
Nia sebenarnya masih marah, tapi karena keadaan cacing di perut Nia yang Sudah berdemo. Dan mempora poranda isi di perutnya, jadi Kania mengundurkan niatnya untuk marah. Dan lebih mementingkan makhluk makhluk yang sedang berdemo di dalam perutnya.
Setelah selesai Zain mengajak Kania untuk pindag duduknya.
Zain terus menggenggam tangan Nia. Kini mereka sedang duduk di sebuah kursi panjang, dan Zain terus menatap wajah Nia.
" Kania jujur aku sebenarnya memang mau menghindar dari kamu. Dan jujur aku juga seperti kamu, aku butuh menyendiri untuk diriku sendiri. Kania aku mau tanya perasaan kamu sama aku sekarang bagaimana.?"
"Kenapa kamu bicara seperti itu Zain". Kania pun juga menatap mata Zain, mencari tau akan pertanyaan nya itu.
"Kania jika suatu saat nanti aku pergi dari kamu untuk selamanya bagaimana.?"
"Kenapa kamu bilang gitu Zain, apa kamu akan pergi ke asal kamu, dan meninggalkan aku begitu cepat.?"
Di sana Kania mulai tak nyaman akan pertanyaan nya itu.
Zain nampak berpikir..
"Emm... Aku hanya bertanya, jika nanti aku pergi dan kembali dengan keluarga ku. Bagaimana perasaanmu Kania".
"Apa kamu sudah menemukan Saudara-saudara kamu Zain. kalau memang kamu sudah menemukan keluarga kamu kembali, ya sudah gak apa apa. Kamu boleh pergi, dan aku akan berusaha belajar untuk melupakan kamu." ada rasa sesak yang Kania rasakan.
Nia melepaskan genggaman Zain, mencoba meninggalkan Zain. Namun Zain mencegah Nia agar tidak pergi...
" Nia aku mohon jangan marah dulu, aku mau jelasin ke kamu.? " Sambil menggenggam tangan Kania.
" Aku harus bagaimana Zain. Kalau memang kamu sudah bertemu Dengan saudara-saudara kamu, aku tidak bisa mengelak. Tapi sepertinya ada kebohongan yang kamu sembunyi kan dari aku.? " Kania menatap dengan tatapan penuh selidik.
" Yasudah, baik aku jujur. Sebenarnya aku kemarin memang agak marah. Jujur aku gak suka kamu Deket sama Raihan. Apa lagi dia akrab banget sama kamu dan keluarga kamu."
" Zain kamu cemburu..?" Nia menatap lekat ke arah mata Zain.
Kania dapat melihat ada kecemburuan di mata Zain..
" Aku gak Tau apa itu namanya, yang jelas aku gak suka aja sama kedekatan dia sama kamu kemarin.?" Zain mengalihkan pandangannya ke arah lain, Karena Kania terus menatap Zain.
" Zain bukan nya kamu yang bilang, jangan ada perasaan terlalu dalam untuk hubungan kita ini. Terus kenapa kamu sampai memiliki perasaan lebih jika nantinya kita akan berpisah.
" Aku tau Kania, kalau kita nantinya akan berpisah. Dan aku juga berusaha banget buat ngejaga perasaan ku, untuk tidak mencintai kamu terlalu dalam. Tapi aku gak bisa bohong, semakin lama aku semakin mencintai kamu Nia.?"
Kania merasa tersentak kaget, saat mendengar kejujuran dari hantu yang tampan. Dan saat ini berada di samping nya mengatakan kejujurannya.
Nia yang mendengar kejujuran dari Zain hanya tersenyum.. Sedangkan Zain yang melihat Nia hanya tersenyum. Karena habis mendengar kejujuran nya, Zain merasa sedikit kesal oleh Kania.
__ADS_1
" Nia kamu kenapa cuma tersenyum, memang ada yang lucu sama apa yang aku omongin ke kamu.?" Nia hanya menggeleng.
"Terus kenapa tersenyum seperti itu, udah lah lupain aja apa yang udah aku omongin ke kamu.!"
Zain coba menghindar dari Nia, tapi Nia memegang tangan Zain..
"Cie cie ada yang marah nih kaya nya .
Memang hantu bisa ngambek juga ya.?" Kania tersenyum ngeledek ke Zain.
Zain baru tersadar kalau dia sedang di kerjain oleh Kania.
Zain berusaha buat ngerjain Kania balik. Zain Mentap Kania dengan ekspresi marah. ke dua tangan nya Zain berada di pinggang nya, Lalu Zain menatap Nia dengan tatapan matanya yang tajam..
Nia yang melihat Zain menatap mata dengan tajam. Nia pun berhenti tertawa.
"Zain jangan marah donk. Aku kan cuma bercanda.?" Kata Kania sambil memegang tangan nya Zain, sambil menggoyang goyang kan tangan Zain.
Layak nya seperti anak kecil, yang merengek minta jajan.
Zain masih dengan mode diam nya ingin sekali Zain tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Nia....
" Zain kamu jangan marah donk.?" Sambil memanyun kan bibir nya. " Zain sebenarnya selama kamu gak pernah nampak, aku tuh ngerasa sedikit ada yang kurang akan ketidak hadiran kamu. Sebenarnya aku, aku, ju, juga kangen sama kamu Zain." ucap Kania dengan terbata bata, karena Kania sangat malu mengutarakan rasa rindu dengan Zain.
