Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 52. Bu Siti Dan Asya


__ADS_3

****


Hari keberangkatan liburan keluarga besar Vina telah ditentukan. Fahri dan keluarganya berangkat lebih awal, minus Kemala, tapi bertambah dengan Davin, Kemala akan berangkat lusa berbarengan dengan Vina dan juga Galang beserta Enzo. Sedangkan keluarga Fauzi menyusul keluarga Fahri sore harinya.


Sejak dulu, keluarga Adiatirta selalu begitu, mereka tidak pernah pergi bersama-sama dalam satu pesawat, atau satu mobil. Mereka akan pergi secara terpisah.


Hal itu dilakukan demi menjaga keberlangsungan keturunan mereka jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti contohnya kecelakaan atau lain sebagainya. Seperti kasus meninggalkan Saleh Adiatirta dan istrinya.


Flashback on


Saat itu sebelum keberangkatan mereka, Vina sempat merengek untuk ikut, tapi berulang kali bundanya menolaknya dan benar saja. Tak lama setelah bunda dan ayah Vina pergi. Tiba-tiba saja mereka mendapat kabar jika kedua orangtua mereka mengalami kecelakaan.


Ketika itu, tidak ada yang mengatakan bagaimana kondisi ayah dan bunda Vina. Hingga saat ketiga bersaudara itu tiba di lokasi, mereka sangat syok terlebih Vina. Dia sampai pingsan berkali-kali.


Flashback end


"Mama, kita makan dulu setelah ini?" tanya Enzo. Saat ini mereka sedang ada di perjalanan menuju kantor Galang.


"Nanti kita bilang, papa dulu, ya," ujar Vina. enzo mengangguk patuh, sedangkan Kemala duduk dengan tenang dan mendekap bonekanya.


Vina masuk dari depan gedung kantor Galang. Saat tiba di loby Vina disambut oleh Fredrick dan Monika. Vina tersenyum ramah pada kedua karyawan kepercayaan Galang itu. Vina berjalan dengan santai sambil mengandeng Enzo dan Kemala.


Banyak karyawan yang bertanya-tanya tentang siapa gadis yang sedang mengandeng anak atasannya itu. Di mata para karyawan Galang, Vina tak ubahnya seperti seorang kakak yang sedang menjaga dua orang adiknya, penampilannya hari ini sungguh sangat sederhana sekali. Namun, meninggalkan kesan yang sangat imut.


"Eh, siapa itu? aku tidak pernah melihatnya. Apa itu saudara pak Galang?" tanya salah seorang resepsionis pada rekannya.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, mungkin keponakan pak Galang. Cantik banget, ya," jawab rekannya.


Vina masuk ke ruangan Galang, setelah pintunya dibukakan oleh Fredrick. Senyum Galang seketika mengembang melihat calon istrinya datang dengan menggandeng putranya daan juga keponakan Vina. Sifat Vina yang sangat ramah dan mudah dekat dengan anak-anak benar-benar mampu menghipnotis Galang.


"Papa, Enzo lapar. Ayo kita makan."


"Kenapa tadi tidak makan duluan saja?" tanya Galang sambil menatap Vina.


"Mama mau kita makan sama-sama, Pah," jawab Enzo.


Galang melirik Vina yang tampak salah tingkah setelah mendengar ucapan putranya. Galang tersenyum senang. Ingin rasanya dia memutar waktu agar masa iddah Vina cepat selesai dan dia bisa segera menikahi wanita itu.


"Ya sudah, kalau begitu kita makan siang dulu." Galang segera bangkit dari duduknya dan dia merengkuh pinggang Vina. Wajah Vina seketika merah padam, apalagi di sana ada Enzo dan Kemala.


"Mas, ada anak-anak," ujar Vina cemberut. Galang tertawa dan lalu mengusap puncak kepala Vina.


Galang akhirnya membawa Vina, Enzo dan Kemala kembali turun. Galang membawa Vina dan anak-anak ke kantin perusahaannya. Galang memesankan langsung makanan untuk Vina dan anak-anak. Beberapa karyawan yang saat itu sedang menikmati makan siang mereka, menatap Galang penuh kekaguman.


Tak hanya tampan, ternyata atasannya juga sangat perhatian. Para karyawan wanita di perusahaan itu semakin mengidolakan Galang.


Saat makanan tiba, Galang membukakan sendok yang masih terbungkus plastik untuk Vina, Enzo dan juga Kemala. Keempat orang itu akhirnya menikmati makan siang mereka. Vina kadang sekali-kali membantu Enzo dan Kemala mengupas udang. Galang hanya mengamati calon istrinya dengan penuh kekaguman.


****


Asya terlihat sangat frustasi berada di rumah kontrakan itu. Dia yang biasanya berdandan glamor kini hanya berdandan ala kadarnya saja. Sudah beberapa hari dia mencari pekerjaan, tapi semua menolak karena dia adalah mantan narapidana.

__ADS_1


"Kenapa kamu engga nyuci, Sya?"


"Males, ah, Bu. Kukuku rusak semua," jawab Asya enteng.


"Heh, kamu itu cuma numpang di rumah ini. Kamu engga kerja, yang kerja putraku, jadi sebaiknya kamu sadar diri. Cuci baju-baju itu."


Asya hanya menghentakkan kakinya kesal. Dia bersumpah akan membalas perbuatan ibu mertuanya suatu hari nanti. Dengan berat hati, Asya mengambil baju kotor yang ada di sudut ruangan dan membawanya ke belakang untuk di cuci.


Bu Siti geleng kepala melihat tingkah Asya yang masih sangat sombong. Ia menyesal selalu menuruti semua kemauan Asya. Sekarang baginya Asya seperti benalu yang hanya numpang makan pada anaknya.


Bu Siti duduk di kursi ruang tamu, rumah kontrakan mereka kini hanya berukuran 5x6 meter saja. Asya selalu mengeluh panas dan sumpek berada di rumah itu. saat ini bu Siti menunggu bagas pulang dari kerja.


Saat mendengar deru motor Bagas, Bu Siti bergegas keluar. Dia ingin mengadu semua kelakuan Asya pada putranya.


"Udah pulang kamu, Gas?"


"Ibu sendiri lihatnya gimana?" jawab Bagas sambil berlalu melewati ibunya begitu saja.


"Gas, tunggu! Ibu mau ngomong."


"Apa, sih, Bu? memang ngomongnya engga bisa sambil duduk?" sewot Bagas. Dia sudah lelah seharian, tapi ibunya seolah tak melihat hal itu.


"Gas, Asya itu keterlaluan, dia engga mau nuruti perintah ibu."


"Ngadu aja terus, Bu. Jangan kasih kendor jadi kompor. Engga cukup ngerusak rumah tangga mas Pras, sekarang ibu juga mau rusak rumah tanggaku dan mas Bagas, iya?" Asya tiba-tiba nyelonong keluar. Dia mencium punggung tangan Bagas, tapi melirik sinis ke arah ibu mertuanya.

__ADS_1


"Udah, dong. Ibu dan Asya itu sama aja. Aku itu pulang dari kerja, capek. Seharian aku ada di luar rumah. Aku pulang untuk istirahat, bukannya malah mendengarkan pertengkaran kalian." Bagas berdiri dan kembali menyambar kuncinya. Dia pergi dengan wajah merah padam karena emosi.


"Ini semua gara-gara, Ibu," sungut Asya. Bu Siti melotot kesal bisa-bisanya dia disalahkan oleh menantunya yang dulu sangat dia banggakan.


__ADS_2