
Dan mereka pun masuk ke dalam mobil. Fitria mengendarai mobilnya keluar halaman rumah Nia. Melaju kendaraan nya meninggalkan rumah Kania. Ke tempat yang Kania tuju.
"Sebenarnya elo mau ngapain ke pantai bukan nya lo nggak suka sama yang namanya pantai ya." Tanya Fitria dengan pandangan yang masih fokus akan kendaraan yang dia bawa. Dan sesekali melirik ke arah sahabatnya.
Saat ini Fitria gak ngerti sahabat nya itu mau ngapain.
" Gue memang nggak suka sama pantai. Tapi gue ingin ngeluarin semua apa yang bikin dada gue nyesek Fit. Agar perasaan gue lega aja." Jawab Kania.
Sebenarnya Kania baru mulai menyukai pantai sejak Zain mengajaknya. Namun kini ia mulai tidak menyukai pantai kembali, Semua itu karena Zain.
"Yaudah Lo keluar kan uneg-uneg Lo nanti. Tapi habis itu Lo jangan inget inget lagi sama yang nama nya Zain . Dia juga nggak baik buat Lo, dia beda alam Nia. Gue bilang gini karena gue sahabat Lo dan gue nggak mau Lo kenapa kenapa. Dan Lo jangan pernah liat ke belakang lagi. Karena semakin Lo liat ke belakang, elo semakin sulit untuk melupakan masa lalu. Yang ada cuma bikin Lo cape doank Nia. Yang ada Lo cuma ngerasain trauma, kehilangan dan kenangan yang terus berputar-putar di kepala Lo membuat elo keinget terus menerus. Sekarang Lo liat ke depan aja dan jadikan itu semangat Lo. Agar Lo bisa menemukan masa depan Lo. Nggak kasian sama keluarga Lo." Fitria menasehati Kania dengan hati hati. Takut Kania marah.
"Iya Fit makasih ya nasehatnya. Sebenarnya gue juga udah mikir begitu Fit. Gue sadar dari awal pun gue sadar gue juga salah. Ya juga ngejalanin hubungan juga ya sekedar ngejalanin hubungan yang sewajarnya. Gue juga tau kalau dia itu bukan manusia." Kania pun membuang nafasnya.
" Haaaaaah.... Dan Lo tau Fit, gue juga udah bilang sama Raihan juga. kalau gue membuka hati gue untuk dia, Gue juga nggak mau buat pacaran terlalu lama. Bahkan gue senang jika Raihan ingin serius sama gue. Waktu dia bilang ke bokap gue. Lo tau gue juga ingin punya kehidupan untuk masa depan gue Fit. Tapi pas sejak gue terakhir di rumah sakit dia ketemu Radit. Dari situ ekspresinya dan sikap nya berubah ke gue. Jadi lebih cuek gitu gue nggak ngerti sampai dia bilang dia itu si tempat keluarganya. Pas gue tanya Dewi kata nya di sering ko ketemu Raihan. Sudah lah gue juga nggak mau mengharapkan sesuatu yang nggak jelas." Kata kania menceritakan tentang perubahan sikapnya Raihan.
"Terus setelah ini Lo mau ngapain ?" Tanya Fitria lagi yang sedang fokus menyetir.
"Paling gue minta cuti sama elo untuk tenangin diri gue dulu. Gue mau ke kampung nyokap lah" Jawab Kania.
" Ooow.... Ya sudah kalau Lo mau ke kampung nyokap Lo boleh aja. Tapi bukan nya Lo pernah bilang ya di kampung nyokap Lo ada cowok pengen minta di jodohkan sama Lo ya Nia.. Elo mau kalau di jodohkan sama cowok yang dari kampung nyokap Lo." Tanya Fitria dengan sedikit terkekeh.
__ADS_1
"Ya mau gimana lagi Fit. Kata orang tua dulu Kalau cewek sudah di lamar cowok, jangan sampai di tolak PAK MALI. Ya mau nggak mau, lagian dia juga bukan orang lain dan bukan orang jahat. Dia Orang baik kata nyokap gue. Katanya masih bagian kerabat nyokap. " Jawab Kania.
