" tanya Rita, Vina mengangguk meskipun sebenarnya dia sangat malu karena kedua iparnya terang-terangan menggodanya.


"Beneran boleh ikut, Dek?"


"Mas Galang salah tanya sama aku, aku kan juga cuma diajak."


"Tapi kalau kamu boleh, aku nanti tinggal tanya sama Fahri. Jadi kalau pun aku engga boleh ikut, nanti aku nyusul kamu."

__ADS_1


"Terserah mas Galang aja."


"Eh, iya, Kak. Ini aku nitip dong buat anak-anak panti yang kemarin." Vina membuka tasnya dan lalu menyerahkan amplop uang yang tadi Pras berikan padanya.


"Wah, syukuran ini ceritanya?" tanya Rita sambil menerima amplop uang itu.


"Bukan, itu tadi .... " Vina melirik Galang lewat ekor matanya. Dia khawatir Galang akan tersinggung karena ia menerima uang dari mantannya itu.


"Dari dia, ya?" tanya Rita.


"I-iya. Itu katanya uang bayar hutang ibunya."


"Hahahha ... aneh banget sumpah. Kemarin-kemarin engga mau ngasih nafkah sekarang sok-sokan kasih duit," ujar Hani dengan raut wajah kesal. Galang hanya diam menyimak sejak tadi sebenarnya dia ingin menyentuh Vina, tapi dia tidak mau membuat Vina merasa tak nyaman berada di dekatnya.


"Itu bayar hutang, lho. Bukannya uang apa."


"Iya, iya," jawab kedua ipar Vina.


Galang berpamitan pulang dan meninggalkan Enzo untuk menginap di rumah Vina. Dia tidak bisa berlama-lama berada di dekat janda belia itu apalagi kini statusnya sudah resmi bukan milik siapa-siapa.


"Papa Enzo agak aneh hari ini," kata Hani, Rita pun mengangguk.


"Iya, bener. Tadi aku pikir cuma aku aja yang ngira begitu. Dia kaya engga tenang gitu."


Vina hanya diam, dia pun juga sebenarnya merasakan hal yang sama, tapi dia tidak tahu kenapa.


"Wah, jangan-jangan ada sesuatu yang dia sembunyikan."


"Jangan suudzon, Kak. Mungkin saja dia ada pekerjaan yang penting makanya engga tenang."


"Iya, mungkin. Ya sudah, kamu ajak Enzo tidur siang sana. Ken juga tumben makannya lama." Rita bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur. Kemala dan Davin sejak tadi menemani Enzo bermain setelah mereka berganti baju.


"Enzo mau tidur siang?"


"Enzo belum mengantuk, Mah."


"Ya, sudah kalau begitu. Nanti kalau sudah ngantuk bilang, ya." Enzo mengangguk dan kembali sibuk dengan mainannya.


Vina duduk bersandar di sofa, ia menjadi teringat ucapan kakak iparnya, tapi Vina buru-buru menggelengkan kepalanya. Jangan sampai dia ikut-ikutan berpikiran buruk pada Galang.


"Ma, mama. Mama kok melamun." Enzo mendekat dan duduk di samping calon mamanya.


"Engga, kok. Besok Enzo masuk sekolah 'kan?"


"Iya, Ma. Mama yang antar, ya?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2