Hantu Itu Menyukai Aku

Hantu Itu Menyukai Aku
part.26


__ADS_3

Sedangkan Zain dia hanya diam tanpa ekspresi apapun melihat kedekatan Kania dan juga Raihan.


Kania tau Zain pasti marah, tapi Kania bingung menjelaskan nya untuk saat ini.


Setelah sampai toko,Raihan pun berpamitan. " Kania aku balik ya, mau ke Cafe. Kasian Adam dan Reza pasti mereka sudah sampai di sana.?"


"Yasudah mas Raihan, Trimakasih telah mengantarkan aku sampai sini.?"


"Iya sama-sama Nia. Yasudah kalau begitu aku pamit, kamu yang semangat kerjanya." Kania pun mengangguk.


"Hei kalian berdua, gue pamit ya mau ke Cafe.?"


"Iya mas Raihan, lagian masih pagi udah ngapelin karyawan orang.?" Fitria yang bicara seperti itu hanya meledek, Dewi pun hanya bisa tersenyum.


"Suka suka gue donk, kan ga ada bacaan di larang deketin Nia. Berarti gue ga salah kan.?"


Nia yang mendengar hanya tersenyum kecut, karena Zain terus memperhatikan.


Nia jadi bingung harus bagaimana..


Ttriiiingg... Lalu Zain menghilang dari hadapan Nia, Kania pun gak bisa berbuat apa apa. Hanya bisa pasrah karena Zain pasti ngambek.


Kini Raihan pun sudah kembali ke cafe nya. Di toko hanya tinggal Kania, Dewi dan Fitria. Mereka sedang melayani pembeli.


****


waktu terus berjalan, sampai kini sudah menunjukkan waktu pulang. Kania seharian ini tidak melihat Zain, sama sekali.


'Zain kemana ya, ko seharian gak terlihat.? Apa Zain marah ya sama aku, ko hantu seneng banget ngambek." Nia nampak kesal, yang hanya bisa di ucapkan dalam hati.


Tiba tiba suara Fitria mengagetkan Kania yang sedang duduk memikirkan Zain.


" Nia kaki Lo gimana, apa masih sakit.? "Fitria bertanya


" Iya masih sedikit Fit, kenapa memang nya?"


" Kamu pulang sama siapa.? "


Tiba-tiba saja ada yang menjawab dari luar toko .


" Nia pulang sama gue".


"Lo ngapain Lo kesini .?"


"Jemput Nia pulang, nyokap nya nyuruh gue mampir ke rumahnya.?"


"Widiih .. Dapet lampu hijau nih, dari ortu Nia. Hanya tinggal ortu Lo Rai, jadi dah di halalin kania.?"


Fitria pun meledek Nia dan Raihan, Dewi yang mendengar nya ikut terkekeh...


Nia hanya tersenyum, menghadapi ledekan temannya.

__ADS_1


Kania, Dewi dan Fitria. Kini mereka sedang membereskan barang untuk tutup toko. Dengan di bantu Raihan, kini toko pun sudah tertutup rapat dan terkunci.


Nia dan Raihan pun sudah sampai di kediaman rumah Nia. Ayah dan ibu Nia pun sudah menunggu nya....


Kini Raihan sedang berbincang dengan ayahnya Kania.


" Mas Raihan, maaf aku tinggal ke dalam sebentar. Aku mau bersih-bersih dan ganti baju.?" Raihan mengangguk kan kepala sambil tersenyum..


Ibu yang sedang di dapur, untuk membuat minuman.. Aulia pun menghampiri ibu nya.


"Minuman buat siap Bu, di luar ada tamu ya."


"Itu ada Ka Raihan di luar, lagi ngobrol sama ayah luar..." Jawab bu Ani sedang mengaduk dua cangkir kopi.


"Seperti nya ibu udah ngasih kode tuh ke ka Raihan ya.?" sambil tersenyum..


