Hantu Itu Menyukai Aku

Hantu Itu Menyukai Aku
part.11


__ADS_3

Saat sedang mengobrol, Raihan melihat seperti ada yang memperhatikan dirinya. Benar saja ada seorang gadis yang memperhatikan dirinya dari dalam.


Tiba-tiba saja perut pak Ahmad terasa sakit, pak Ahmad memegangi perutnya.


"Nak Raihan, maaf bapak kedalam dulu ya. Ada panggilan alam, Kania kamu temani di sini dulu ya.?" Kata pak Ahmad memegangi perutnya sambil meringis.


"Iya pak, tidak apa-apa santai saja". Pak Ahmad pun tersenyum, lalu masuk kedalam.


Saat pak Ahmad masuk ke dalam, hanya tinggal Raihan dan Kania di teras depan.


Uussstt... Panggil Raihan dan Kania pun menoleh ke arah Raihan.


"Ada apa mas Raihan.?"


"Kamu punya adik perempuan ya.?" Kania mengangguk." Ow... Pantesan.?"


"Pantesan, maksudnya pantesan kenapa.?" Tanya Raihan kembali.


"Gak itu Barusan ada yang ngintip ngintip ke sini. Aku kira siapa.?"


"Ow... Iya dia adik ku satu satunya. Memang kamu pikir siapa mas, hantu.?" Kania terkekeh.


"Masa iya, ada hantu secantik seperti itu.? Hantu itu kan menyeramkan.?"


"Ada aja mas, hantu tuh macam-macam bentuk wajahnya. Ada yang cantik, ganteng, ya walaupun kebanyakan si menyeramkan."


" Kebanyak kan hantu' jelek dan menyeramkan. Kalau ada hantu yang cantik dan ganteng, seperti dia sedang menyamar tuh".


"Iih kenapa jadi ngomongin hantu si, ganti topik pembicaraan aja". Sergah Kania, dan Raihan pun tersenyum.


Saat itu juga Bu Ani datang dengan membawa secangkir kopi, dan juga cemilan di atas piring. Lalu di letakkan dalam atas meja di depan Raihan dan Kania.


Tak tak.... Suara bunyi piring di letakan di atas meja.


"Di minum nak.!"


"Iya Bu, trimakasih." Di angguki oleh Bu Ani.


Lalu Raihan pun menyeruput kopi nya di dalam cangkir, yang masih terlihat asap yang masih mengepul.


" Awas nak Raihan kopinya masih panas.?" Raihan mengangguk kan kepalanya. Dan Raihan pun tersenyum, Lal mengambil cangkir kopinya.


Sssruuup....Ssssrrruuuup....... Aaaaahhh.. Begitu lah Raihan menyeruput kopi buatan Bu Ani.


"Enak Bu, kopi buatan ibu." Raihan meletakkan cangkir kopinya di atas meja.


"Bisa saja kamu memujinya, kopi semuanya sama. Hanya saja itu kopi takaran untuk ayahnya Kania". Kata Bu Ani dengan tersenyum.

__ADS_1


"Tapi beneran enak loh Bu, kopi buatan ibu. Oooh iya ini kue buatan ibu juga .?" Bu Ani mengangguk kan kepalanya." Aku cobain ya, sepertinya enak".


"Coba saja nak Raihan, semoga kamu suka ya.?" Raihan tersenyum.


Lalu mengambil kue berbentuk seperti cincin.


"Enak Bu kue cincin nya. Ibu pintar ya bikin kue, kue nya terasa legit di mulut".


"Kamu itu bisa saja memuji dari tadi.?"


"Gak Bu, ini bukan memuji sekedar basa-basi. Kue buatan ibu memang enak".


"Makan lah nak". Di saat Raihan sedang menikmati kue buatan Bu Ani, pak Ahmad datang dan duduk bersama mereka.


" Di makan nak kue nya. Kue buatan ibu enak loh, kan tiap harinya ibu jualan nak. Jadi ini lah kue dagang ibu, buatan ibu sendiri".


" Ow ya, ibu hebat ya bisa bikin kue. Seenak ini.?" Dan mereka pun akhirnya saling berbincang.


Begitu pun juga Raihan, dia menikmati kue dan kopi buatan Bu Ani. Sedangkan kania memperhatikan ke akraban Raihan dengan keluarga nya. Padahal Raihan baru pertama kali datang, tapi sudah bisa akrab dengan ayah dan ibunya.


Cukup lama mereka saling berbincang, Raihan melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Raihan berniat Pamitan, karena merasa tak enak. Bertamu di malam hari, apalagi di rumah seorang gadi. Seperti Raihan merasa tidak enak.


" Maaf pak, Bu sebelumnya. Sudah malam juga, jadi sepertinya saya harus pamitan untuk pulang. Terima kasih Bu ini atas jamuan nya .


"Yasudah kalau nak Raihan ingin balik, hati hati di jalan. Jangan kapok ya main kesini, nanti main lagi.?"


"Pasti pak nanti saya main. Kalau begitu saya pamit ya pak". Raihan mencium tangan kedua orang tua nya Kania.


