
*****
"Dasar ganjen .... "
Vina seketika menoleh, namun sedetik kemudian dia tampak tak terlalu peduli. Sedangkan Fadil masih diam membeku mencerna ucapan wanita itu. Siapa yang wanita itu maksud?
"Wah, belum juga pengadilan ketuk palu, tapi bisa-bisanya malah ke hotel dengan laki-laki lain," ujar wanita itu dengan tampang ketus. Fadil kini menyadari ucapan itu ditujukan pada nonanya.
Vina masih tampak tak acuh dan terus menyantap makanan yang ada di hadapannya. Ia juga meminta seorang pelayan restoran untuk membuatkannya teh rosela untuknya.
"Ayo, Mas, buruan duduk. Jangan malah mempedulikan gonggongan anjing," ujar Vina tegas. Fadil seketika seperti tersihir dan langsung duduk di depan Vina.
Seorang pelayan mengantarkan secangkir teh yang masih mengepulkan asap ke meja Vina. Wanita yang tadi masih berdiri di belakang Vina.
"Dasar wanita murahan tak tahu malu."
"Ini minuman anda, Nona."
"Terima kasih dan tolong panggilkan keamanan kemari. Di sini saya adalah tamu kalian. Sejak tadi saya menunggu ada yang bertindak atas perbuatan wanita ini, tapi kalian sepertinya pura-pura buta. Wanita di belakang saya ini sudah sangat mengganggu kenyamanan saya di sini. Atau kamu mau saya menghubungi pemilik hotel ini untuk memecat kalian?"
"I-iya baik, Nona."
"Lagaknya mau menghubungi pemilik hotel, memangnya siapa kamu?"
__ADS_1
Wanita itu terus mengoceh, sementara Vina diam saja sambil memainkan ponselnya. Vina mengangkat cangkirnya dan hendak menyesap tehnya. Namun wanita yang sejak tadi diabaikan oleh Vina tak terima dan hendak menyenggol cangkir itu, tapi gerakan tangan Fadil lebih cepat dan menangkap tangan wanita itu.
"Le-lepaskan... "
Dua orang petugas keamanan tiba di depan Vina. Suasana masih tampak tegang, bahkan beberapa tamu kini tampaknya sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ada apa, Nona?" kedua petugas keamanan itu menunduk takut melihat tatapan Fadil yang berubah tegas. Semua yang ada di hotel itu tahu siapa Fadil. Dia adalah kaki tangan kepercayaan pemilik hotel ini.
"Usir wanita di belakang saya ini. Dia sudah menganggu kenyamanan saya di sini. Atau apa perlu saya beri rating bintang 1 untuk hotel kalian?"
"Jangan, Nona. Kami akan segera bereskan masalah ini."
"Hei, kalian harusnya menghargaiku. Aku manager hotel baru kalian," Pekik wanita itu. Vina berdiri dari duduknya dan berbalik sambil tersenyum sinis.
Petugas keamanan kemudian membawa Asya yang terus berteriak tak tahu malu. Sebenarnya Asya hari ini memang ada rapat dengan beberapa manager pelaksana di hotel ini. Ini kali pertama kunjungannya ke cabang Jogja, tapi siapa sangka dia malah bertemu dengan mantan kakak iparnya. Apalagi mantan kakak iparnya itu bersama seorang pria. Melihat hal itu Asya kesal setengah mati pada Vina, wanita itu dengan mudah mendapat pria tampan.
"Anda baik-baik saja, Non?"
"Ya, aku baik-baik saja, Mas." Vina kembali duduk dan menyesap teh miliknya. Sejenak mata Vina terpejam, dia sedang mengontrol emosinya agar tidak terbawa sampai nanti siang.
"Ya udah, kita berangkat sekarang aja ya, Mas. Aku kepingin jalan-jalan buat merefresh otak," Kata Vina. Fadil mengangguk dan tersenyum tipis pada wanita itu.
Pak Asep sudah bersiap sejak tadi, senyumnya begitu ramah menyambut Vina dan Fadil. Setelah membukakan pintu untuk Vina. Pak Asep segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Jadi ke pasar Beringharjo, Nona?"
"Jadi, Pak. Pak Asep sudah sarapan?"
"Sudah, sudah, Non."
"Mas Fadil tolong awasi sosial media apapun itu, aku khawatir kejadian tadi jadi konsumsi publik luas dan malah membuat reputasi hotel kakak jatuh."
"Saya sudah menghubungi pihak hotel untuk segera mengurusnya. Jika ada kebocoran informasi, saya akan segera mengatasinya," jawab Fadil.
"Saya... " gumam Vina.
Perjalanan yang mereka tempuh tak sampai setengah jam. Tanpa menunggu dibukakan pintu, Vina melesat keluar. Meskipun ia sedang memasang wajah datar, sepertinya kekesalan masih tampak jelas dari sorot matanya.
"Saya mau keliling dulu sendirian. Mas Fadil terserah mau apa dan kemana. Nanti kalau ada apa-apa, aku telepon." Vina langsung meninggalkan Fadil tanpa menunggu jawaban pria itu. Fadil sadar, Vina sedang kesal saat ini, tapi membiarkan wanita itu pergi sendirian bukanlah hal yang baik. Fadil memutuskan untuk mengikuti Vina dari jarak yang cukup jauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai guys, sambil nunggu aku up, ada baiknya kalian mampir di novel yang satu ini. Ini karya rekomended banget, karya dari kak Age Nairie Judulnya Kamuflase Cinta Sang CEO
Mampir, yuk!!
__ADS_1