" Bukan seperti itu Lia, kalau ibu lihat, sepertinya Raihan anak baik. Ibu tidak bisa memaksa Kania harus dengan Raihan atau siapa siapa aja. Itu tergantung dari Kakak kamu, Ibu hanya bisa mendoakan untuk anak anak ibu". Bu Ani membuang nafasnya yang terasa berat. " Jika nantinya Kakak kamu berjodoh sama Raihan, semoga saja dia pria baik. Tidak seperti Radit, yang membuat anak ibu sedih."


"Bu Ka Radit juga baik ko, cuma cewek itu aja yang gak baik. Ibu gak inget kalau ka Radit itu umyang sudah ngerubah ka Nia dari pendiam jadi ceria. Ka Nia itu dulu kan pendiam banget Bu, inget kan ka Radit nolongin kakak dari laut saat ka Nia terjatuh dari batu tinggi. Dan bukan hanya itu, aku juga tau ko ka Radit, selama ini suka nyariin info tentang KA Nia ..? "


Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka di dengar oleh Kania. Nia bersembunyi di samping tembok, Karena saat ingin keluar kamar ibunya dan adiknya sedang bercerita.


'Sepertinya aku harus benar-benar melupakan semua tentang kamu Dit. Raihan memang pria baik, tapi hubungan ku dengan Zain. Astaga aku sepertinya merasa bersalah dengan Zain dan juga Raihan. Pertama kamu Raihan, aku seperti nya merasa bersalah sama kamu.' Kania hanya dapat menyimpan kata-kata itu dalam hati nya.


"Ibu minuman yang buat Raihan apa sudah jadi.? Sini aku bawa ke luar untuk ayah dan Raihan kan.?"


Nia sengaja keluar dari kamarnya setelah ibu dan adiknya mengobrol tentang Radit.


Aulia sebenarnya kaget saat tau kakaknya tiba-tiba di belakangnya.


Lalu ibu,Nia ,dan Lia ke ruang tamu. Untuk kumpul dengan ayah nya. Dan mereka pun semua makan malam bersama.


Setelah selesai makan malam Raihan, dengan keluarga Nia selesai. Raihan melihat jam sudah menunjukkan malam hari, Raihan pun berpamitan untuk pulang.


" Bapak, ibu , Kania. Aku pamit dulu mau pulang udah malem juga ga enak?"


"Iya Raihan, trimakasih ya kamu sudah mau mampir dan makan masakan ibu.?"


"Ya ampun bu, harus nya Raihan yang trimakasih sama ibu udah di masakin makanan segala. Dan masakan nya enak lagi Bu, boleh kan nanti lagi.?" Tanya Raihan dengan asak, dan terkekeh.


"Boleh nak, nanti ibu masakin buat kamu."


"Wah beneran bu, padahal saya hanya bercanda loh". Semuanya pun hanya tersenyum.


Raihan menoleh ke arah adik nya Nia .


" Hei bocil, ka Raihan pulang ya." Raihan pun sambil tersenyum meledek Lia.


Lia yang nggak suka di panggil bocil nampak kesal, dan dari raut wajah pun terlihat jelas. Kalau Aulia kesal dengan panggilan Raihan.


"Iiih... Apaan si ka, bocil, bocil. Memang nya aku masih kecil apa, aku tuh udah Sma. Bukan anak kecil lagi, enak aja manggil aku bocil". Protes Lia sambil memanyunkan bibirnya..

__ADS_1


Raihan pun terkekeh melihatnya, begitu pun Kania dan orang tua. Ya hanya menggeleng kan kepalanya saja.


"Iya dech, maaf. Kalau begitu kakak pamit ya Aulia yang manis". Raihan menggoda Lia dengan mengedipkan mata sebelahnya ..


Aulia pun tersenyum, namun berlagak jutek menanggapi nya.


"Iiih.. Apa sih ka, genit banget Sih Ka Raihan tuh ...?"


Raihan pun hanya tersenyum menanggapi ocehan Lia.. karena raihan anak Satu satunya, jadi dia tidak punya adik ataupun kakak. Jadi Raihan menganggap Lia seperti adiknya...


Raihan mencium tangan ke dua orang tua Nia, untuk pamitan. Lalu Nia mengantar Raihan sampai halaman...