Lalu Raihan berjalan menuju mobilnya, dan di antar Kania sampai mobil terparkir.


"Mas Raihan hati hati, trimakasih sudah mengantar dan mau mampir ke rumah ku".


"Sama sama Kania, boleh kan kalau aku nanti main lagi kesini. Kamu tidak ada yang marahin kan kalau aku main kesini.?" Goda Raihan membuat Kania terkekeh.


"Siapa yang marah, tenang aja gak ada mas".


" Serius kah, apa boleh aku minta nomer hape mu..?" To the point Raihan.


Kania terkekeh mendengarnya, Kania pun mengangguk. Dan Raihan pun tersenyum." Sini hape nya mas Raihan, hape ku dalam tas". Raihan pun memberikan handphone nya ke Kania.


Raihan tersenyum saat Kania menulis kan nomor nya di handphone nya. Setelah selesai Kania memberikan handphone nya ke Raihan.


Setelah itu Raihan pun meninggalkan rumah Kania, untuk pulang. Setelah mobil Raihan tak terlihat Kania pun masuk kembali.


Sejak bertukaran no handphone, dari situ kedekatan Nia dan Raihan di mulai.


Begitu pun juga Zain, sosok hantu tampan itu pun juga mulai tertarik kepada Nia. Karena hari hari selalu bersama Kania.

__ADS_1


Tiga bulan sudah lamanya, Nia bekerja membantu Fitria. Dan Nia pun juga sekarang sudah mempunyai kendaraan sendiri. Nia tidak perlu lagi menaiki angkutan umum.


Ya selama Nia mempunyai motor sendiri, setiap pulang Nia slalu di temani oleh Zain. Nia slalu meminta Zain untuk menemani nya, kalau Nia sedang ingin jalan jalan dan suntuk di rumah. Untuk slalu menemaninya untuk sekedar mengobrol, tapi ada syaratnya. Zain harus menampakkan dirinya ke semua orang, Nia tidak mau kalau Nia di anggap orang gila nanti sama orang, karena bicara sendirian.


Suatu hari Nia sedang berada di toko, ia baru selesai melayani pembeli di toko bersama Dewi. Kania merasa perasaan nya tidak tenang, entah kenapa.?


Dewi pun yang melihat Nia gelisah bertanya. "Mba Nia kenapa ko dari tadi seharian, mba Nia beda ga kaya biasa nya kenapa.? Apa karena Ka Raihan ya.yang sedang berkunjung bertemu keluarga nya.?' Dewi meledek Kania.


Ya yang Dewi tau, hubungan Kania dan Raihan mulai dekat. Tapi di antara mereka hanya berteman saja, masih tahap pedekate.


"Apaan sih kamu Dewi, aku gak mikirin kesitu". Kata Kania membuat Dewi tersenyum.


Ketika Nia dan Dewi sedang bercerita. Tiba tiba handphone Nia berbunyi. Tidak ada nama, hanya nomor yang tak di kenal.


Awalnya Kania tak menghiraukan panggilan itu, namun nomor itu terus menghubungi nya kembali.


"hallo.."


"......." Tidak ada jawaban dari sana.


"hallo dengan siapa ini saya bicara? kalau tidak ada kepentingan saya tutup ya...?"


" Tunggu Nia, maaf ini aku Radit".


Mendengar nama Radit Nia Diam tak menjawab. Kania bagaikan tersambar petir di siang bolong, saat masalalu nya menghubungi nya kembali .


"Hallo, Nia kamu masih di situ kan. Nia ko kamu diam aja,Nia kamu tidak apa apa kan.?"


"Aaaah... Iya Radit, aku tidak apa apa" . Di sebrang sana tersenyum mendengar suaranya Kania.


Sedangkan Kania, dia merasa bingung ingin bicara apa.


" Nia bagaimana kabar kamu sekarang.?"


" Kabar aku juga baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya?"


"Kabar ku juga baik,aku kira kamu tidak ingin menjawab panggilan ku.?" Tidak ada jawaban dari Kania.


Cukup lama Nia diam karena bingung ingin bicara apa.


"Radit kamu tau nomor aku dari siapa?


"Aku minta nomor kamu dari Daffa, maaf ya Kania. Aku memaksa Daffa untuk ngasih nomor kamu".


" Hemmm .. Radit maaf aku lagi bekerja, tidak enak jika aku telponan di waktu kerja.?"


"Ow begitu ya, yasudah kalau begitu aku tutup telpon nya. Maaf ya Sudah mengganggu kamu". Panggilan pun terputus.

__ADS_1


Sedangkan di sebrang sana hanya Radit duduk dengan menatap foto seorang gadis, yang sedang di rangkul oleh dirinya. Senyuman mereka sama sama mengembang dan terlihat wajah bahagia dari mereka.


'Aku kangen kamu Kania, maafkan akan yang pernah menyakiti dan mengkhianati cinta kita. Karena kebodohan ku, membuat hubungan kita hancur seperti ini.'


__ADS_2