Dan ketika di hadapan Zain dan Raihan Kania menjadi wanita yang labil. Kania menyukai dua laki-laki yang membuat Kania sendiri bingung harus memilih yang mana. Zain sendiri tau kalau Kania menyukai Raihan, tapi kadang Zain suka cemburu. Sedangkan Raihan dia tidak tau kalau ada Zain yang sudah membuat dirinya nyaman.
(pasti tau kan kalau orang udah malu pasti jadi salah tingkah dengan pipi yang udah kaya udang rebus .)
Zain yang mendengar Nia mengucapkan kalau Nia kangen juga sama diri nya.dan melihat tingkah Nia yang seperti itu tersenyum bahagia... ternyata Nia juga sama kangen sama dia .
' Ternyata Kania juga sama mempunyai rasa ke aku. Jujur selama aku gak pernah lihat dia, aku pun juga merasakan rindu pada gadis ini'. Ucap Zain dalam hati nya sambil memandang belakang punggung Kania.
Lalu Zain membalikkan badan Nia agar menghadap dengan nya. Zain menatap wajah Kania yang terlihat manis, dan cantik.
" kamu serius, sama ucapan kamu, kalau kamu juga kangen sama aku..?" Nia pun mengangguk.
Zain menatap wajah Nia lekat lekat.
"Coba katakan aku mau dengar dari bibir kamu, bukan dari anggukan kepala kamu.!"
"Zain aku kangen sama kamu, kamu nya aja jahat banget sama aku. Kamu harus nya bicara sama aku, jangan menghindar dari aku begitu aja. Zain aku masih punya perasaan dan pastinya aku bakal jelasin ke Kamu. Tapi nyatanya kamu nyebelin banget, kamu sudah membuat aku kecewa, kamu jahat Zain "..
Kania melupakan kekesalan dengan cara memukul mukul dada Zain. Zain hanya menanggapi nya dengan senyuman. Dan Zain pun membawa Kania ke dalam dekapan nya. Sampai Kania sedikit tenang Zain baru melepaskan Kania.
__ADS_1
" Aku senang kamu rindu aku, Padahal aku ini hantu.?" Sambil memencet hidung Kania.
" Sakit tau gak". Sambil mengusap usap hidung nya. "Sudah tau hantu tapi malah jatuh cinta sama manusia.?"
"kamu baru tau ya, ada sosok hantu yang menyukai manusia. Ada bahkan sampai kemana pun manusia itu pergi, hantu itu akan mengikuti manusia. Entah itu hantu nya wanita atau pria kalau dia menyukai sosok manusia. Hantu itu akan mengikutinya, entah itu hantu nya laki laki atau wanita. "
" Masa sih Zain.? " Zain pun mengangguk kan kepalanya.
" Ada sosok jin yang menyukai manusi, tiap malam dia akan menemani wanita itu di kamarnya. Ada lagi wanita yang harus menjalin hubungan dengan sosok jin, untuk apa.? Hanya untuk mencari kekayaan. Bahkan ada yang rela menyerahkan tubuhnya untuk para jin tersebut."
Kania mendengar penjelasan Zain jadi terasa merinding, dan takut.
" Cukup, aku takut Zain dengar nya. Zain tapi kamu gak seperti itu kan.? Kamu kan sedikit me... Sum sebagai hantu ". Kania memanyun kan bibir nya.
" Ya gak dong sayang, aku bukan sosok hantu seperti itu. Aku jin juga tempat asal ku bukan di sini, dan aku juga mempunyai aturan sendiri. Itu hanya hantu hantu rendah, yang di manfaatkan oleh tuan nya. Ku bukan makhluk jin yang seperti itu, justru aku akan melindungi tuan ku sendiri".
"Yasudah jangan di lanjutin, sekarang aku mau pulang.?"
"Aku antar ya.?" Zain menawarkan mengantar Nia pulang
Nia menatap wajah Zain...
"kamu bercanda Zain...?" Zain pun menggeleng..
"Aku gak bercanda aku serius, aku ingin antar kamu pulang.?"
"Tidak usah Zain, aku pulang sendiri aja". Nia menolak
"kenapa, kamu malu diantar pulang sama aku.?Kenapa kalau sama cowok itu kamu mau, tak menolak.?"
" Zain kamu ngomong apa si, yaudah aku mau kamu antar pulang". Kania sudah malas berdebat dengan Zain.
Zain pun tersenyum, lalu mereka berjalan menuju motornya Kania terparkir. Dan setelah itu mereka pun pulang dengan Zain yang membonceng Kania.
Zain terus mengendarai motor Nia sampai di depan rumah Nia...
Rumah Kania terlihat sepi, dan saat Kania sampai depan teras. Kedua orang tua Kania membuka pintu nya.
Ayah dan ibu Kania nampak heran Kania membawa cowok kerumahnya selain Raihan.
Kania mencium tangan orang tuanya, begitu pun juga Zain.
"Ayah, kenalin ini Zain. Zain ini ayah dan ibu aku.?" Ada rasa bergetar saat memperkenalkan Zain kepada orang tuanya.
__ADS_1
Zain mencium punggung tangan kedua orang tua Kania.