"Nia terimakasih ya, tau ga aku seneng banget bisa Deket dan kumpul bareng keluarga kamu.? kamu tau kan keluarga ku jauh, dan keluarga ku juga sibuk. Jadi aku kalau kangen ya paling ke tempat nenek ku, agar aku bisa ketemu keluarga ku. Dan jujur aku seneng kenal kamu dan keluarga kamu."


" Iya Raihan sama-sama, kalau kamu mau main lagi juga gak apa apa ko.?"


" Siap bos. Nia nanti pas kamu libur atau kamu ada waktu .kita jalan yuk....kita berdua aja, aku dan kamu. Satu jagi jangan ajak temen kamu.! "


Nia nampak berpikir, lalu Nia pun mengangguk.


"Boleh, memang mau kemana.?"


"Tujuannya kemana itu rahasia, nanti juga kamu bakalan tau". Nia pun hanya tersenyum..."Ya sudah aku balik ya, kamu tidur nya jangan malam malam..


" Iya Raihan, Dan kamu juga hati hati ya di jalan, jangan ngebut."


Raihan pun seraya memberikan hormat ke Kania dan di sertai senyuman." Siap bos, Laksankan".


Raihan merasa senang karena Nia sepertinya perhatian dengan nya. Padahal memang begitu sikap Nia sama semua orang, termasuk orang di sekitar Nia.


Setelah Raihan pulang, Kania masuk ke dalam menuju kamarnya.


"Zain kamu di mana.?" Dengan memegang kalung nya, di usap kalung itu. Namun Zain tak nampak wujudnya.


"Zain kamu di mana, apa kamu marah sama aku.? Kamu seharian loh ga nampak di depan aku".


Nia nampak sedih..karna Zain tak menampakkan dirinya di hadapan Nia. Nia pun mencoba untuk tidur, dan akhirnya Nia pun tertidur nyenyak. Tanpa mimpi buruk, atau mimpi indah .


Zain pun tak nampak juga dalam mimpinya juga .


Waktu terus berjalan, hingga seminggu lama nya Kania tak bertemu dengan Zain. Zain tak menampakkan dirinya di Hadapan Nia. Dan Nia seperti ada yang hilang dari dirinya, membuat Kania pasrah akan kehadiran Zain.


Hingga suatu ketika Kania libur kerja, Nia mengendarai motornya menuju taman. Ya nia biasa menyendiri, sambil melihat pemandangan sore dimana sang matahari nampak malu malu menampakkan sinarnya.


Suasana sore di mana warga sekitar menikmati suasana di taman saat sore hari. Ada yang sedang menikmati jajanan, jalan jalan sore, ada yang sedang duduk bersama pasangan masing-masing. Di sana banyak para penjual dan pembeli, ada juga para pengamen yang sedang menyanyikan lagu. Kania yang sedang sendiri hanya tersenyum getir, ya Kania meratapi nasib nya sendiri.


"Enak ya pada punya pasangan, sedangkan aku sendiri apa". Kania. Bergumam seorang diri. "Ada sih Zain, tapi saat ini dia kemana aja aku gak tau.


Sebenar nya aneh juga, pacaran sama hantu labil sama dia, bilang tidak ingin punya rasa lebih. Apa salah ya aku dekat dengan keduanya nya, kan Zain juga sudah bilang seperti itu aku boleh dekat dengan Raihan. Kenapa jadi dia ngambek kaya gini. Jujur sih aku nyaman sama kedua pria itu, Zain dan Raihan mereka pria baik. Karena mereka sedikit aku bisa melupakan tentang Radit."


Haaa.... Kania menatap langit yang mulai sedikit menggelap, karena cahaya matahari pun sudah mengumpat di balik gelapnya malam.

__ADS_1


Jujur aku nyaman dengan hantu itu, tetapi cepat atau lambat dia juga akan meninggalkan aku. Dan aku tidak ingin berlarut-larut dalam sedih ku, dan membuat keluargaku khawatir dengan ku.


Hingga tiba tiba, ada seseorang duduk di sebelah Nia. Dan orang itu tersenyum ke arah Nia ..


__ADS_2