Fitria hanya mengangguk angguk saja. Sebenarnya Fitria sengaja merekam pembicaraan mereka buat di kirim ke Raihan.
Tanpa di sadari Kania dan Fitria sudah sampai tempat yang Kania tuju. Fitria memarkirkan mobilnya nya. Dan berjalan bersama Kania. Mereka terus melangkah.
" Mau ke mana si Nia?"Tanya Fitria yang berjalan di sampingnya.
Kania hanya tersenyum" Sabar dong Fit. Tuh gue mau kesitu." Kania menunjuk ke arah batu besar. Yang berada di tepi pantai.
Fitria mengikuti arah jari telunjuk tangan Kania. Kania menunjuk ke arah batu besar yang berada di tepi pantai.
"Gila Lo Kania . Elo mau ke situ mau ngapain Coba. Enggak enggak gue nggak ngasih kalau elo kesitu." Fitria takut kalau Kania itu mau loncat.
"Hahaha lagian elo mau naek kesitu segala. Lo kan banyak masalah ya gue nggak salah donk kalau gue mikir kesitu. Elo nggak usah naik naik dah elo kan habis sakit di sini aja ya". Jawab Fitria dengan cengengesan.
"Dasar lo, ywdh iya mksh udah perhatian ke gue.."Kata Kania.
Kania menatap deburan ombak. Dada Kania terasa sesak.
" ZAin aku harap kamu bahagia, dan semoga aku bisa melupakan kamu. Dan bisa memulai kehidupan ku yang normal ini. Hiks...Hiikss..." Kania menangis.
__ADS_1
Lalu Kania menarik nafasnya dalam-dalam dan Kania teriak .
"Raaaaiiihaaan kaaamuuu jaaahaaatt kaaamuu pemmbohoong.... Aaaaaaaaaaaaa..... Hiks...Hiks...Hiks......." Lalu Kania pun duduk di pasir dengan menundukkan kepalanya.
"Kenapa di saat semuanya kembali normal, kamu malah menjauh. Kenapa kamu memberikan harapan palsu Rai, di saat hati ini terbuka kembali. Kamu malah menjauh." Kania pun menangis.
Kania merasa dirinya saat ini begitu rapuh. Sudah di tinggalkan Zain, di jauhkan Raihan. Kania juga Merasa bersalah kepada kedua orang tuanya. Memang Kania merasa bersalah kepada Raihan karena sudah memberi harapan, dan berbohong selain Raihan ada Zain.
Tapi tak mungkin ia ceritakan karena Zain itu hantu. Biasa bisa buat keluarga nya kepikiran. Karena dirinya tidak pernah berharap hubungan nya dengan Zain berjalan lama dan serius. Sebenarnya juga Kania mempunyai rasa kepada Raihan, Karena Raihan laki laki baik bagi Kania.
Tapi sekarang dirinya tak mau berharap kepada Raihan. Jika memang Raihan miliknya pasti akan datang. Tetapi jika Raihan bukan miliknya Raihan pasti akan menjauh darinya.
Kania merasa jika di sampingnya seperti ada seseorang orang yang duduk di sampingnya. Kania pun berhenti menangis dan menoleh kesamping. Kania pikir itu adalah Fitria, namu saat Kania menoleh yang duduk di sampingnya adalah Raihan.
Kania pun mengusap air matanya.
"Raihan ngapain kamu disini, tau dari mana aku di sini?" Tanya Kania tanpa ekspresi.
Kania pun mencari Fitria, di sana sudah ada Daffa. Lalu Kania pun ingin menghindar dari Raihan, namu tangan Kania di tahan oleh Raihan. Hingga Kania duduk kembali di dekat Raihan.
Kania hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain tanpa suara dan tanpa melihat Raihan sama sekali. Dan Raihan melihat Fitria dan Daffa sudah tidak ada. Mereka memang mengerti kalau Raihan butuh waktu berdua dengan Kania.
__ADS_1
Raihan masih menggenggam tangan Kania, dan sebenarnya Raihan juga merasa bersalah kepada Kania. Bukan nya bertanya tapi dirinya malah menghindar dari diri Kania. Dan sebenarnya sejak baru sampai di parkiran, di pikiran Raihan hanya mencari di mana Kania dan Fitria berada.